Connect with us

Perjalanan

Misionaris Flores di Tengah Sumpah Rütli

Published

on

Bernhard Hässeli bersama kedua saudarinya berada di kampung Wolorowa, Sarasedu Mataloko, Kabupaten Ngada (Foto: dokumentasi pribadi)

Oleh: STEFANUS WOLO ITU

JALAPOST.com – Pada 1 Agustus 2021 lalu, negara Swiss merayakan hari ulang tahun ke-730, dimana negeri kecil ini berdiri pada 1 Agustus 1291. Ada tiga kanton yang menjadi cikal bakal negara Swiss yaitu Uri, Schwyz dan Unterwalden. Kanton-kanton ini berada di jantung Pegunungan Alpen. Sebuah kawasan yang kala itu sangat dingin, banyak hutan dan gelap gulita.

Mengapa ketiga kanton kecil ini menginisiasi berdirinya sebuah negara konfederasi di pegunungan Alpen? Saya tidak tahu persis sejarah politik negara ini. Tetapi saya penasaran dan ingin melacak sejarah terbentuknya negara Swiss. Tak terduga, saya menerima ucapan selamat dari Bernhard Hässeli pada hari ulang tahun itu.

Bernhard berasal dari Gipf-Oberfrick, sebuah kampung yang letaknya sekitar 3,5 kilometer dari tempat tinggal saya, Eiken. Sudah hampir 30 tahun Bernhard tinggal di Ubud-Bali. Bernhard sering berkelana ke Flores, Nusa Tenggara Timur. Bahkan, bersama kedua saudarinya pernah menginap di kampung saya di Wolorowa, Sarasedu Mataloko, Kabupaten Ngada.

Menjadi saudara

Sejak Juli tahun 2015 kami bersahabat. Saat itu Bernhard mendengar bahwa ada pastor asal Flores di kampung tetangganya. Bernhard lalu mengajak mamanya Josephine menghadiri misa dan bertemu saya.

Setelah itu, kami ke rumah mereka di Gipf-Oberfrick. Bernhard memperkenalkan saudara-saudarinya Andy, Brigitte, Regina bersama istri dan suami mereka. Tak lupa dia juga memperkenalkan kedua puterinya Sonya dan Anja. Sonya tinggal di Amerika Serikat, sedangkan Anja menetap di Wien, Austria.

Saat hendak pulang ke Bali, Bernhard berpesan kepada saya: “Stefan, saya hendak ke Bali. Jangan lupa selalu kunjungi mama. Kabarkan kepada saya tentang keadaan mama. Jangan lupa juga kontak adik-adikku. Mereka juga mama dan saudara- saudarimu!” Saya terharu dengan pesan ini.

BACA JUGA:  Gowes di Manado: Menikmati Alam, Kuliner, dan Keramahan Orang Minahasa

Saya menjalankan amanat “Sang Abang” ini dengan sukacita. Saya mengunjungi mama secara teratur. Saya sering kontak saudara-saudarinya. Hubungan kami akhirnya menjadi sangat dekat. Relasi kami naik tingkat; dari kenalan, sahabat menjadi saudara.

Saat mama Josephine meninggal, mereka meminta saya terlibat penuh dalam urusan kematian. Tentu saja sesuai dengan tugas saya sebagai imam. Saya memberkati jenasah dan memimpin ibadat pelepasan di rumah jompo. Kami pergi ke institut kematian. Di sana kami membincangkan persiapan pemakaman mama Josephine.

Saya pun diminta untuk merayakan ekaristi pemakaman, kotbah dan menyanyikan lagu die Sprache der Liebe atau bahasa Cinta”. Lagu yang selalu saya nyanyikan setiap kali mengunjungi mama Josephine.

Saya tertegun saat mendiskusikan surat berita kematian dan undangan pemakaman. Berita kematian itu akan dikirimkan kepada sanak keluarga dan dimuat di koran lokal. Bernhard dan adik-adiknya memasukan nama saya di bawah nama mereka. Saya berkeberatan karena tidak ada ikatan darah dengan mereka.
Tapi mereka meyakinkan saya. Saya sudah seperti anak dari mama Josephine. Saya sudah seperti adik mereka. Saya layak dan boleh menjadi bagian dari keluarga mereka. Saya harus menerima.

Intensitas relasi persahabatan menjadikan kami bersaudara. Karena itu nama “Stefanus Wolo Itu” juga tertulis dalam berita kematian itu. Umat paroki saya yang membaca berita itu kaget. Luar biasa kata mereka. Ini hal langka. Seorang yang bukan keluarga, orang asing masuk dalam jejeran keluarga berduka.

Berintegrasi dengan kultur Swiss

Bernhard dan saudara-saudarinya menerima saya sebagai saudara mereka. Mereka mengingatkan saya untuk selalu berintegrasi dengan kultur dan orang-orang Swiss. Tentu saja integrasi tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Flores. Integrasi tanpa tercerabut dari akar kultur keindonesiaan.

Salah satu contoh integrasi adalah mengenal kultur pesta atau hari raya nasional orang Swiss. Bernhard sudah menganggap saya seperti orang Swiss. Karena itu dia menulis: “Stefan, Selamat Pesta Ulang Tahun Swiss”. Dia menyertakan juga satu poster menarik. Di bawah poster tersebut Bernhard menulis: “Bro, ulang tahun kemerdekaan ini mengajak kita untuk kembali ke Rütlischwur atau Sumpah Rütli”.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (43): Pulau di Indonesia Jadi Nama Jalan di Amsterdam

Rütli adalah adalah nama sebuah kampung kecil. Letaknya di pantai barat danau Uri dan tak jauh dari Danau Luzern. Rütli pada akhir abad ke-12 hanya sebuah padang rumput. Tetapi di padang rumput ini menjadi tempat lahir Swiss. Rütli adalah padang rumput bersejarah.

Di sanalah para fundator negara Swiss(Uri, Schwyz dan Unterwalden) mengucapkan “Rütlischwur atau Sumpah Rütli” pada 730 tahun lalu. Sumpah Rütli adalah kata-kata magnetis yang menggerakan kehendak para founding fathers untuk mendirikan konfederasi Swiss.

Apa saja isi Sumpah Rütli itu? Sumpah itu berbunyi: “Wir wollen sein ein einzig Volk von Brüdern, in keiner Not uns trennen und Gefahr. Wir wollen frei sein, wie die Väter waren, eher den Tod, als in der Knechtschaft leben. Wir wollen trauen auf den höchsten Gott und uns nicht fürchten vor der Macht der Menschen“.

Saya menerjemahkan secara bebas isi Sumpah Rütli ini. “Kami ingin menjadi satu bangsa yang bersaudara. Dalam penderitaan dan bahaya kami tidak mau berpisah. Kami ingin bebas seperti bapak-bapak dahulu. Lebih baik mati daripada hidup dalam perbudakan. Kami ingin percaya pada Tuhan yang Maha Tinggi dan tidak takut pada kekuasaan manusia”.

Sudah 7 abad konfederasi Swiss berdiri. Negara yang berawal dengan tiga kanton. Tujuh abad kemudian berkembang menjadi 26 Kanton. Swiss yang gelap dan dingin akhirnya menjadi sebuah negara moderen. Sebuah proses ada dan menjadi yang lama dan berliku.

Swiss adalah negara merdeka. Karena merdeka mereka mempunyai cukup ruang untuk mencapai kemakmuran. Perjuangan mencapai kemakmuran tidak pernah selesai. Memperjuangkan kemakmuran adalah proses tanpa henti.

Butuh komitmen moral

Sudah tujuh abad Swiss merdeka. Tapi belum semua warganya merasakan cita-cita kemerdekaan. Tetap saja ada kemiskinan, ketimpangan sosial, penggangguran dan ketidakadilan. Mereka tetap membutuhkan komitmen moral agar semua orang bisa merasakan cita-cita kemerdekaan.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (36): Tantangan Berat Hadapi Suhu di Bawah Nol Derajat

Siapa yang harus memiliki komitmen moral? Ya, semua kita yang tinggal di Swiss. Komitmen moral semua penyelenggara negara. Komitmen moral para pemimpin politik. Tidak lupa komitmen moral semua warga.

