Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » Saat Musik Mesir Kuno Hentakan Swiss
Perjalanan

Saat Musik Mesir Kuno Hentakan Swiss

Stefanus WoloBy Stefanus WoloAgustus 31, 2021Tidak ada komentar6 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Foto oleh Romo Stefanus Wolo
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Foto oleh Romo Stefanus Wolo

Oleh: Stefanus Wolo Itu

Di kalangan para pecinta musik, harpa selalu dipercaya sebagai alat musik para malaikat. Bunyi petikannya yang sangat indah, seindah paduan suara malaikat. Keindahan itu pula menggetarkan gereja Eiken, Swiss, pada Minggu 29 Agustus 2021 saat digelar konser musik.

Hari itu sekitar pukul 18.00 waktu setempat, konser musik dimulai. Delapan wanita tampil dalam konser ini. Pemimpinnya adalah Simone, dirigen dan organis paroki kami.

Anggotanya adalah Anita, sekretaris paroki. Ada juga anggota koor paroki seperti Helen, Benedikta, Pia dan Ingrid. Yang terakhir adalah dua bersaudara Theres dan Paula. Theres selama ini aktif sebagai satu penari budaya Eiken. Sedangkan Paula adalah penanggung jawab kebersihan kantor dan gedung paroki.

Sebagai pastor paroki, saya memiliki hubungan yang dekat dengan mereka. Kami dekat karena rekan kerja, rumah bertetangga dan aktivitas dalam paroki. Kami bertemu hampir tiap minggu, bahkan tiap hari. Saya juga sering makan dan minum di rumah mereka. Mereka sangat mengasihi saya. Mereka menyapa saya Stefan. Sapaan kasih pada gembala, sekaligus anak dan saudara mereka.

Baca juga: Romo Pedro, Salamanca dan Perutusan

Situasi pandemi membatasi kami untuk menyanyi di gereja dan tempat umum lainnya. Alat-alat musik tiup juga tak boleh digunakan selama masa lockdown. Ini tantangan bagi penyanyi profesional dan pencinta musik tiup. Rekan misionaris Swiss, P. Albert Nampara juga termasuk dalam deretan pencinta musik tiup yang galau itu. Syukur situasi tersebut telah berlalu.

Musik petik kuno

Sebagai pemimpin koor paroki, Simone menyadari situasi ini. Dia menumbuhkan kreativitas dan daya ciptanya. Dia mengajak ibu-ibu bergabung dan membentuk grup Harpa. Nama grupnya Harfengruppe atau grup musik harpa.

Saya pribadi sesungguhnya merasa asing dengan alat musik yang satu ini. Harpa ternyata salah satu jenis musik petik tertua di dunia. Harpa muncul pertama kali di wilayah Mesir kuno sekitar tahun 2500 sebelum Masehi. Ada fakta pendukung berupa penemuan gambar orang Mesir kuno yang sedang memegang harpa di dinding makam, dekat sungai Nil.

BACA JUGA:  Dari Langa untuk Gereja Universal

Tahun 800 sesudah Masehi harpa muncul di Irlandia, dan akhir abad ke-16 muncul pula harpa rangkap tiga di Italia. Selanjutnya muncul lagi harpa diatonik pada jaman Renaisans. Terakhir muncul harpa elektrik dengan pedal ganda.

Dalam perjalanan waktu harpa mengalami proses modifikasi. Secara khusus modifikasi bentuk, ukuran dan berat. Meski demikian, harpa tetap memiliki kesamaan yaitu papan suara, leher dan tali senar.

Ukurannya mulai dari 30 hingga 180 cm. Jumlah tali senar juga bervariasi. Mulai dari 22 hingga 47 senar. Saat bermain, harpa besar biasanya diletakan di lantai. Sedangkan harpa kecil bisa dipangku, diletakan di atas meja atau standar.

Harpa sering dipercayai sebagai alat musik para malekat. Bunyi petikan harpa sangat indah. Seindah paduan suara para malekat. Saya sendiri belum pernah mendengar paduan suara para malekat. Tapi yang pasti suara para malekat tak tertandingi.

Harpa ajaib

Selama hampir 8 tahun di Eropa, saya sering mengunjungi gedung-gedung antik. Saya juga mengunjungi gereja-gereja tua dengan corak arsitektur klasik. Di sana, ada banyak gambar menarik. Salah satu di antaranya adalah lukisan malekat yang memegang harpa. Malekat adalah pemain harpa surgawi.

Grup Harpa Eiken menggunakan harpa yang kelihatannya sederhana. Ukurannya terbilang kecil: sekitar 30 x 45 sentimeter. Harpa ini terdiri dari 25 tali senar. Bahasa Swiss-Jerman menyebutnya Zauberharfen. Zauber dalam bahasa Jerman berarti sihir, sulap, ajaib. Zauber juga bisa berarti pesona atau daya tarik. Saya menterjemahkan Zauberharfengruppe ini dengan “Grup Harpa Ajaib”.

Mengapa Grup Harpa Ajaib? Pertama, harpa ini bisa dimainkan oleh siapa saja. Orang yang tak bisa membaca Not dan tidak memiliki bakat musik bisa memainkan harpa ini. Kita hanya membutuhkan latihan yang tekun. Harpa ini bisa dimainkan orang-orang jompo dan kaum cacat.

