Oleh: STEFANUS WOLO ITU
Rohaniwan Katolik berkarya di Swiss
Pada 16 Maret 2023 lalu saat berada di Eiken, Swiss, tiba-tiba saya kembali mengenang masa-masa kecil di tahun 1970 an di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ketika itu, kami sering nginap di pondok sederhana di tengah kebun. Pondok kami beratap dan berdinding alang-alang. Tanpa pintu dan jendela. Akan tetapi, kami begitu nyaman tidur di sana baik siang maupun malam. Kami menikmati alam yang asri. Udara yang segar dan angin sejuk.
Satu hal yang membawa sukacita tersendiri bagi saya adalah melihat burung-burung beterbangan dan mendengar kicauan mereka. Saat musim tanam saya menyaksikan tekukur. Tekukur berdatangan mencotok padi atau jagung yang baru ditanam atau bertunas.

Memasuki musim jagung muda saya menyaksikan burung-burung gagak dan kakatua. Sewaktu bulir padi mulai berisi burung-burung pipit berdatangan. Saat bepergian ke sungai saya sering bertemu ayam hutan dan itik air. Begitu musim ayam menetas saya menyaksikan elang dan raja wali. Mereka mengintai dan memangsa anak-anak ayam.
Memasuki dasawarsa 1980 an burung-burung mulai berkurang. Bahkan ada burung tertentu yang sudah punah. Mengapa? Ternyata pemicunya adalah kerusakan alam dan lingkungan. Hutan dan alam yang menjadi habitat burung-burung itu semakin tidak nyaman. Tentu saja yang menjadi dalang utama adalah manusia. Perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan maklum hidup lainnya.
Belajar dari Eropa
Ketika berada di Eropa saya menyaksikan pemandangan yang asyik. Kemanapun kita berjalan pasti mendengar kicauan dan menyaksikan burung-burung beterbangan penuh sukacita. Bebek dan itik berenang ria di danau dan sungai.
Burung-burung itu tampak jinak dan tidak takut dengan manusia. Malah, manusia setempat sangat bersahabat dengan mereka. Mereka tak pernah cemas dan takut terhadap kemungkinan adanya “tembakan ketapel atau senapan angin”. Mereka menikmati kebebasan sejati. Bebas dari ancaman keserakahan manusia dan bebas untuk beterbangan kesana kemari.
Orang Eropa melindungi burung-burung. Burung-burung adalah sahabat dan sesama mahluk ciptaan. Setiap burung, setiap pohon, setiap bunga mengingatkan orang-orang Eropa betapa hebatnya berkat dan hak istimewa burung-burung itu untuk hidup. Saya pun teringat kata-kata penyair Inggris William Blake: “Burung punya sangkar, laba-laba punya jaring dan manusia punya persahabatan”.

Saya kira kita perlu menjaga dan melindungi burung-burung di kampung kita. Bagi saya burung-burung mengajarkan pelajaran hidup yang luar biasa. Yang harus kita lakukan adalah mendengar cuitan mereka.
Kita manusia harus bisa seperti burung dalam hal kebebasannya. Akan tetapi jangan seperti burung dalam sangkar, yang merasa hebat di balik sangkar emasnya. Kita perlu menciptakan lagi lingkungan yang nyaman bagi burung-burung. Burung adalah indikator lingkungan. Jika mereka dalam masalah, kita tahu bahwa kita akan segera mendapat masalah. Lihatlah burung-burung di Swiss ini.
Kirchgasse 4, 5074 Eiken AG