Untuk apa komitmen moral itu? Pertama, komitmen moral untuk berbuat baik. Perbuatan baik membuka kepicikan hati dan kesempitan berpikir. Banyak orang berbuat jahat karena kepicikan hati dan kesempitan berpikir. Tapi perjumpaan yang terus menerus dengan perbuatan baik pasti akan membawa mereka pada pembaharuan hidup.

Kedua, komitmen moral untuk hidup sebagai orang-orang merdeka. Merdeka berarti bebas dari segala belenggu yang menekan kebebasan dan martabat manusiawi kita. Bebas dari segala ketergantungan yang membuat kita tidak mandiri.

Saya juga merdeka untuk menggunakan kebebasan secara baik, benar dan berkualitas. Tinggal di Swiss menuntut sebuah kualitas hidup yang tinggi. Karena itu gunakan kebebasan untuk melakukan hal-hal berkualitas. Hal berkualitas menunjang kebaikan hidup bersama.

Ketiga, komitmen moral untuk hidup sebagai hamba Allah. Menjadi hamba Allah artinya menjadi pendengar suara Tuhan dan pelaku kemauan Tuhan. Hamba Allah adalah orang yang takut akan Tuhan. Ketakutan akan Tuhan adalah kebijaksanaan tertinggi.

Hari ini begitu banyak orang yang menghadiri perayaan ekaristi. Semua orang menyanyikan lagu kebangsaan Swiss dengan penuh semangat. Perayaan meriah ini ditutup dengan lagu-lagu meriah dari Musikgesellschaft Eiken. Semoga kita tidak berpaling dari komitmen moral kita.

Selamat ulang tahun Swiss. Kita merayakan ulang tahun dengan kembali ke Sumpah Rütli. Sumpah untuk membaharui komitmen moral. “Di pintumu aku mengetuk. Aku tak akan berpaling!”

Stefanus Wolo Itu
Misionaris Fidei Donum KAE
Di Keuskupan Basel Swiss

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cyling

Menyusuri Pasar Tomohon: Tradisi Kuliner yang Tak Biasa di Sulut

Published

on

Oleh JANNES EUDES WAWA

Minggu, 19 April 2026, sekitar pukul 06.00, sebagian besar peserta sudah berkumpul di loby hotel. Kami akan menggunakan mobil menuju pasar tradisional Tomohon. Jaraknya sekitar dua kilometer. Orang menyebutnya dengan pasar ekstrim.  Di sana pedagang tidak hanya menjual barang kebutuhan, seperti sayur-sayuran, bumbu dapur, ikan, daging sapi dan sejenisnya.

Para pedagang memasarkan pula binatang lain yang tidak lazim, seperti tikus hutan, kelelawar (paniki), ular piton, monyet, anjing, babi hutan. Hewan-hewan yang sudah tidak bernyawa tersebut terpajang di atas meja dagangan. Bentuk wajah pun terlihat sangat jelas.

Praktek ini sudah berlangsung sangat lama sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat setempat selaku pemakan segala jenis daging. Mereka selalu berprinsip selama manusia dapat mengolah dan memakan daging tersebut, maka orang Minahasa pun akan mencoba menyantapnya.

Ular Piton dan kelelawar. Arsip Jelajah

Fenomena inilah yang membuat Pasar Tomohon berbeda dan unik. Tidak mengherankan, setiap orang yang datang ke Tomohon selalu berusaha menyempatkan diri mengunjungi pasar tersebut hanya ingin melihat dari dekat pajangan daging hewan-hewan tersebut.

Tata, pesepeda dari Jakarta mengaku telah lama mendengar tentang pasar ekstrim tersebut. Namun pagi itu ekspektasinya sedikit meleset, sebab hari Minggu dan dagangan ekstrim sudah banyak yang laku terjual sejak Sabtu pagi.  “Tetapi saya masih sempat melihat beberapa lapak yang menjual tikus, ular piton, kelelawar dan babi hutan,” ungkapnya.

Yulita Hartanti asal Semarang mengaku agak menyeramkan saat melihat dari dekat daging kelelawar, tikus dan ular. “Saya belum pernah lihat seperti ini. Menyeramkan! Salut dengan mereka yang menjual dan memakan daging hewan-hewan itu,” kata dia.

Kembali ke Manado. Arsip Jelajah

Selesai dari pasar ekstrim, kembali ke hotel untuk sarapan dan persiapan kayuhan hari ketiga atau hari terakhir dari Jelajah Manado-Tomohon 2026. Rutenya kembali ke Manado. Namun panitia memilih tidak melewati jalur jalan utama, melainkan jalan desa yang beraspal dengan variasi tanjakan dan turunan. Jalan beraspal mulus dan sepi dari kendaraan bermotor.

Pagoda Tomohon

Sekitar pukul 08.00, kami keluar dari hotel. Tujuan pertama adalah menyinggahi Padoga Ekayana Tomohon. Bangunan ini sebagai gambaran toleransi yang berkembang baik di tanah tersebut. Di tengah masyarakat Tomohon yang mayoritas Kristen, hadir pula sebuah bangunan simbol tradisi Budha. Letaknya hanya berjarak 1,5 kilometer dari penginapan.

Pagoda sembilan lantai dengan arsitektur khas China ini dominasi warna merah dan kuning. Berdiri sejak tahun 1982. Memasuki pintu masuk tampak deretan 18 patung lohan berwarna emas menghiasi halaman sebelah kiri. Patung lohan adalah simbol  18 pendosa yang kembali ke jalan yang benar atau telah mencapai tingkat kesucian tertinggi. Dalam kompleks pagoda juga terdapat patung Budha bernama Bodhidharma dengan ciri berjanggut khas India.

Di Pagoda Tomohon. Arsip Jelajah

Pagoda ini menyuguhkan pemandangan yang menarik. Di belakangnya tampak dari kejauhan Gunung Lokon. Apabila berada di lantai kesembilan dapat melihat dengan jelas keindahan Kota Tomohon. Kami berkali-kali mengabadikan panorama yang unik dan menarik tersebut.

BACA JUGA:  Dari Langa untuk Gereja Universal

Dari Pagoda Ekayana, kami melanjutkan gowes menuju jalan utama, yakni Jalan Raya Tomohon. Konturnya mendatar dan sempat menurun sesaar, namun 3 kilometer berikutnya, kami belok ke kanan memasuki jalan desa. Badan jalan agak sempit hanya dapat diewati satu mobil roda empat. Kondisi jalan beraspal mulus. Sekitar 200 meter dari persimpangan, kami menghadapi tanjakan sekitar 50 meter dengan kemiringan sekitar 10 derajat.

Beberapa peserta sedikit ngomel, sebab pada pagi itu panitia menginformasikan tak ada lagi tanjakan. Perjalanan ke Manado semuanya menurun. Namun, peserta lain langsung menimpali, “Kalau touring dengan jelajah mana ada rute yang bebas tanjakan? Jadi mari kita menikmatinya. Jalur ini sepi, sejuk dengan pohon-pohon yang banyak”.

Sekitar 1,5 kilometer kami melewati sebuah turunan yang cukup curam. Kami saling mengingatkan untuk berhati-hati. Kosentrasi penuh dan menjaga rem dengan baik. Apabila ragu-ragu sebaiknya turun dan menuntun saja sepedanya. Ada lima peserta memilih tuntun sepeda, selebihnya tetap mengayuh.

