Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » Presiden Jokowi Sang Sutradara Drama Politik
Politik

Presiden Jokowi Sang Sutradara Drama Politik

RedaksiBy RedaksiNovember 8, 20231 Komentar4 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Presiden Joko Widodo
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Saat memberikan sambutan dalam perayaan hari ulang tahun ke-59 Partai Golkar pada Senin, 6 November 2023 di Jakarta, Presiden Joko Widodo mengatakan kondisi politik saat ini penuh dengan drama. Pertarungan demokrasi seharusnya diisi dengan kompetisi adu gagasan, bukan adu perasaan.

“Karena saya melihat akhir-akhir ini yang kita lihat adalah terlalu banyak dramanya, terlalu banyak drakornya, terlalu banyak sinetronnya, sinetron yang kita lihat. Mestinya kan pertarungan gagasan, mestinya kan pertarungan ide, bukan pertarungan perasaan. Kalau yang terjadi pertarungan perasaan repot semua kita. Tidak usah saya teruskan nanti kemana-mana,” kata Presiden.

Presiden Joko Widodo

Jika itu sebuah drama, maka siapa sesungguhnya sutradaranya. Pakar Komunikasi Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Nyarwi Ahmad seperti agak heran dengan pernyataan Presiden Joko Widodo tersebut. Alasannya, saat ini publik telah mengetahui dengan terang benderang siapa sesungguhnya berada di balik drama tersebut.

Bahkan, bagi sebagian besar masyarakat yang berpikiran kritis melihat presiden berada di dalam drama itu, dan menjadi bagian penting. Malah beberapa pihak mensinyalir, salah satu sutradara di balik drama itu adalah presiden.” kata Nyarwi melalui sambungan telepon hari ini (7/11).

Drama dimulai saat desas desus rencana Gibran maju sebagai Cawapres. Kemudian muncul gugatan batas usia calon presiden dan calon wakil presiden.  Muncul pula kategori sempalan yakni pernah menjadi pejabat daerah..

“Kenapa politik itu menjadi drama, dramaturgi, panggung pertunjukan, karena faktanya publik disuguhkan selama beberapa minggu terakhir drama yang luar biasa, soal pencawapresan Gibran misalnya. Belum lagi soal drama di MK, putusan MK yang dianggap buka  jalan Gibran.” jelas Nyarwi.

Hasil survei

Berdasarkan hasil survei terkini dari Charta Politika, mayoritas publik menganggap Jokowi ikut terlibat dalam putusan MK. Hal ini menunjukkan bahwa publik menyadari ‘kepentingan berlapis’ Presiden Jokowi. “Bahwa keberadaan Presiden Jokowi sebagai individu, posisinya di PDIP sebagai petugas partai, kemudian terdengar pula rumor tentang peran dia, keberadaan dia dalam pilpres. Itu semua menjadi drama,” ujar Nyarwi.

BACA JUGA:  Konsultan Politik Jangan Sembunyi di Balik Lembaga Survei

Daripada drama, presiden menyatakan, lebih baik kita menunjukkan demokrasi yang berkualitas.  Mestinya pertarungan gagasan, pertarungan ide, bukan pertarungan perasaan. ”Jokowi sebagai presiden menjadi sangat sentral dalam politik hari ini. Ingin demokrasi berkualitas, maka perlu adanya leadership untuk mengawalnya agar demokrasi kita naik kelas, bukan cuma ritual lima tahunan, “ jelas Nyarwi.

Demokrasi yang berkualitas juga mengedepankan kepentingan rakyat, prinsip trias politica, bukan elit. Nyarwi mencontohkan, tidak semua kebijakan publik dalam menghasilkan UU sepenuhnya berbasis kehendak rakyat, misalnya UU Cipta Kerja yang banyak mendapat kritik namun mendapat dukungan sepenuhnya dari elit pemerintahan.

Hancurnya Demokrasi Rasional

Peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional Pro. Firman Noor menilai krisis konstitusi yang terjadi saat ini akan membawa dampak serius pada kehidupan demokrasi ke depan. Hal itu terkait dengan Mahkamah Konstitusi saat ini tengah disorot atas Putusan MK 90/PUU-XXI/2023 lantaran dinilai sarat dengan nepotisme. Presiden Joko Widodo memiliki andil dalam putusan tersebut.

Ditambah lagi Ketua Mahkamah Konstitusi, Anwar Usman memiliki hubungan kerabat dengan Jokowi. Dengan demikian muncul penilaian putusan itu untuk memuluskan langkah Gibran Rakabuming Raka sebagai kontestan di Pilpres 2024.

Firman Noor mengungkapkan dampak mengerikan dari kondisi saat ini ketika dibiarkan berlarut adalah hancurnya demokrasi rasional. Padahal, demokrasi dibangun berlandaskan rasionalitas, bukan ikatan kekeluargaan atau keturunan. “Artinya demokrasi ini, pertimbangannya bukan ideologis, bukan DNA dia, tapi rasionalitas,” tambahnya.

Demokrasi rasional akan memungkinan seseorang yang berpengalaman, dan teruji untuk maju sebagai pemimpin. Sebaliknya, hal itu tidak terjadi pada Indonesia jika kondisi saat ini dibiarkan berlarut.

“Kalau seseorang secara rasional dari sisi pengalaman lebih banyak, kemampuan lebih baik lebih teruji tapi harus kalau dari anak kemarin sore simply (hanya karena) punya DNA yang sama dengan penguasa, itu demokrasi apa? Saya tidak mengerti itu,” terangnya.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (13): Kayuh Hingga di Ketinggian 5.013 Meter

Harus bersama

Demokrasi membuat semua orang terlibat dalam proses bernegara dari hulu hingga hilir. Proses demokrasi seharusnya dilakukan bersama bersama rakyat atau pemilih. Pemilih diajak untuk ikut serta dalam penentuan kandidat.

“Seperti pelanggan diberikan daftar menunya. Jadi boleh memilih, tapi proses memilihnya sudah ditentukan sama dapur yang eksklusif. Demokrasi tidak boleh seperti itu, demokrasi harus terbuka. Pelibatannya sejak awal,” tandasnya.

Yang terjadi di Indonesia adalah ada segelintir elite yang bekerja atas dasar kepentingan mereka tanpa mempertimbangkan pilihan masyarakat banyak, tanpa mempertimbangkan kehidupan politik di masa depan  “Yang terjadi adalah ada proses yang nir-partisipasi dalam penentuan pengkandidasian orang-orang yang berhak maju atau tidak. Penentunya di sini, sayangnya adalah ikatan keluarga. Porsi ikatan keluarga lebih besar, bukan pertimbangan lain-lain,” pungkasnya. (**)

Editor: RED

Jangan lewatkan!

Tergerusnya Elektabilitas Prabowo-Gibran Bukti Rakyat Kecewa

Redaksi
Author: Redaksi

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Kritik Megawati Menjadi Peringatan Dini bagi Masyarakat

November 29, 2023

Pro Desa Jadi Identitas Politik Pasangan Ganjar-Mahfud

November 29, 2023

Mahfud Janji Tingkatkan Kesejahteraan Guru Ngaji

November 28, 2023

Jangan Ragukan Komitmen Ganjar Bangun Desa

November 28, 2023

Netralitas Pemilu Butuh Pengawasan Masyarakat Sipil

November 27, 2023

1 Komentar

  1. Pingback: Pakar Ingatkan Presiden Jokowi Soal Netralitas dalam Pemilu 2024 - blalak.com

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.