Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (18): Border Pakistan-India Bagai Stadion Bola
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (18): Border Pakistan-India Bagai Stadion Bola

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAOktober 18, 20231 Komentar5 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Mengangkat kaki hingga sejajar kepala. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Pos perbatasan negara Pakistan dan India mungkin termasuk yang terunik di dunia. Setiap sore ribuan orang, termasuk wisatawan asing mendatangi border di Wagah (Pakistan) dan Attari (India). Mereka hanya ingin menyaksikan upacara penurunan bendera. Acara ini menjadi menarik karena menampilkan atraksi pasukan perbatasan yang unik dan keren.

Saya memasuki wilayah Pakistan pada Minggu, 8 Oktober 2023. Hari itu, tepat tiga bulan saya berkelana. Ternyata sudah cukup jauh saya mengayuh sepeda. Pakistan menjadi negara kesembilan.

Peta Pakistan. Negara tujuan berikutnya yakni Iran.

Minggu pagi itu, saya dan kru berangkat dari Amristar pukul 08.00 menuju ke border Attari (India)-Wagah (Pakistan) sejauh 28 kilometer. Sekitar jam 10.00 sudah tiba di Attari, namun aktivitas di pos lintas batas negara tersebut belum berlangsung.

Sambil menunggu pembukaan border, kami melakukan ritual perbatasan di salah satu lokasi dalam kawasan tersebut. Awalnya mendengarkan lagu kebangsaan India, negara yang sesaat lagi akan kami tinggalkan, kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Setelah itu, kami menuju ke gerbang utama di Attari. Petugas lalu mengarahkan ke pintu sejenis yang lebih kecil. Di sana, kantor imigrasi serta bea dan cukai beroperasi. Di situ, ada pasukan pengaman perbatasan (border security force/BSF) dari anggota kepolisian. Saya mencoba mengobrol dengan mereka seraya memperkenalkan diri sebagai purnawirawan polisi dari Indonesia yang sedang bersepeda mengelilingi dunia.

Pasukan Pengamanan Perbatasan di Wagah, Pakistan. Foto: Arsip Royke Lumowa

Mereka memberikan respon yang baik, bahkan seorang pimpinan BSF mendampingi kami menemui petugas imigrasi serta bea dan cukai. Proses pelaporan berlangsung lancar. Mobil pun tidak ada biaya tambahan seperti yang diberlakukan di negara lain sebelumnya.

BACA JUGA:  Orang Flores, Bijaklah Mengelola Pesta

Sesudahnya, kami menuju gerbang keluar India untuk selanjutnya masuk ke gerbang utama wilayah Pakistan di Wagah. Jaraknya sangat dekat, kurang lebih 50 meter. Sebelum keluar dari wilayah India, dua petugas BSF memeriksa kembali paspor dan visa.

Masuk Pakistan

Setelah memastikan dokumen perjalanan kami sudah tuntas, mereka membukakan pintu gerbang, kemudian menyilakan kami keluar dari India, dan menuju ke pintu gerbang Pakistan. Pintu gerbang kedua negara memiliki tinggi dan lebar yang sama. Yang berbeda hanya ornamen.

Di gerbang Pakistan, petugas perbatasan dari satuan tentara yakni Pakistan Rangers, memeriksa dokumen perjalanan, lalu membukakan pintu untuk kami memasuki border Wagah. Petugas kemudian mengarahkan kami menuju pintu berikutnya yang jaraknya sekitar 50an meter.

Penonton upacara penurunan bendera di pos perbatasan Wagah (Pakistan)-Attari (India). Foto: Arsip Royke Lumowa

Melewati pintu itu ada kompleks perkantoran imigrasi serta bea dan cukai. Saat pelaporan, petugas melakukan pengambilan foto dan sidik jari. Pengurusan dokumen mobil dengan bea dan cukai pun lancar sehingga tidak lebih dari dua jam semuanya tuntas.

Dari Wagah, kami melanjutkan perjalanan menuju Lahore, jaraknya kurang lebih 30 kilometer. Lahore termasuk salah satu kota besar di Pakistan. Jalan yang ada umumnya mendatar dan sedikit berdebu. Sempat pula melewati pasar tradisional.

Di Lahore, kami istirahat sejenak. Tetapi menjelang sore, kembali lagi ke Wagah untuk menyaksikan upacara penurunan bendera di perbatasan Pakistan dan India. Upacara ini agak unik dan cukup fenomenal.