Hadapi Turunan Curam

Lolos dari turunan ini, kami kemudian menghadapi satu turunan curam lagi sekitar dua kilometer di depan. Pada turunan ini satu peserta sempat terpeleset, tetapi terkendali dengan baik sehingga yang bersangkutan bersama sepedanya luput dari kecelakaan. Ada pula satu sepeda lipat mengalami pecah ban, sebab terlalu panas akibat rem terus-menerus. Namun langsung diganti sehingga pemiliknya tetap melanjutkan kayuhan.

Selepas turunan curam itu, kami masih melewati beberapa turunan panjang hingga di wilayah Totongkoran. Di beberapa titik ada permukiman penduduk dengan rumah-rumah yang permanen. Ada pula gedung sekolah serta kios-kios dan toko. Aroma keharuman bunga cengkeh menyeruak cukup tajam dari kebun dan pekarangan.

Kami akhirnya berhenti di Lota, sekitar 8 kilometer dari Tomohon. Kami nyekar ke makam pahlawan nasional Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol merupakan salah satu figur pribumi yang paling disegani pada masa pendudukan kolonial Belanda di Sumatera Barat.

Dia lahir pada 1 Januari 1772 di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyung, Sumatera Barat dengan nama asli Muhammad Shawab. Anak dari pasangan Khatib Bayanuddin dan Hamatun. Ayahnya adalah alim ulama dari Sungai Rimbang, Lima Puluh Kota. Dia termasuk pemimpin dan pejuang yang sangat disegani dalam Perang Padri pada 1803-1838.

Berkali-kali pemerintah kolonial Belanda berusaha menangkap Imam Bonjol, tetapi selalu gagal. Akhirnya pada 25 Oktober 1837, Residen Francais yakni EA Francaius, seorang pejabat kolonial Belanda yang menjabat sebagai Residen di wilayah pantai barat Sumatera, menggunakan siasat perundingan damai untuk memancing pemimpin pasukan Padri, Tuanku Imam Bonjol agar datang ke Palupuh, Agam. Ketika datang itulah dirinya ditangkap,

BACA JUGA:  Romo Pedro, Salamanca dan Perutusan

Dia kemudian diasingkan ke sejumlah tempat terpencil. Mula-mula ke Cianjur, Jawa Barat, kemudian dipindahkan lagi ke Ambon pada tahun 1839. Setelah dua tahun di Ambon, oleh residen Ambon, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Manado. Pada awalnya di daerah Koka, Karesidenan Manado selanjutnya ke Lotta, Minahasa.

Nyekar Makam Imam Bonjol

Imam Bonjol diasingkan bersama seorang anaknya yaitu Sutan Saidi, keponakannya Abdul Wahab, pengawal setianya Bagindo Tan Labiah serta Si gelek atau Galito, bekas pasukan Sentot Ali Basya (panglima perang Pangeran Diponegoro). Pada akhir 1850, Apolos Minggu seorang kopral Belanda dari Maluku ditugaskan mengawal Tuanku Imam Bonjol di Lotta. Apolos menikah dengan putri Mayor Parengkuan bernama Wilhelmina Parengkuan. Keturunan Apolos Minggu menjaga makam Tuanku Imam Bonjol hingga saat ini.

Imam Bonjol meninggal dunia pada 6 November 1854 dalam usia 83 tahun. Hal ini berdasarkan arsip Surat Keputusan Residen Manado yang dikukuhkan oleh Raad van Indie. Pada batu nisan makam tertulis: “Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin Gelar Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional lahir pada tahun 1774 di Tanjung Bungo, Bonjol, Sumatera Barat”.

Makam Imam Bonjol dibangun dengan arsitektur yang kental bernuansa Minang, yaitu pada atapnya yang berbentuk gonjong. Di dalam area berukuran sekitar 6×10 meter tersebut hanya terdapat makam Imam Bonjol. Pada dinding makam terdapat lukisan marmer yang menampilkan Imam Bonjol sedang mengendarai kuda dalam berperang.

Siang itu, kami juga secara spontan mengumpulkan uang sebesar Rp 1,1 juta yang disumbangkan kepada pengelola makam untuk memperbaiki atap yang rusak akibat angin kencang. Donasi diserahkan kepada ibu Fatma, salah seorang pengelola makam. “Terima kasih atas donasinya. Kami berjanji akan menggunakan dana ini sebaik-baiknya,” ujar Fatma yang merupakan generasi keenam dari Apolos Minggu.

Di makam Imam Bonjol

Rudekon asal Depok yang juga masih berdarah Minangkabau mengaku gembira bisa mengunjungi makam Imam Bonjol. “Saya tidak menyangka dengan peristiwa (kunjungan) ini. Selama ini hanya mendengar cerita kehebatan beliau (Imam Bonjol). Tetapi tak pernah tahu makamnya. Sekarang saya bisa nyekar merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa. Melalui bersepeda saya akhirnya bertemu dengan Imam Bonjol,” kata dia.

Sup Rahang Tuna

Dari Lota, kami melanjutkan kayuhan menuju Kota Manado. Beberapa kilometer di depannya, kami masuk kembali ke jalan raya utama menghubungkan Tomohon-Manado. Di jalur ini sempat melewati tanjakan pendek, dan terhadang kemacetan akibat ratusan warga baru selesai mengikuti ibadah di sebuah gereja.

BACA JUGA:  Lilin Solidaritas untuk Rufinus Tigau

Laju kayuhan sempat sedikit perlahan sejauh puluhan meter. Selepas itu suasana pun stabil kembali. Kami sempat memasuki kawasan Perumahan CitraLand untuk memotret Patung Yesus, salah satu ikon Kota Manado. Di lokasi ini hanya sekitar 20 menit, kemudian kembali ke jalan utama.

Bersama anak-anak di Lota, Minahasa.

Kayuhan kami melalui jalan turunan yang cukup panjang Jalan Sam Ratulangi dengan melewati Universitas Terbuka Manado, Sekolah Polisi Negara (SPN) Manado, Rumah Sakit Bhayangkara Manado, Stadion Klabat, dan berhenti di Restoran Santo Yosef di Jalan Santo Yosef untuk makan siang.

Menu makan siang itu antara lain sup rahang tuna. Semua peserta sangat menikmati sup rahang tuna, sebab jarang tersedia di kota asal masing-masing. “Sup rahang tuna enak. Masaknya bagus. Ikan tunanya pun masih segar sehingga rasanya sesuai ekspektasi,” kata Lina Susana asal Jakarta.

Tata pun mengaku menyukai sup rahang tuna ini. “Satu hal yang saya sukai selama di sini adalah dapat menikmati kuliner fresh seafood khas Sulawesi Utara setiap hari. Sebagai pecinta seafood, hal ini menjadi nilai tambah yang sulit terlupakan,” ungkapnya.

Habis makan siang, kami langsung menuju Hotel Grand Whiz di Kawasan Megamas, jaraknya hanya sekitar 2,5 kilometer. Sekitar pukul 14.30 Wita, semua peserta sudah tiba di hotel. Perjalanan bersepeda kami selama tiga hari pun tuntas. Semua mengaku bahagia dan puas dengan petualangan ini. Rutenya menarik, tidak seserem seperti yang diperkirakan.

Tak Lupa Bunaken

Tata, misalnya, mengaku sebelum berangkat dari Jakarta, yang selalu terbayangkan yakni bakal terbakar sengatan matahari selama tiga hari bersepeda disertai udara kering tanpa angin, dan medan yang cukup menantang dengan tanjakan-tanjakan curam. “Namun, semua itu sirna sejak hari pertama. Teriknya tidak sepedas yang selalu saya bayangkan, bahkan anginnya cukup sejuk meski rute yang dilewati masih dekat laut. Di luar pusat kota Manado, jalanannya pun relatif lengang dan teduh oleh pepohonan,” kata Tata.

Suasana ini memberikan kesan yang mendalam untuk dirinya. Mengayuh sepeda di Sulawesi Utara sangat menyenangkan. Keindahan alam, keragaman budaya dan keramahan masyarakatnya mendukung penuh untuk aktivitas petualangan tersebut. Jika ada waktu dan kesempatan di masa depan, Tata ingin mengulang kembali bersepeda di Sulawesi Utara dan mencoba rute-rute lain yang belum sempat dilewati.

