
Oleh: JANNES EUDES WAWA
Di kalangan para pesepeda, bersepeda di Bali adalah impian. Selain sebagai daerah wisata dunia, Bali juga selalu menawarkan keunikan, terlebih lagi dipadukan dengan sejumlah aktivitas budaya dan tradisi. Perpaduan itu membuat daya tarik Pulau Dewata ini begitu kuat.
Hal itu juga dirasakan para pesepeda yang mengikuti Jelajah Bali Bike yang dilakukan pada 18-19 Juni 2022 lalu. Hingga kini kesan keunikan Bali masih begitu kencang mengiang. Apalagi, touring sepeda saat itu bersamaan dengan hari raya Kuningan. Sebagian besar warga Bali keluar rumah, mengenakan pakaian tradisional, dan berduyun-duyun ke Pura sambal membawa sesajen.
Khairul Azmi Moktar, pesepeda asal Selangor, Malaysia, mengaku baru pertama kali bersepeda di Bali. Kesan yang didapat begitu luar biasa. “Kami tidak menyesal berparitipasi dalam Jelajah Bali Bike ini. Jalur yang dipilih sangat mengasyikan, terutama pada hari pertama dari Sanur ke Kintamani pergi pulang. Jalannya sepi, banyak pohon, melewati hutan bambu, sawah dengan padi yang tumbuh subur, bahkan suhu udara pun kalem,” ujarnya.
Itu sebabnya, tanjakan panjang sejauh kurang lebih 35 kilometer mulai dari Tohpati (Klungkung) hingga di Kintamani dan Penelokan meski berat, tetapi tetap menyenangkan. Lebih menarik lagi, jalan menuju Kintamani di kiri dan kanan jalan terpasang penjor oleh warga setempat. Di hampir di setiap pemukiman, warga Bali keluar dari rumah masing-masing dengan membawa sesajian untuk di bawah pura terdekat.
Hari raya Kuningan sering disebut Tumpek Kuningan jatuh pada hari Sabtu kliwon, Wuku Kuningan. Pada hari itu umat Hindu di Bali melakukan pemujaan kepada para dewa untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntutan lahir bathin. Hari raya Kuningan terjadi pada 10 hari setelah Hari Raya Galungan.
Penjor dipasang tepat pada hari penampahan galungan, setelah jam 12 siang. Hal ini bermakna bahwa ketika hari raya penampahan galungan manusia telah berperang melawan pikiran yang kotor, berperang melawan sifat negatif, dan sifat ego. Setelah memenangkan perperangan melawan pikiran serta sifat-sifat buruk itu, maka sebagai pertanda kemenangan dipasanglah penjor.
Penjor terbuat dari sebatang bambu yang ujungnya melengkung. Batang bambu itu dihiasai janur atau daun enau yang masih muda serta daun-daun lainnya. Penjor merupakan simbol dari Naga Basuki yang artinya kesejahteraan dan kemakmuran. Bagi umat Hindu di Bali, penjor merupakan simbol gunung yang dianggap suci.
“Baru pertama kali, saya bersepeda di Bali dan Indonesia. Rasanya indah sekali. Apalagi bersepeda saat hari raya Kuningan. Kita berjalan diapit penjor. Sungguh menawan. Luar biasa. Saya salut dengan tim Jelajah Bike yang memilih touring sepeda di Bali saat seperi ini. Kami sangat puas,” ungkap Khairul. Dalam Jelajah Bali Bike tahun 2022 ini, Khairul datang bersama lima pesepeda dari Selangor dan Kuala Lumpur. “Kami pun takkan berpikir dua kali untuk mengikuti event Jelajah di masa mendatang,” tambah Khairul.

Malik, pesepeda asal Nabire juga mengaku sangat beruntung mengikuti Jelajah Bali Bike 2022 ini, sebab bisa gowes di tengah aktivitas masyarakat Bali melakukan tradisi ritual keagamaan dan budaya.
“Gowes kali ini saya mendapatkan tiga hal menarik sekaligus, yakni jalur yang keren. Gowes di tengah keindahan alam yang luar biasa, serta melihat dari dekat ritual tradisi masyarakat Bali,” ujarnya.
Dunia pariwisata di Bali memang unik. Upacara keagamaan, ritual adat dan pariwisata telah menyatu, dan saling melengkapi. Itu sebabnya, hari raya Kuningan pun menjadi daya tarik bagi wisatawan. Hal ini telah berlangsung puluhan tahun. Maka, tidak sedikit wisatawan memilih berlibur di Bali saat hari raya, sebab ingin menyaksikan dari dekat ritual adat dan upacara keagamaan.
Nuansa Bali
Jelajah Bali Bike 2022 dilakukan dua hari dengan sentral di Sanur. Hari pertama, bergerak ke arah Kintamani melewati Tohpati, dan Landih, lalu menanjak lagi hingga di Penelokan. Meski tanjakan di jalur ini mencapai kurang lebih 35 kilometer, tetapi panorama yang ada sungguh indah.
Di sepanjang kiri dan kanan jalan mulai dari Tohpati tampak masyarakat Bali: tua-muda, laki-laki dan perempuan keluar rumah dengan mengenakan pakaian putih dan kain adat membawa sesajen untuk menuju ke Pura. Tidak sedikit pula yang terlebih dahulu melakukan ritual di tepi jalan persis di depan rumah masing-masing tidak jauh dari penjor yang terpasang.
Beberapa kali selama perjalanan menuju Kintamani, peserta juga berjumpa dengan barisan warga Bali yang bersama-sama melakukan perarakan di jalan raya. Diiringi musik tradisional, mereka berjalan menuju Pura dan beberapa orang di antaranya membawa sesajen.
Menjelang Landih, ada lagi barisan serupa yang mayoritas adalah orang muda. Di antara mereka, ada beberapa orang yang mengalami kesurupan. Adanya kesurupan diyakini sebagai pertanda hadirnya sang dewa dalam acara tersebut.
“Saya senang sekali bisa menyaksikan ritual ini dari dekat. Ritual yang hadir di jalan ini memberi nuansa Bali begitu kuat dalam touring sepeda Jelajah Bali Bike ini. Benar-benar keren dan penuh kejutan untuk peserta,” ujar Engkun Kurnia, pesepeda dari Bandung.
Tidak jauh dari Kintamani, perjalanan melewati hutan pinus sejauh kurang lebih 1,5 kilometer. Jika cuaca cerah, saat berada di lokasi ini akan tampak jelas Gunung Agung di sisi kanan, dan Gunung Catur di sebelah kiri atau sebaliknya kalau berjalan dari arah Kintamani menuju Landih.
Siang itu, semua peserta berhenti sejenak di Lake View Kintamani untuk makan. Lokasi ini sangat strategis dan menarik. Dari restoran tersebut tampak jelas panorama nan eksotik Gunung Batur dan Danau Batur. Hawanya pun sejuk membuat pengunjung ingin bertahan lebih lama.

