Berkelana di India selama 10 hari memberi kesan yang mengagumkan. Masyarakat negeri itu sungguh ramah dan memiliki sifat ingin tahu yang tinggi. Maka mengayuh sepeda di India, saya tidak kesepian. Ada saja warga yang mendekat untuk bersepeda bersama, menyapa dan mengajak bercerita.
Salah satu contoh saat gowes dari Ludhiana menuju Amristar pada Sabtu, 7 Oktober 2023. Sekitar pukul 09.00, saya berhenti sejenak di sebuah restoran untuk sarapan pagi. Di situ, saya berjumpa dengan puluhan siswa Sekolah Katolik Xaverius yang sedang istirahat dari sebuah perjalanan bersama para guru menggunakan bus sekolah.

Begitu melihat saya yang memiliki wajah dan kulit yang berbeda, mengenakan pakaian sepeda lengkap dengan helm, mereka langsung mendekat dan berkenalan. Mereka “mengeroyok” saya dan mengajukan cukup banyak pertanyaan. Misalnya, saya berasal dari negara mana? Mengapa saya berada di India? Perjalanan ini akan berakhir dimana?
Ada lagi yang menanyakan apa yang menjadi motivasi saya sehingga memutuskan bersepeda hingga ke Eropa? Berapa biaya untuk touring ini? Siapa yang membiayai? Berapa harga sepeda yang saya gunakan? Berapa usia saya saat ini? Bahkan, ada pula yang menanyakan apa tipe telepon seluler yang saya gunakan dan produksi tahun berapa?
Ada sekitar lima siswa di antaranya yang meminta telepon genggam saya kemudian memasukan nomor masing-masing. Mereka memohon saya mengontak pada Sabtu pukul 19.00-20.00. Mereka ingin menanyakan lagi beberapa hal. Siang itu masih waktu sekolah sehingga siswa dilarang membawa telepon genggam.

Yang menarik dari peristiwa ini adalah keberanian para siswa ini untuk bertanya kepada siapa saja. Tidak peduli orang baru. Termasuk juga memiliki kemauan yang besar untuk menggali informasi.
Usia pun masih di bawah 15 tahun. Mereka berbahasa Inggris dengan lancar dan fasih. Ini yang membuat saya salut dan memberi respek yang besar. Saya menjawab semua pertanyaan dengan baik.
Keramahan warga
Ketika saya bersepeda dari Bettiah menuju Lucknow pada 29 September 2023 juga mengalami hal serupa. Saat pagi hari, masyarakat setempat, banyak yang bersepeda ke tempat kerja, sekolah, pasar, sawah dan lainnya. Kami berpapasan. Mereka selalu menyapa dengan ramah.
Ada pesepeda yang mendekat ke saya, dan kami gowes beriringan. Mereka tampak heran melihat saya yang sangat asing bersepeda sendiri di India.
Begitu pula ketika saya berhenti untuk istirahat sejenak di tengah jalan. Pasti tidak lama kemudian, warga setempat datang mendekat. Hal itu tidak hanya terjadi pada siang hari, pada malam pun sama. Tak lupa mereka menyampaikan dukungan, dan mendoakan agar perjalanan ini tetap lancar hingga finis.