Panorama bawah laut di Bunaken.

Usai bersepeda sejumlah peserta melanjutkan petualangan ke Bunaken, menikmati keindahan bawah laut kawasan tersebut yang sudah mendunia. Perairan Taman Nasional Bunaken kaya akan biodata laut. Terumbu karang yang terjaga dengan aneka jenis ikan cantik berwarna warni yang sangat mudah ditemukan pengunjung saat menyelam.

“Mumpung sudah ada di Manado lebih baik mengunjungi juga Bunaken. Merasakan sensasi menyelam di perairan Bunaken agar melengkapi cerita perjalanan di Sulawesi Utara,” kata Eric Sugiarto asal Bandung. (Habis)

 

 

Continue Reading

Cyling

Menuju Tomohon Lewat Tondano: Perjalanan Menikmati Pesona Sulawesi Utara

Published

on

Oleh JANNES EUDES WAWA

Tomohon, sebuah kota yang melegenda. Wilayah yang terapit oleh Gunung Lokon dan Gunung Mahawu ini memiliki kawasan seluas 147,21 kilometer persegi. Letaknya berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut tersebut membuat Tomohon terkenal subur dengan panorama alam yang indah dan suhu udara nan sejuk. Daerah ini juga termasuk salah satu sentra penghasil aneka bunga yang amat populer di Indonesia.

Dalam perjalanan bersepeda di Sulawesi Utara ini, Tomohon menjadi tujuan utama. Kami mengunjungi kota yang sejak tahun 2006 rutin menggelar festival bunga internasional. Event tersebut tidak semata-mata memperkenalkan kekayaan tradisi seni dan budaya, tetapi juga memanggungkan Tomohon sebagai kota bunga.

Hari kedua, Sabtu, 18 April 2026 dengan rute Manado-Tomohon. Sejak pukul 05.00 Wita, semua peserta sudah mengemaskan barang-barangnya. Bahkan, sebagian besar sudah berada di restoran untuk sarapan pagi. Mereka sepertinya sudah tidak sabar untuk segera mengayuh sepeda menuju Tomohon, kota yang sudah bertahun-tahun selalu masuk rencana tujuan bersepeda, tetapi baru kali ini terwujud.

Keluar dari Kota Manado menuju Kota Tomohon, Sabtu (16/4/2026). Arsip Jelajah

“Saya terus terbayang tentang Tomohon. Kota yang sejuk dan dingin, banyak bunga. Pasti seru dan menarik. Saya sudah tidak sabar untuk bersepeda ke sana dan menikmati tantangannya,” kata Saleh Sami, pesepeda asal Jakarta juga dibenarkan Afit Raja Bungsu asal Jakarta juga.

Pagi itu beberapa peserta cukup penasaran dengan tanjakan menuju Tomohon. Ada yang meminta informasi kepada panitia berapa derajat kemiringan tanjakan. Namun panitia enggap menginformasikan detail. Mereka hanya mengatakan tanjakannya tidak terlalu berat, sebab Tomohon berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lebih rendah 200 meter dari puncak di Bogor.

Sebelumnya panitia juga sudah menginformasikan bahwa rute menuju Tomohon bukan melewati jalan utama, melainkan jalan kabupaten, tetapi beraspal mulus. Jalur ini pun jarang dilewati kendaraan bermotor roda empat dan roda dua sehingga nyaman untuk bersepeda. Melalui jalur ini pula perjalanan tidak langsung menuju ke Tomohon, melainkan akan terlebih dahulu menyinggahi Danau Tondano dan Danau Linow.

Mulai Mengayuh

Setelah selesai sarapan dan semua barang-barang diserahkan kepada panitia, tepat pukul 07.00 Wita, kami memulai kayuhan dari penginapan. Keluar dari kawasan Megamas langsung masuk Jalan Piere Tendean lalu belok kanan masuk Jalan Sam Ratulangie 12, dan 300 meter berikutnya belok kanan lagi masuk Jalan Sam Ratulangie.

Beberapa kilometer kemudian belok  masuk Jalan Babe Palar hingga di Teling, lalu belok kanan, dan masuk Jalan Tololiu Supit. Mulai dari jalur ini atau sekitar 2,5 kilometer dari Megamas kami mulai melewati jalan tanjakan. Mula-mula masih halus, tetapi puluhan meter ke depan kemiringan jalan makin meningkat. Sempat pula menghadapi turunan sekitar 40an meter, namun setelahnya menanjak kembali hingga di jalur lingkar luar (Ring Road Manado).

Menikmati tanjakan saat keluar dari Kota Manado, Sabtu (16/4/2026). Arsip Jelajah

Rute ini berada agak ke tengah atau sebelah kiri dari jalur utama menghubungkan Manado dan Tomohon. Kami tetap melaju melewati jalan lurus menuju ke wilayah Koka. Kawasan itu sudah berada di luar kota. Pada rute ini permukiman penduduk kian jarang. Kontur jalan terus menanjak.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (22): Perjalanan di Iran, Siapkan Uang Lokal Tunai

Selepas Koka tak ada lagi tempat penjualan seperti Indomaret dan Alfamaret. Yang ada hanya kios-kios kecil dalam jumlah yang sangat terbatas. Permukiman penduduk pun semakin jarang. Badan jalan yang ada menyempit, hanya dapat dilewati satu kendaraan roda empat. Meski demikian kondisi jalannya beraspal mulus.

Aroma Cengkeh

Di kiri dan kanan jalan tampak kebun kelapa dan tanaman cengkeh. Di beberapa lokasi, aroma cengkeh cukup kuat terasa. Sulawesi Utara memang termasuk salah satu daerah penghasil cengkeh terbanyak di Indonesia dengan volume produksi sekitar 10.326,9 ton per tahun dari lahan seluas 72.983 hektar.

Di masa Orde Baru, sempat terjadi praktek monopoli pembelian cengkeh melalui pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). Kebijakan ini lahir dari Keputusan Presiden Nomor 20 tahun 1992 dan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1992. Tommy Soeharto ditunjuk mengomandoi dan mengendalikan badan tersebut.

Kebijakan itu merusak pasar bebas dengan menekan harga beli dari petani secara sepihak yang sangat rendah, dan memaksa mereka menjual cengkeh hanya ke lembaga tersebut. Petani juga dilarang menjual cengkeh langsung ke pabrik rokok, melainkan wajib menyalurkannya melalui koperasi yang terafiliasi dengan BPPC. Petani frustasi sehingga menebang cukup banyak pohon cengkeh.

Melewati hutan dengan pohon-pohon yang menjulang. Suasana ini menjadi sebuah kebahagiaan. Arsip Jelajah

Tanjakan yang kian tinggi, panjang dan berkelok itu tidak menggentarkan kami. Dari atas sadel sepeda, kayuhan terus melaju sesuai kemampuan masing-masing. Peserta kian terpecah dalam beberapa kelompok. Mereka yang menggilai tanjakan terus mengayuh kencang sehingga selalu di barisan terdepan. Meski ada sempat berhenti di beberapa titik, tetapi hanya sejenak sekedar untuk mengambil nafas guna memulihkan fisik, lalu kembali bersepeda.

Kelompok lainnya mencoba menyesuaikan dengan kekuatan tubuh. Jika mulai terasa lelah langsung menghentikan sepeda untuk istirahat. “Usia saya sudah tidak muda lagi. Jadi, gowes di tanjakan seperti ini harus mengikuti kemampuan tubuh, terutama jantung. Jangan memaksakan diri. Perlahan-lahan yang penting tiba dengan selamat,” ungkap Moch Surjadi asal Tangerang Selatan, Banten.