Sehabis makan, perjalanan dilanjutkan ke arah Penelokan. Masih ada tanjakan sekitar 3,5 kilometer. Beberapa peserta sempat bersungut lagi. “Kok nanjaknya ga habis-habisnya. Kapan turunnya nih”. Penelokan berada pada ketinggian sekitar 1.640 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Rute hari pertama ini memang sangat menantang, sebab menyerupai gunung atau nasi tumpeng. Perjalanan bergerak dari 10 meter di atas permukaan laut (mdpl) menuju ke 1.600an mdpl, lalu kembali ke 10 mdpl lagi.
Sekitar 30 meter menjelang Pura Batur, gowes belok ke kiri, dan mulai memasuki turunan. Mula-mula menghadapi jalan dengan aspal terkelupas hingga sejauh kurang lebih dua kilometer. Beberapa pesepeda yang menggunakan sepeda balap (roadbike) memilih menuntun sepedanya agar terhindar dari kecelakaan.
Selepas itu, jalan yang dilewati beraspal mulus. Turunan yang cukup panjang memaksa para pesepeda harus berkosentrasi penuh. Melewati Jalan Payangan, Jalan Raya Sayan Ubud hingga masuk Jalan Raya Batu Bulan, kemudian masuk ke Jalan WR Supratman, dan kembali memasuki Jalan Bypas Sanur dan finish di Inna Beach Resort yang juga menjadi lokasi start pada pagi hari.
Mulai bangkit
Pada hari kedua, bergerak ke arah selatan menuju Benoa, Tuban, Nusa Dua, Pantai Melasti, Pecatu, Uluwatu, Kuta dan Sanur. Di jalur ini peserta berkali-kali harus menghadapi jalan naik dan turun (rolling), dan terakhir menghadapi tanjakan ngehek tidak jauh dari Pantai Panjang-panjang.
Gowes hari kedua itu semakin menarik, sebab di sepanjang kiri dan kanan mulai dari Uluwatu hingga Pantai Panjang-panjang lalu lalang para wisatawan asing. Ada berjalan kaki. Ada yang bermobil, ada pula menggunakan sepeda motor. Banyak di antara mereka tidak mengenakan baju. Mereka benar-benar menikmati sengatan terik mentari, yang mana di negara asalnya termasuk barang langka.
“Senang melihat bule semakin ramai di Bali. Itu menandakan pariwisata Bali mulai menggeliat. Perputaran ekonomi di Bali mulai bergerak. Ini sangat bagus untuk masyarakat Bali, dan juga negeri kita,” kata Erwin Munandar, pesepeda asal Makassar.
Selepas Pantai Panjang-panjang, mulai menghadapi lagi tanjakan. Semakin ke depan, tanjakan terus meningkat, bahkan pada tanjakan tertinggi kemiringannya hingga 15 derajat. Hanya sebagian kecil peserta yang bisa melewati tanjakan ini dengan gowes. Selebihnya tuntun dan evakuasi.

“Gowes ini lebih pas judulnya tanjakan perih, turunan pun perih. Bayangkan, hari pertama gowes ke Kintamani tanjakan yang tiada habisnya, lalu turun lagi ke Sanur dalam jalur yang panjang, bikin kita ekstra hati-hati. Rute jalurnya mirip nasi tumpeng. Hari kedua tanjakan tidak panjang, tetapi berkali-kali bikin energi dan emosi habis terkuras. Tapi keren. Saya puas dan bahagia,” ujar Yoke Haulani Latif, pesepeda asal Jakarta.
Peserta juga mengacungi jempol untuk jajaran Kepolisian di Bali yang mengamankan dan menjaga di setiap persimpangan jalan. Kehadiran polisi sebagai jaminan rasa aman dan nyaman. “Saya salut dengan jajaran polisi di Bali yang setia menjaga event ini. Hal seperti ini jarang kami jumpai di daerah lain,” kata Chandra Widyanto, pesepeda asal DI Yogyakarta.
Jelajahi Bali memang takkan ada habisnya. Alam yang indah yang dipadukan dengan tradisi budaya telah membuat pariwisata Bali menjadi unik dan berwarna. Jalur sepedanya pun begitu banyak dari pantai hingga pegunungan. Ini yang membuat orang selalu datang lagi ke Bali. Setiap kali menjelajahi Bali selalu menghadapi kejutan. Sampai jumpa pada Jelajah Bali Bike 2023.
JANNES EUDES WAWA
Pegiat Touring Sepeda