Kadang di malam hari, ada yang mengikuti saya menggunakan motor, berboncengan tiga orang pula. Kalau berpikir negatif, maka timbul prasangka bakal ada aksi kriminal. Ternyata tidak. Mereka memang penasaran melihat ada orang asing bersepeda di malam hari. Hal seperti ini belum pernah terjadi di wilayah tersebut.
Saat bertemu, mereka menyapa dengan ramah dan menanyakan tujuan perjalanan. Setelah saya menjelaskan, mereka pun memahami dan memberi apresiasi yang tinggi.
Memang setelah mengecek di strava ternyata jalur itu termasuk tidak ada segmen. Artinya, tidak ada yang bersepeda di jalur ini. Kok bisa? Mungkin pernah ada, tetapi mereka tidak menggunakan strava.
Yang menarik perjalanan bersepeda dari Bettiah hingga Lucknow adalah saya gowes selama 29 jam. Mulai pukul 08.30 pada 28 September 2023 hingga 29 September 2023 pukul 14.00. Hanya beristirahat sejenak di beberapa tempat, kemudian melanjutkan lagi.
Menjelang petang, persis di ujung jalan tol, ada pedagang yang menawarkan daging kelapa tua. Saya pun membelinya, sebab teringat masa kecil di Minahasa, dan saat muda bertugas di Papua. Kelapa menjadi makanan rutin.
Sempat kantuk
Sekitar pukul 03.00 dinhari pada 29 September 2023, saya merasa lapar, Menemukan sebuah warung di tepi jalan, tetapi persediaan makanan sudah habis. Pemilik warung hanya menyediakan air panas dan telur ayam. Akhirnya, kami mengeluarkan kompor portable dari mobil pengiring dan memasak mie instan di tepi jalan. Nikmat sekali.
Gowes pun berlanjut. Sekitar pukul pukul 05.00, saya merasakan kantuk luar biasa. Saya mencoba mengatasinya dengan gowes berdiri sejauh 100-200 meter, dan berhasil.
Pagi itu, kami melewati sebuah hotel di Kota Ayodia. Saya memutuskan beristirahat sejenak untuk sarapan dan membersihkan badan. Maklum saja sepanjang perjalanan, saya “bercumbu” dengan debu bercampur deru. Jersey dan jaket tampak sangat kotor. Raut wajah saya telah menyerupai pasukan yang sedang melakukan penyamaran untuk menyerbu lawan.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Siang itu, menyempatkan diri makan di sebuah warung di tepi jalan. Menunya ikan air tawar. Kebetulan tidak jauh dari jalan raya, ada sebuah sungai yang mengalir dengan volume air yang lumayan banyak. Ikannya enak dan lezat.
Saat masih di Jakarta, sejumlah teman mengingatkan bahwa kalau di India hati-hati makan di tepi jalan. Akan tetapi, setelah saya menjalaninya di India ternyata kekhawatirkan tersebut tidak terbukti. Saya dan kru aman-aman saja. Yang penting, kita berpikir positif saja. Semuanya pasti baik-baik.
Saya bersepeda lagi. Akan tetapi baru beberapa kilometer, kantuk datang lagi. Saya kemudian mencoba kembali gowes berdiri. Sempat teratasi, namun sesaat kemudian kambuh kembali.
Pukul 14.00 saya memutuskan berhenti gowes. Total jarak yang dikayuh selama 29 jam tersebut mencapai 345,67 kilometer. Selebihnya saya loading ke Lucknow, dan tiba pukul 16.00.
Hari berikutnya, yakni Minggu, 30 September 2023, saya bersepeda kembali mulai pukul 08.00. Perjalanan kali ini menuju New Dehli.
Tol ekspres
Pagi itu, udara di Lucknow masih cerah. Baru berjalan sekitar 8 kilometer, di hadapan ada pertigaan. Belok ke kiri untuk masuk jalan tol, sedangkan jalan lurus akan melewati jalan arteri. Ternyata jalan tol yang ada tergolong kelas satu, yakni expressway. Saya berpikir, selama ini belum pernah melewati jalan tol kelas satu. Dalam hati bertanya, apakah boleh melewati jalan tol ekspres?
Saya berdiskusi dengan kru seraya melihat rambu yang terpajang di pintu tol. Di sana, tidak ada satu pun rambu yang menegaskan sepeda dilarang masuk tol.
Saya kemudian bertanya kepada sopir truk dan bus yang mangkal di dekat jalan masuk tol, apakah sepeda boleh menggunakan tol ekspres? Mereka menjawab, tidak ada larangan. Sepeda bisa melewati jalan tol tersebut.
Akan tetapi, saya masih ragu, sebab ini adalah jalan tol kelas satu: expressway. Lihat di google, expressway hanya untuk kendaraan minimal roda empat.

Saya akhirnya memutuskan masuk. Beberapa meter kemudian langsung menghadapi jalan tol yang begitu lebar, bersih tidak berdebu dan bebas sampah. Akan tetapi, sepi dari kendaraan.
Ada bahu jalan dengan lebar sekitar 2,5 meter. Saya mengikuti lajur tersebut. Setelah sekitar 5 kilometer baru ketemu pintu tol. Di pintu itu juga tidak ada pengalihan arus. Saya membayangkan kalau sepeda dilarang masuk, maka sebentar saya harus balik lagi sejauh 5 kilometer. Lawan arus pula. Repot banget nih.
Ada landasan pesawat
Saya maju terus, ambil jalur paling kiri. Di dekat gardu ada jalan kecil. Di situ, ada seorang petugas berdiri, saya menyapanya, dan bertanya apakah sepeda boleh melewati jalan tol ekspres ini?
Dia manggut-manggut, dan membukakan palang yang semula ditutup, lalu menyilakan saya melewatinya. Saya bertanya lagi berapa yang harus saya bayar? Dia jawab bahwa tidak ada bayaran. Untuk sepeda, gratis. Saya langsung menyampaikan terima kasih. Sedangkan, kendaraan lainnya harus membayar biaya enam kali lipat dari tarif tol biasa.
Saya senang sekali, sebab baru kali ini melewati jalan tol aktif. Saya betul-betul menikmati perjalanan ini. Seakan-akan tidak mau berhenti bersepeda. Biasanya di Indonesia jalan tol bisa gowes saat belum beroperasi.
Setiap 30 kilometer, saya berhenti sejenak untuk istirahat. Di dalam tol express juga ada rest area, dan saya memanfatkan untuk makan dan minum.

Yang menarik dari jalan tol ini adalah ada lokasi tertentu dimana badan jalannya sangat lebar dan lurus sejauh kurang lebih 10 kilometer. Lokasi itu disiapkan menjadi tempat pendaratan darurat pesawat. Dalam lintasan tersebut tersedia marka seperti di landas pacu pesawat umumnya. Keren sekali.
Memasuki tengah malam, sekitar pukul 23.58 masih memutuskan berhenti bersepeda. Di saat itu, data pada garmin saya tercatat bahwa total jarak yang dikayuh selama September telah mencapai 1.928 kilometer. Angka ini tergolong keramat, sebab tahun itulah para pemuda mendeklarasikan Sumpah Pemuda, awal mula perjuangan untuk Indonesia Merdeka.
Minggu, 8 Oktober 2023 pagi, saya bersepeda sejauh 30 kilometer dari kota Amristar menuju border Attari (India)-Wagah (Pakistan). Urusan di imigrasi serta bea dan cukai kedua negara pun berjalan lancar sehingga siang harinya, sudah memasuki Pakistan. Dari Wagah langsung menuju kota Lahore sekitar 30 kilometer. Pakistan menjadi negara kesembilan yang saya lalui sejak dari Jakarta. Hari ini juga genap tiga bulan touring ini. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan lewatkan!!
Catatan Royke Lumowa (16): Visa India Tidak Bisa Lewat Darat