Andrew Setiawan dari Kelapa Gading, Jakarta juga mengingatkan peserta agar jangan memaksakan diri saat mengayuh di tanjakan. “Kita bersepeda ini untuk sehat, untuk healing, bersenang-senang. Kalau tubuh sudah memberi isyarat untuk istirahat, kita ikuti saja. Jangan memaksakan diri,” ujar Andrew yang juga seorang dokter senior.

Menyapa Warga Setempat

Saat melewati kemiringan tanjakan yang cukup tinggi, sekitar enam peserta memilih evakuasi ke dalam mobil. Mereka baru kembali mengayuh kembali setelah tiba di jalan yang mendatar.

Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali berjumpa dengan warga setempat. Ada yang berdiri di depan rumah atau kebun. Ada pula sedang mengendarai motor atau mobil. Kami saling menyapa. Setelah mengetahui kami hendak menuju Tomohon, mereka sedikit terheran membayangkan tanjakan yang ada dilalui dengan mengayuh sepeda. “Masih cukup jauh kalau ke Tomohon. Nanjak terus. Semangat ya, jangan menyerah,” ungkap seorang warga Koka.

Memasuki kilometer 25, kontur jalan mulai mendatar. Lokasi ini sudah berada dalam wilayah Kabupaten Minahasa. Sekitar 1,5 kilometer berikutnya kami dibikin bahagia, sebab menghadapi turunan sekitar 500 meter. Tetapi setelah itu bercumbu lagi dengan tanjakan berkelok sekitar dua kilometer hingga di kilometer 30.  Jalan mendatar mulai dari titik itu.

Beristirahat sejenak di tepi jalan. Arsip Jelajah

Kami terus melaju melewati permukiman penduduk. Semangat kayuhan semakin tinggi. Melewati tengah kota Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa. Kota ini cukup bersih, tetapi agak sepi dan tidak terlalu luas. Tidak terlalu banyak kendaraan bermotor yang lalu Lalang. Tim pertama masuk kota Tondano sekitar pukul 10.00 Wita. Kelompok terakhir pada pukul 11.15 Wita.

BACA JUGA:  Romo Pedro, Salamanca dan Perutusan

Keluar dari kota itu, kontur jalan tetap mendatar. Tampak hamparan sawah, jagung, dan kebun sayur-sayuran. Wilayah ini tergolong subur. Sayuran-sayuran yang ada umumnya disuplai ke Kota Manado.

Tepi Danau Tondano

Siang itu, kami beristirahat di Ribera Bistro, restoran yang berada persis di tepi Danau Tondano sisi barat. Di lokasi itu berkembang sejumlah tempat makan dengan panorama danau yang menarik. Hampir semua restoran yang ada memiliki keramba yang cukup banyak dan luas. Setiap akhir pekan banyak warga datang berwisata di Danau Tondano.

Di tepi Danau Tondano. Arsip Jelajah

Danau seluas 43 kilometer persegi itu tersedia jalan raya beraspal yang melingkarinya menghubungkan kota Tondono dengan Kecamatan Tondano Timur, Kecamatan Eris, Kakas, Rembeken, dan Tondano Selatan. Dalam danau berkembang biak sejumlah jenis ikan air tawar, antara lain nila, mujair, kabos (pior), payangka, betutu, wiko (udang kecil), tawes, ikan mas (pongkor), gurami, dan lobster. Begitu banyak keramba yang ditempatkan dalam danau untuk usaha budidaya ikan.

Rudi Pasaribu menilai panorama Danau Tondano sungguh menakjubkan. Saking indahnya, dia pun nyaris mengabaikan menu ikan mujair bakar yang disajikan. “Keindahan danau ini top banget. Saya terbius sehingga sajikan ikan mujair bakar pun jadi tidak penting lagi untuk dinikmati,” ungkapnya.

Namun keramba juga menjadi salah satu pemicu pendangkalan, sebab setiap hari puluhan ton pakan yang diberikan untuk ikan. Pakan-pakan itu kemudian mengendap dan menimbulkan sedimentasi. Enceng gondok pun berkembang begitu pesat. Kontribusi lain yakni adanya pembusukan gulma yang tumbuh di danau. Maraknya budidaya perikanan mempercepat bertumbuhnya gulma.

Sedimentasi juga menyempitkan luas danau yang hingga tahun 2022 tersisa 4.700 hektar. Bahkan, sekitar tahun 1998, menurut data Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi, kedalaman Danau Tondano diperkirakan masih 30 meter, tetapi pada tahun 2022 hanya menyisahkan 13,5 meter.

Maraknya keramba dan enceng gondok memicu pendangkalan. Arsip Jelajah

Salah satu menu makan kami pada siang hari itu adalah ikan nila dan ikan mujair bakar. Ukuran setiap ekor menyerupai telapak tangan pria dewasa. Rasanya lezat dan enak. Ikan air tawar menjadi menu andalan restoran yang ada di tepi danau tersebut.

Danau Linow

Sekitar pukul 13.00, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Danau Lanow di Kota Tomohon. Letaknya sekitar 12 kilometer ke arah barat. Mula-mula, kami bersepeda ke arah barat daya melewati tepi Danau Tondano. Di jalur ini masih memiliki hutan cukup lebat. Banyak pohon menjulang. Suhu udara pun terasa sejuk.

BACA JUGA:  Jelajah Toba Samosir (1), Nikmati Gowes dan Mandi Hujan

Saat keluar dari area danau, dan memasuki wilayah Remboken atau sekitar 4 kilometer dari tempat makan siang, mendung kian pekat. Tak lama berselang, hujan turun begitu deras. Beberapa peserta memilih berteduh di sejumlah kios di tepi jalan raya. Namun, ada pula yang mengayuh terus. Hujan ini hanya berlangsung sekitar 40 menit.

Menikmati Danau Linow di Tomohon. Arsip Jelajah

Sepertinya ini hanya hujan lokal, sebab di kawasan Danau Linouw yang berjarak kurang lebih 7 kilometer ternyata langitnya cerah. “Di Danau Linouw tidak ada hujan. Langit cerah,” kata Putu, pengemudi mobil panitia yang sudah menunggu peserta di danau itu.

Di rute ini, dua kali kami tiga kali melewati tanjakan dengan kemiringan 8-11 derajat dengan selingan turunan dan jalan mendatar. Bahkan, menjelang tiba di Danau Linow kami melewati turunan yang cukup panjang di tengah hutan pohon dan bambu yang cukup lebat. Jalan pun beraspal mulus sehingga meringankan laju kayuhan.

Sekitar dua kilometer menjelang Danau Linouw tercium bau belerang yang begitu menyengat. Di sisi jalan tampak jaringan pipa ukuran sangat besar yang merupakan saluran gas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong. Pembangkit ini memiliki total kapasitas terpasang 120 megawatt (MW) yang terbagi dalam 6 unit dan menyuplai listrik untuk wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo. Potensi energi panas bumi ini dieksplorasi sejak tahun 1990, tetapi beroperasi secara komersial sejak 2001. Mampu menyuplai listrik untuk 133.300 rumah.

Di Danau Linow, Tomohon. Arsip Jelajah

Kami berhenti sejenak di tepi Danau Linouw, menikmati panorama sekaligus berfoto. Langit pun mendung. Danau ini terbentuk dari letusan gunung berapi sekitar 500.000 tahun silam. Sisa-sisa gunung berapi tersebut berupa adanya sumber belerang di sekitar danau.

Diguyur Hujan Lebat

Hampir setiap ada selalu ada wisatawan yang mengunjungi danau tersebut. Namun pengunjung dilarang berenang, sebab air danau memiliki kandungan sulfur yang tinggi. Jika terpapar sulfur dapat menimbulkan kerusakan pada kulit dan cidera lainnya.

Mengingat mendung kian tebal, kami memutuskan melanjutkan kayuhan menuju ke Hotel Villa Emita Tomohon yang berjarak sekitar 4,5 kilometer. Perjalanan ini pun masih ada tanjakan. Tidak tinggi, tetapi cukup menguras tenaga dan emosi. Namun mengingat hati kecil sudah terbayang dengan hotel tempat menginap sehingga tanjakan itu terlewatkan dengan lancar.