Kegiatannya setiap hari menjelang matahari terbenam, dan telah berlangsung selama puluhan tahun. Saat itu pula terjadi pergantian pasukan penjaga perbatasan.

Ribuan orang setiap sore selalu mengunjungi border untuk menonton upacara tersebut. Bahkan, belakangan telah menyedot banyak wisatawan asing.

BACA JUGA:  Jelajah Toba Samosir (2), Berbahagia Bersama Om Octo

Dari pintu gerbang utama perbatasan kedua negara selalu ada gerbang yang lebih kecil di masing-masing negara. Jarak kedua pintu tersebut kurang lebih 50 meter. Di koridor tengah merupakan wilayah steril.

Bersama Yayak M Saat, berada di tengah penonton upacara penurunan bendera. Foto: Arsip Royke Lumowa

Upacara penurunan bendera dilakukan di area tersebut. Area steril baik di wilayah India maupun Pakistan tersedia tribun terbuka mirip stadion mini yang berada di kiri dan kanan jalan. Tribun tersebut bertingkat. Penonton umumnya menempati kursi yang ada pada setiap level. Sebagian penonton memilih berdiri di pinggir kiri dan kanan jalan.

Angkat kaki tinggi 

Pakaian yang dikenakan tergolong unik. Topinya seperti jambul burung menjulang tinggi dengan warna mayoritas merah. Pasukan Pakistan dan India mengenakan topi yang mirip.

Yang menarik yakni dalam upacara tersebut langkah pasukan cukup cepat. Setiap gerakan selalu ditutup dengan mengangkat kaki sampai sejajar kepala. Di Pakistan, musik gendang mengiringi setiap langkah petugas. Sebaliknya, di India hanya dengan beberapa teriakan yang tegas.

Pasukan mengangkat kaki hingga sejajar kepala. Ini salah satu atraksi yang unik dalam upacara penurunan bendera di pos perbatasan ini. Foto: Arsip Royke Lumowa

Mula-mula, ada dua petugas dari India dan Pakistan mendatangi pintu gerbang dari masing-masing negara. Jarak pintu gerbang kedua negara ini tidak lebih dari satu meter. Mereka membuka pintu dan saling memberikan hormat, mengisyaratkan bahwa pasukan kedua negara telah siap melakukan upacara.

Beberapa kali pasukan dari Pakistan dan India yang memiliki peran yang sama selalu saling berjalan ke gerbang, kemudian dibukakan pintu, dan mereka saling memberi hormat yang ditutup dengan gerakan mengangkat kaki setinggi kepala, bahkan lebih. Gerbang ditutup kembali.

BACA JUGA:  Jelajah Sembilan Candi (2): Terpukau di Jalur Luna Maya
Mengangkat kaki hingga sejajar kepala. Foto: Arsip Royke Lumowa

Puncak dari kegiatan ini adalah penurunan bendera. Menjelang upacara ini, petugas membuka gerbang kedua negara. Setelah petugas kedua negara saling memberi hormat, penurunan bendera pun dilakukan bersamaan.

Selesai penurunan, dan bendera telah berada di tangan para petugas, pintu gerbang utama kedua negara langsung ditutup. Penutupan itu sekaligus menandakan waktu kegiatan di perbatasan pun berakhir. Penutupan itu berlangsung hingga keesokan harinya menjelang beroperasinya kegiatan pelayanan.

Sore itu, sekitar 2.500 orang yang menonton upacara tersebut. Sekitar 1.000 orang di wilayah Pakistan, dan 1.500 orang di border India. Pada hari biasa pun jumlah penonton agak berkurang, tetapi jumlahnya selalu ribuan orang. Selesai upacara, kami pun kembali ke Lahore.

Penonton upacara penurunan bendera. Lokasinya seperti stadion sepak bola. Foto: Arsip Royke Lumowa

Kota Lahore setingkat provinsi. Meski demikian, kotanya bersih, jauh lebih bersih dari Kota New Dehli, ibukota India. Jalan protokol di Lahore umumnya lebar dan memiliki banyak pohon. Tetapi, semua hotel di Lahore dalam pengawasan yang sangat ketat oleh kepolisian setempat sambil membawa senjata laras panjang. Di pintu gerbang hotel pun terpasang portal. (bersambung)

Editor: JANNES EUDES WAWA

Jangan lewatkan!!!

Catatan Royke Lumowa (17): Ketika Anak Sekolah di India “Keroyok” Saya

 

 

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

1 Komentar

  1. Pingback: Keluar Hotel Polisi Pakistan Wajib Kawal - blalak.com

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.