BACA JUGA:  Jelajah Sembilan Candi (2): Terpukau di Jalur Luna Maya

Orang yang hanya memiliki dua atau satu jari tangan pun bisa memainkan harpa ini. Keajaiban tercipta ketika orang yang tidak bisa membaca not dan tak berjiwa musik bisa bermusik melalui harpa. Dari harpa ajaib itu lahir musik yang indah dan lagu yang mempesona.

Kedua, harpa adalah alat musik petik seperti gitar. Bedanya, saat bermain gitar kita harus menekan tali-tali gitar sesuai dengan kunci tertentu misalnya A, C atau G. Saat memainkan harpa, kita hanya memetik senar-senar itu. Tetapi kita mesti meletakan teks-teks lagu khusus di bawah senar-senar harpa. Tanpa teks khusus itu, kita tidak bisa memainkan lagu-lagu.

Kita memperhatikan foto-foto. Misalnya saat memainkan lagu Amazing Grace, kita mesti meletakan teks itu di bawah senar-senar dan memetik sesuai petunjuk dalam teks. Begitupun ketika kita memainkan lagu lain. Musik dan nada akan mengikuti persis teks itu. Bagi saya ini juga keajaiban sebuah harpa.

Ketiga, saya mengenal anggota grup ini. Mereka tidak mempunyai talenta musik yang hebat. Tapi mereka miliki niat dan kesetiaan untuk mengembangkan diri. Bersama Simone mereka mengadakan latihan teratur satu jam setiap selasa malam. Saya mengapresiasi mereka. Tampilan mereka saat konser memukau kami semua. Tepukan tangan menggelegar, mengapresiasi tampilan mereka. Mereka adalah “para malekat” dari Eiken.

Mereka memainkan harpa ini tanpa iringan suara para penyanyi. Diana John, sekretaris paroki Stein dan katekis yang didaulat sebagai Master of Ceremony membacakan narasi dan makna setiap lagu. Lagu-lagu ini mengisahkan keindahan ciptaan Tuhan. Ciptaan Tuhan itu bervariasi dan memberi warna tersendiri dalam kehidupan.

Refleksi diri
Karena itu konser ini mengusung judul: Konser Farbtöne Zauberharfengruppe Eiken. Farbtöne artinya corak atau nuansa warna. Artinya lagu-lagu dalam konser ini mengajak penonton dan pendengar untuk merenungkan warna warni keindahan ciptaan Tuhan. Ciptaan Tuhan yang berwarna warni mesti diabadikan bagi kehidupan.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (2): Lintas Timur Sumatera, Perbukitan Seribu

Mereka memainkan 12 lagu. Lagu pembukaan dan penutup adalah Andantino karya F. Soor tahun 1778-1839. Lagu kedua Amazing Grace melukiskan kekaguman manusia akan kebesaran kasih Allah. Lagu ketiga hingga kesembilan adalah lagu-lagu dari Farbtöne karya Liselotte Blinn. Berturut-turut Moosgrün, Veilchenviollet, Kupferrot, Zitronenfaltergelb, Königblau, Wintergrau dan Goldgelb.

Lagu-lagu ini mengajak penonton untuk merefleksikan diri. Refleksi agar cinta kita pada Sang pencipta dan ciptaan lainnya semakin membara. Lagu-lagu ini mengajak kita hidup bijaksana.

Hidup bijaksana ditandai dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk membaharui diri. Kita tidak boleh terlena dalam kegelimangan harta duniawi. Kita mesti menghindari pemborosan yang tidak perlu. Kita harus ingat bahwa situasi covid-19 ini membawa orang pada kesepian, isolasi, kesusahan, stress, kecemasan, bahkan kematian.

Kita perlu memohon bantuan kekuatan Illahi. Cinta Tuhan itu ajaib seperti pengalaman Pater Carl Boberg dari Swedia. Boberg memuji keajaiban Tuhan dalam lagu “Wie Groß Bist Du“. Lagu ini sudah dan selalu didendangkan jutaan umat kristiani sedunia dengan bahasa yang berbeda. Di Indonesia lagu ini diterjemahkan dengan “Ajaib Tuhan”.

Baca juga: Misionaris Flores di Tengah Sumpah Rütli

Elvis A Presley, sang Raja Rock and Roll pernah menyanyikan lagu ini. Elvis memuji Tuhan yang telah menciptakan dunia dengan kekuatan sabda. Tuhan menciptakan semua mahluk hidup dan terus merawatnya.

Terima kasih “Grup Harpa Ajaib” Eiken. Proficiat dan apresiasi istimewa untuk Simone, Anita, Ingrid, Paula, Helen, Benedikta, Pia dan Theres. Kamu semua adalah “Malekat-Malekat Dari Eiken”. Kami sungguh menikmati suaramu. Suara yang mendendangkan indahnya warna-warni kehidupan. Agar tetap indah dan berkanjang, hidup itu mesti tertenun dalam mosaik Iman, Harapan dan Kasih.

Stefanus Wolo Itu
Misionaris Fidei Donum KAE Di Keuskupan Basel Swiss

Stefanus Wolo
Author: Stefanus Wolo

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.