Sejumlah peserta yang berangkat lebih awal terluputkan dari hujan. Sebagian lagi ketika masuk tengah kota langsung terguyur hujan deras. Mereka terjebak di tengah arus kendaraan yang padat. Di beberapa titik air tergenang juga. Meski demikian, mereka terus mengayuh perlahan-lahan melewati kendaraan-kendaraan yang padat merayap itu. Sekitar pukul 16.40 Wita akhirnya tiba di penginapan. Sedangkan kelompok terakhir lebih memilih evakuasi menjelang Danau Linouw, sebab terjebak hujan deras.

Melewati tepi Danau Tondano yang teduh, dan adem. Arsip Jelajah

Malam harinya, AKBP Johan Sitorus, Wakil Komandan Brimob Polda Sulawesi Utara mengundang makan di rumahnya masih berada di Kota Tomohon. Jarak dari hotel sekitar 2 kilometer. Rumah pribadi itu juga berada tidak jauh dari kaki Gunung Lokon. Dia berkenalan dekat dengan sejumlah peserta. Kebetulan mereka pernah bertemu pada even Tour de Teluk Cendrawasih yang diselenggarakan Kepolisian Daerah Papua Barat tahun 2016. Saat itu, Johan Sitorus bertugas di Polda tersebut.

Makam malam itu menjadi ajang reuni. “Saya suka bersepeda, meski belakangan agak jarang. Tetapi setelah pensiun pada akhir tahun 2026 ini saya ingin gowes kemana-mana. Gowes tidak hanya menyehatkan, tetapi membuat hati bahagia. Makanya, saya undang makan malam di sini (rumah) untuk memberikan kehormatan, sebab telah datang jauh-jauh ke sini (Sulut),” jelas Johan Sitorus. (Bersambung)

Continue Reading

Cyling

Gowes di Manado: Menikmati Alam, Kuliner, dan Keramahan Orang Minahasa

Published

on

Oleh JANNES EUDES WAWA

Sulawesi Utara selalu menjadi impian banyak orang untuk berwisata. Di sana, tidak semata-mata tersedia bentangan alam nan indah di daratan dan panorama dasar laut, tetapi juga memiliki masyarakat yang ramah, supel, egaliter, dan kreatif. Para perempuan Minahasa sejak masa lampau telah terampil meramu menu masakan sehingga menghasilkan aneka jenis kuliner lokal yang lezat, gurih dan bikin nagih.

Berkelana di Sulawesi Utara selama 17-19 April 2026 sungguh menyenangkan. Kami tidak hanya mengayuh sepeda melewati jalan mendatar, tanjakan dan turunan serta hutan alam menawan di Bumi Nyiur Melambai. Kami juga menikmati kuliner yang selalu menjadi idaman. Mengikuti  Jelajah Manado-Tomohon yang diselenggarakan Jelajah Bike adalah momentum merealisasikan segala keinginan dan hasrat yang terpendam.

Berfoto bersama di kawasan MegaMas Kota Manado, Jumat (15/4/2026). Arsip Jelajah

Saat tiba pada Kamis, 16 April 2026 pagi, setelah menyerahkan boks sepeda kepada panitia di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, sebagian besar peserta langsung berburu kuliner. Ada yang mencari bubur manando. Ada pula mencari aneka jenis ikan segar. Kuliner ini jarang didapatkan di Jakarta dan kota domisili masing-masing. Kalau pun ada tidak selezat yang tersajikan di Manado.

Joko Kus Sulistyo alias JKS, misalnya, siang itu bersama Bambang Istadi dan Afit Rajo Bungsu bergerak menuju sebuah restoran bahari terletak di tepi pantai Manado, tidak jauh dari Jembatan Soekarno. Di sana, semua menu  hanya ikan dengan aneka jenis masakan. Ada kua kuning. Ada bakar. Sup dan goreng. Ikan yang tersedia bervariasi, seperti rahang tuna, ikan kerapu, kakap, bawal, ikan beronang. Ukurannya sedang menyerupai telapak tangan pria dewasa. Semuanya masih segar. Mungkin belum lama terkena es batu.

JKS memilih rahang tuna bakar. Dagingnya agak tebal dan masih segar. Pembakaran pun sangat bagus sehingga hasilnya sungguh lezat. “Tadi, saat datang saya lihat ada rahang tuna sehingga saya pun langsung pesan dua porsi dan meminta dibakar. Enak banget. Kalau datang ke Manado tanpa menikmati rahang tuna sepertinya belum lengkap,” ujarnya.

Bubur Manado

Octovianus Noya, Stefanus Tejo, Yoke Haulani Latif bersama belasan teman juga hari itu memprioritaskan kuliner. Dari Bandara Sam Ratulangi langsung menuju sebuah restoran ikan di tengah kota Manado. Mereka juga mengincar menu aneka ikan dan kepiting. Kuah kuning, sup, bakar dan goreng yang menjadi kuliner khas Manado.

“Datang di Manado harus makan ikan. Kualitas ikannya jauh beda dengan ikan-ikan di Jakarta. Rasanya lebih manis, gurih dan lezat,” ungkap Octovianus Noya, warga Cinere, Depok yang sudah beberapa kali mengunjungi Manado untuk urusan bisnis dan wisata.

Berfoto bersama di Jembatan Soekarno Kota Manado, Jumat (15/4/2026). Arsip Jelajah

Lain lagi dengan Yoga Dwi Cahyono, pesepeda asal Bogor. Dia tidak semata-mata menjajal kuliner Bahari, tetapi juga berburu bubur manado (tinutuan). Sudah lama dirinya mendengar cerita tentang bubur manado. Bahkan, pernah menikmatinya pada restoran di Jakarta dan Bogor. Memang enak, unik dan khas.

Tinutuan dalam bahasa Minahasa artinya campur aduk. Hal tersebut tampak dari tampilan bubur yang diolah dengan cara mencampurkan aneka sayuran seperti labu kuning (sambiki), bayam, kangkung, daun gedi, jagung, kemangi, singkong, dan beras. ke dalamnya sehingga bubur ini terasa begitu enak dan memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Tinutuan dapat disajikan dengan sajian pendamping lain, seperti ikan asin, tahu goreng, perkedel nike, sambal roa, cakalang fufu, perkedel jagung, dan sebagainya. Berbeda dengan bubur pada umumnya, hidangan ini tidak menggunakan daging dan memiliki cita rasa gurih alami yang kaya akan nutrisi.

Maka ketika berada di Manado, Yoga ingin membuktikan mana yang lebih enak: bubur manado produksi di Jakarta dan Bogor atau di Manado. Setelah mengetahui warung yang menjual bubur manado terlaris di kota itu, dia pun langsung menuju lokasi. Dia mencoba satu porsi. “Ternyata bubur manado produksi di Manado memang lebih enak,” jelas Yoga.

Hasil Reklamasi

Setelah selesai menikmati kuliner khas Manado pada siang itu, mereka pun menuju Hotel Grand Whiz di Kawasan Megamas untuk registrasi dan merakit sepeda. Kawasan ini merupakan hasil reklamasi yang digagas Gubernur Sulawesi Utara Cornelis John Rantung (1985-1995), kemudian direalisasikan Gubernur Evert Ernest (EE) Mangindaan (1995-2000). Reklamasi itu sejauh 10 kilometer dan menjorok ke laut mencapai kurang lebih 500 meter.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (42): Saya Pun Memasuki Wilayah Belanda

Wilayah tersebut dalam dua dekade terakhir telah berkembang menjadi salah satu urat nadi ekonomi di Kota Manado. Dalam kawasan berkembang pusat perbelanjaan, ruko, perkantoran perusahaan swasta, restoran, hotel dan sejenisnya. Infrastruktur, seperti jalan raya yang tersedia pun beraspal mulus dan lebar sehingga pada pagi hari dan sore hari menjadi sentra aktivitas lari.

