Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Lindungi Burung, Berkacalah ke Eropa
Humaniora

Lindungi Burung, Berkacalah ke Eropa

Stefanus WoloBy Stefanus WoloMaret 23, 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Burung sedang bertengger di atas batu. Foto: dokumentasi stefanus wolo
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Oleh: STEFANUS WOLO ITU
Rohaniwan Katolik berkarya di Swiss

Pada 16 Maret 2023 lalu saat berada di Eiken, Swiss, tiba-tiba saya kembali mengenang masa-masa kecil di tahun 1970 an di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ketika itu, kami sering nginap di pondok sederhana di tengah kebun. Pondok kami beratap dan berdinding alang-alang. Tanpa pintu dan jendela. Akan tetapi, kami begitu nyaman tidur di sana baik siang maupun malam. Kami menikmati alam yang asri. Udara yang segar dan angin sejuk.

Satu hal yang membawa sukacita tersendiri bagi saya adalah melihat burung-burung beterbangan dan mendengar kicauan mereka. Saat musim tanam saya menyaksikan tekukur. Tekukur berdatangan mencotok padi atau jagung yang baru ditanam atau bertunas.

Burung yang bebas terbang. Foto: dokumentasi Stefanus Wolo

Memasuki musim jagung muda saya menyaksikan burung-burung gagak dan kakatua. Sewaktu bulir padi mulai berisi burung-burung pipit berdatangan. Saat bepergian ke sungai saya sering bertemu ayam hutan dan itik air. Begitu musim ayam menetas saya menyaksikan elang dan raja wali. Mereka mengintai dan memangsa anak-anak ayam.

Memasuki dasawarsa 1980 an burung-burung mulai berkurang. Bahkan ada burung tertentu yang sudah punah. Mengapa? Ternyata pemicunya adalah kerusakan alam dan lingkungan.  Hutan dan alam yang menjadi habitat burung-burung itu semakin tidak nyaman. Tentu saja yang menjadi dalang utama adalah manusia. Perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan maklum hidup lainnya.

Belajar dari Eropa

Ketika berada di Eropa saya menyaksikan pemandangan yang asyik. Kemanapun kita berjalan pasti mendengar kicauan dan menyaksikan burung-burung beterbangan penuh sukacita. Bebek dan itik berenang ria di danau dan sungai.

Burung-burung itu tampak jinak dan tidak takut dengan manusia. Malah, manusia setempat sangat bersahabat dengan mereka. Mereka tak pernah cemas dan takut terhadap kemungkinan adanya “tembakan ketapel atau senapan angin”. Mereka menikmati kebebasan sejati. Bebas dari ancaman keserakahan manusia dan bebas untuk beterbangan kesana kemari.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (18): Border Pakistan-India Bagai Stadion Bola

Orang Eropa melindungi burung-burung. Burung-burung adalah sahabat dan sesama mahluk ciptaan. Setiap burung, setiap pohon, setiap bunga mengingatkan orang-orang Eropa betapa hebatnya berkat dan hak istimewa burung-burung itu untuk hidup. Saya pun teringat kata-kata penyair Inggris William Blake: “Burung punya sangkar, laba-laba punya jaring dan manusia punya persahabatan”.

Burung sedang bertengger di atas batu. Foto: dokumentasi stefanus wolo

Saya kira kita perlu menjaga dan melindungi burung-burung di kampung kita. Bagi saya burung-burung mengajarkan pelajaran hidup yang luar biasa. Yang harus kita lakukan adalah mendengar cuitan mereka.

Kita manusia harus bisa seperti burung dalam hal kebebasannya. Akan tetapi jangan seperti burung dalam sangkar, yang merasa hebat di balik sangkar emasnya. Kita perlu menciptakan lagi lingkungan yang nyaman bagi burung-burung. Burung adalah indikator lingkungan. Jika mereka dalam masalah, kita tahu bahwa kita akan segera mendapat masalah. Lihatlah burung-burung di Swiss ini.

 

Kirchgasse 4, 5074 Eiken AG

Stefanus Wolo
Author: Stefanus Wolo

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

80 Tahun Bom Atom di Nagasaki: Luka Itu Perih Sepanjang Hayat

Agustus 8, 2025

Kunjungi Jepang, Orang Indonesia Wajib Bebas Penyakit TBC

November 19, 2023
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.