Saat melewati Jembatan Soekarno. Arsip Jelajah

Hotel ini berada tidak jauh dari tepi pantai sehingga pada sore harinya, beberapa di antara kami pun menyempatkan diri menikmati matahari terbenam. Panorama yang indah dan menawan pun mengakhiri perjalanan hari itu untuk menyiapkan diri menikmati gowes hari pertama di Manado.

Selama mengitari Kota Manado dan sekitarnya tampak masyarakat setempat baru selesai merayakan Paskah Nasional pada Rabu (8/4/2026). Suasana itu masih meninggalkan kesan yang luar biasa. Rumah-rumah warga dan sisi kiri serta kanan jalan raya masih marak dengan dekorasi-dekorasi bernuansa Paskah. Di gang, lorong dan jalan-jalan kecil tampak lampu-lampu hias berornamen Paskah.

Bahkan di setiap persimpangan jalan terpasang baliho dan spanduk berisi ucapan merayakan Paskah Nasional dari para elit politik lokal, nasional dan sejumlah anggota DPRD dan DPR RI. Maklum, mayoritas warga Sulawesi Utara penganut agama Kristen.

Menuju Likupang

Perjalanan kami ke Sulawesi Utara atau negeri Kawanua kali ini tidak semata-mata untuk menikmati aneka kuliner khas Manado. Aktivitas ini hanyalah ikutan. Kegiatan utama adalah mengayuh sepeda dalam event bernama Jelajah Manado-Tomohon. Pesertanya ada 46 orang berasal dari Singapura, Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, Semarang, Bandung, Surabaya dan Makassar.

Jumat, 17 April 2026 adalah hari pertama perjalanan bersepeda. Hari itu gowes ke arah Minahasa Utara, persisnya wilayah Likupang, timur laut Manado. Dari sana, kami pun kembali lagi ke ibukota Provinsi Sulawesi Utara tersebut. Likupang termasuk salah satu lokasi wisata yang sedang berkembang.

Keluar dari kawasan Megamas, kami bergerak ke kiri melewati Jalan Boulevard II melewati Jembatan Soekarno yang menjadi salah satu ikon Kota Manado. Di sini semua peserta berhenti sejenak untuk berfoto-foto. Pagi itu cuaca sangat cerah dengan langit biru yang menawan membuat panorama kota yang pada 14 Juli 2026 berusia 403 tahun tersebut sungguh indah.

Menuju ke Minahasa Utara. Arsip Jelajah

Kami melanjutkan perjalanan melewati muara Sungai Tondano, kemudian masuk Jalan Mayjen Theo Syafei dan Jalan Hasanuddin, Jalan Arie Lasut, menuju arah Bandara Sam Ratulangi, Jalan Raya Kolongan hingga di kawasan Tatelu.

Pada rute ini, kami melewati jalan mendatar yang cukup panjang dengan selingan tanjakan halus. Arus kendaraan roda dua dan roda empat pada pagi itu pun cukup ramai dengan pengantaran anak-anak masuk sekolah, serta karyawan swasta dan pegawai yang hendak menuju ke tempat kerja.

Touring ini tidak melibatkan pengawalan dan pengamanan dari kepolisian. Salah satu pertimbangan panitia yakni jumlah peserta terbatas sehingga masih memudahkan kontrol. Panitia menggunakan tiga unit sepeda motor untuk mengatur dan mengontrol perjalanan peserta. Di setiap pertigaan atau perempatan selama lampu merah menyalah, rombongan kami pun berhenti sejenak. Anggota polisi lalu lintas yang berjaga di persimpangan begitu melihat rombongan sepeda kami selalu memberi perhatian dengan ramah.

Kebun Kelapa

Memasuki wilayah Tatelu, kami sudah berada pada jalan raya yang menghubungkan ke Likupang. Arus kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua pun relatif sepi. Kontur jalan pada rute ini pun masih mendatar dengan variasi tanjakan halus dan sekali-kali ada tanjakan cukup tinggi tapi dalam jarak yang pendek. Memasuki wilayah Likupang timur, kami melewati turunan yang cukup panjang.

Rombongan pesepeda terpecah dalam dua kelompok besar, yakni yang kuat yang melaju cukup kencang terus berada di depan. Kelompok berikutnya mengayuh dengan kecepatan berkisar 20-25 kilometer per jam. Meski begitu menikmati kayuhan dalam suhu udara yang cukup kalem, mereka pun tidak lupa berhenti sejenak di beberapa lokasi yang dianggap menarik untuk berfoto dan merekam video.

Memasuki wilayah Likupang Timur, Minahasa Utara. Arsip Jelajah

Sepanjang perjalanan, di kiri dan kanan jalan tampak cukup banyak kebun kelapa milik petani setempat. Sulawesi Utara merupakan penghasil kelapa terbanyak di Indonesia. Volume produksi berkisar 266.052 ton hingga 272.373 ton per tahun dengan lahan sekitar 390.000 hektar. Seiring dengan itu masuk pula investasi perusahaan swasta yang mengolah aneka produk turunan kelapa. Hingga tahun 2025 tercatat sekitar lima perusahaan yang berinvestasi di Sulawesi Utara yang memproduksi sabut kelapa, briket kelapa, bungkil, tepung dan santan kelapa. Semua produk tersebut umumnya diekspor ke berbagai negara antara lain China, Jerman, India, Jepang dan Korea.

BACA JUGA:  Ketika Timnas Swiss Hancurkan Perancis

Sabut kelapa, misalnya, adalah bagian terluar buah kelapa. Material ini dapat diolah melalui mesin pengurai menjadi dua produk utama yakni serat sabut (coco fiber). Serat ini tergolong kuat dan tahan air sehingga kerap diolah menjadi tali, sapu, keset dan jarring sabut atau cocomesh untuk pencegahan erosi. Dalam industri manufaktur, serat sabut juga berguna sebagai bahan pengisi jok mobil dan kasur spring bed.

Sulit Dapatkan Kelapa Muda

Ada pula serbuk sabut (coco peat). Dalam pertanian dan Perkebunan, coco peat sangat efektif sebagai media tanam dan mulsa, sebab mampu menyerap serta menahan air dengan sangat baik. Sabut kelapa juga kaya aka unsur hara seperti kalium (K) yang mampu menyuburkan tanah.

Saat ini permintaan serbuk sabut cukup tinggi dari negara-negara yang memiliki empat musim. Di sana, petani setempat pun mengingikan usaha pertanian berlangsung sepanjang tahun sehingga dikembangkan rumah kaca (greenhouse): bangunan tertutup yang didisain khusus untuk menciptakan iklim mikro yang optimal bagi tanaman. Bangunan ini memungkinkan pengaturan suhu, kelembapan cahaya dan sirkulasi udara guna melindungi tanaman dari cuaca ekstrim dan hama sehingga produktivitas dan kualitas panen meningkat signifikan. Usaha dalam rumah kaca ini membutuhkan serbuk sabut sebagai media tanam.

Bersepeda di wilayah Minahasa Utara relatif sepi sehingga nyaman dan menyenangkan. Arsip Jelajah

Itu sebabnya, petani di Sulawesi Utara lebih mengutamakan memetik buah kelapa tua dibanding buah kelapa muda. Dalam kepala tua ada empat varian yang dijual sekaligus yakni sabut, tempurung, daging dan air. Harganya pun tentu jauh lebih menarik. Sementara kelapa muda hanya air dan sedikit daging.

Tidak mengherankan, selama bersepeda di Sulawesi Utara nyaris tidak ditemukan penjualan kelapa muda. Ulfi Haryati Noya, pesepeda asal Cinere sempat menanyakan hal itu kepada saya, “Manado katanya penghasil kelapa, tetapi kok saya tidak pernah lihat orang jual kelapa muda. Ada apa ya”.

Saya kemudian menjelaskan bahwa petani Sulawesi Utara dalam beberapa tahun terakhir lebih memilih menjual kelapa tua. Pilihan itu dilakukan setelah berkembangnya industri hilir kelapa yang memproduksi aneka macam produk turunan, seperti sabut, briket, santan, tepung dan lainnya.

Terguyur Hujan Lebat

Di Likupang Timur kami bergerak ke kanan hingga di pertigaan Indomaret Maen, lalu belok ke arah kanan lagi. Kami masih melewati wilayah Kabupaten Minahasa Utara. Kontur jalan pada rute ini pun masih mendatar. Namun, sekitar tiga kilometer dari persimpangan itu, kami kembali menghadapi tanjakan halus nan panjang. Beberapa kali diselingi turunan, tetapi puluhan meter kemudian menanjak lagi.

Memasuki Desa Penenek, Kecamatan Likupang Timur ada sebuah gapura penanda batas wilayah Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung. Sebagian pesepeda berhenti sejenak untuk berfoto sebagai kenangan pernah melewati wilayah tersebut. Maklum, semua pesepeda yang mengikuti event ini baru pertama kali bersepeda di wilayah Minahasa Utara.

“Setiap kali melewati lokasi yang strategis, saya berusaha untuk berhenti sejenak dan berfoto atau mengambil video. Ini sebagai bukti sahi bahwa saya pernah gowes di jalur ini,” ujar Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Conculting.

Rute yang nyaman dan mengasyikan. Arsip Jelajah

Saat melewati Penenek, udara tampak mulai mendung. Kami tidak mempedulikan kondisi itu. Malah berharap hujan segera turun agar dapat menikmati kesegaran tubuh dari air yang jatuh dari langit tersebut. Benar saja, tidak lama berselang hujan pun mengguyur. Kami terus mengayuh seraya menikmati kontur jalan rolling yang ada.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (43): Pulau di Indonesia Jadi Nama Jalan di Amsterdam

Siang itu, akhirnya kami berhenti di kilometer 60, persisnya di sebuah aula Gereja Kristen Minahasa Pinangsungkulan, untuk makan siang. Kami beristirahat cukup lama sebab menunggu hujan redah.

Sekitar pukul 13.15 Wita, rombongan pertama melanjutkan kembali kayuhan. Selang 15 menit berikutnya kelompok kedua, dan kurang lebih pukul 13.40 gelombang ketiga atau terakhir bersepeda lagi. Rute ini langsung menghadapi tanjakan dengan kemiringan sekitar tujuh persen. Namun semakin ke depan kemiringan jalan pun meningkat.

Tanjakan ini tidak panjang. Hanya sekitar satu kilometer. Beberapa peserta kelompok kedua dan ketiga sepertinya tidak siap, sehingga sempat memilih menuntun saja sepedanya. Selepas tanjakan ngehek barulah mereka mengayuh kembali.

Menikmati Kabut Tebal

Perjalanan kami dari Pinangsungkulan semakin menemukan tantangannya. Tanjakan yang dilewati masih di bawah 500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Akan tetapi, selalu diikuti dengan turunan pendek, kemudian menanjak lagi sehingga menguras tenaga yang cukup signifikan serta menguji mental. Beberapa peserta sempat mengalami kram kaki, dan ada yang terpaksa minta dievakuasi.

Meski demikian, dalam setiap ujian hidup selalu terselip momentum untuk mengisi bathin guna menemukan kebahagiaan. Dalam rute ini terutama setelah kilometer 70, kami melewati Hutan Cagar Alam Dua Saudara di Kota Bitung. Hutan tersebut cukup padat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Saat itu kabut tebal menyelimuti kawasan hutan ini sehingga terasa sejuk, adem dan sangat menyegarkan. Kabut terjadi mungkin karena baru selesai hujan lebat.

“Saya merasa senang sekali bisa gowes di tengah kabut tebal saat melewati hutan cagar alam itu. Hati terasa adem dan bahagia. Inilah titik yang paling saya suka dari touring hari pertama ini,” kata Philips Karundeng, lelaki berdarah Minahasa yang lahir dan menetap di Makassar.

Saat melewati Kawasan Cagar Alam Dua Sudara, Bitung. Arsip Jelajah Bike

Lim Chin Kah, peserta dari Singapura juga mengakui hal serupa. “Saya juga paling suka mengayuh di hutan alam itu. Berkabut tebal. Sepi dari lalu Lalang kendaraan bermotor. Bagus sekali. Udaranya sangat bersih, membuat hati jadi tenang dan berbunga. Kita dapat menghirup udara bersih yang berkualitas tinggi,” ungkap Lim yang mengaku baru pertama kali mengunjungi Sulawesi Utara. Dia datang bersama istrinya Siow Suck Wan yang juga penggila touring sepeda.

Tidak lama setelah melewati hutan cagar alam, kami memasuki lagi jalan raya utama yang menghubungkan dengan pusat Kota Bitung. Kami terus melaju. Beberapa kali melewati jembatan yang bagian bawah merupakan lintasan jalan tol menghubungkan Manado-Bitung. Inilah satu-satunya jalan tol di Sulawesi Utara. Bitung adalah sentra pelabuhan ekspor-impor untuk Sulawesi Utara.

Rute Menantang

Selepas Airmadidi, kami masih melewati jalan mendatar dan tanjakan halus yang cukup jauh kemudian disusul turunan yang cukup panjang hingga memasuki Kota Manado. Arus kendaraan pun mulai padat sehingga semua peserta diingatkan selalu waspada serta upayakan dalam rombongan. Kita tidak pernah tahu perilaku para pengendara kendaraan bermotor setempat terhadap pesepeda.

Memasuki Kota Manado, kami masih melewati rolling di beberapa titik. Sekitar pukul 16.00 Wita, peserta pun mulai tiba kembali di Hotel Grand Whiz di Kawasan Megamas. Yang terakhir masuk pukul 17.15 Wita. Hari pertama ini, kami menuntaskan perjalanan sejauh 120,74 kilometer dengan total ketinggian atau elevation gain 1.526 meter.

Fitri Barnas, peserta dari Depok, Jawa Barat mengaku sangat puas dengan touring hari pertama ini. “Secara keseluruhan, rute ini sungguh menarik. Jalannya beraspal mulus. Tanjakan yang kita lewati tidak terlalu berat, sebab selalu ada turunan. Namun rolling yang berkali-kali memang menjadi tantangan yang besar. Inilah touring. Sebagai penjelajah, kita selalu siap lahir-bathin untuk menghadapi segala situasi,” ungkap Fitri Barnas yang juga baru pertama kali mengunjungi Manado.

Lim Chin Kah, peserta dari Singapura terus mengayuh menikmati tanjakan di Minahasa Utara. Arsip Jelajah

Rudi Pasaribu dari Jakarta juga menilai rute perjalanan hari pertama menyenangkan. Jalan beraspal mulus dengan rolling yang lumayan menantang disertai tanjakan yang cukup. “Saya sangat meniknati rute ini. Apalagi ada kopi yang dihidangkan pak pendeta saat makan siang terasa pas banget, sebab tubuh basah akibat kehujanan,” kata Rudi.

Sementara itu Anita Sujarwo dari Jakarta yang baru tiba di Manado pada Jumat pagi juga tidak mau melewatkan kesempatan ini. Setelah menyimpan barang-barangnya di Hotel Grand Whiz, dia langsung gowes solo melewati rute yang sama. Di kilometer 65 sempat kelelahan, tetapi tidak mau menyerah dan terus mengayuh. Sekitar pukul 19.20, Anita pun mencapai finish. “Saya rugi kalau sudah tiba di Manado tetapi tidak menjajal rute hari pertama. Makanya, saya nekad gowes dan berhasil menuntaskannya. Puas dan senang banget,” ujarnya. (Bersambung)

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Video

 

Advertisement

Trending

Copyright © 2026 Blalak.com