
Oleh: STEFANUS WOLO ITU
JALAPOST.com – Pada 1 Agustus 2021 lalu, negara Swiss merayakan hari ulang tahun ke-730, dimana negeri kecil ini berdiri pada 1 Agustus 1291. Ada tiga kanton yang menjadi cikal bakal negara Swiss yaitu Uri, Schwyz dan Unterwalden. Kanton-kanton ini berada di jantung Pegunungan Alpen. Sebuah kawasan yang kala itu sangat dingin, banyak hutan dan gelap gulita.
Mengapa ketiga kanton kecil ini menginisiasi berdirinya sebuah negara konfederasi di pegunungan Alpen? Saya tidak tahu persis sejarah politik negara ini. Tetapi saya penasaran dan ingin melacak sejarah terbentuknya negara Swiss. Tak terduga, saya menerima ucapan selamat dari Bernhard Hässeli pada hari ulang tahun itu.
Bernhard berasal dari Gipf-Oberfrick, sebuah kampung yang letaknya sekitar 3,5 kilometer dari tempat tinggal saya, Eiken. Sudah hampir 30 tahun Bernhard tinggal di Ubud-Bali. Bernhard sering berkelana ke Flores, Nusa Tenggara Timur. Bahkan, bersama kedua saudarinya pernah menginap di kampung saya di Wolorowa, Sarasedu Mataloko, Kabupaten Ngada.
Menjadi saudara
Sejak Juli tahun 2015 kami bersahabat. Saat itu Bernhard mendengar bahwa ada pastor asal Flores di kampung tetangganya. Bernhard lalu mengajak mamanya Josephine menghadiri misa dan bertemu saya.
Setelah itu, kami ke rumah mereka di Gipf-Oberfrick. Bernhard memperkenalkan saudara-saudarinya Andy, Brigitte, Regina bersama istri dan suami mereka. Tak lupa dia juga memperkenalkan kedua puterinya Sonya dan Anja. Sonya tinggal di Amerika Serikat, sedangkan Anja menetap di Wien, Austria.
Saat hendak pulang ke Bali, Bernhard berpesan kepada saya: “Stefan, saya hendak ke Bali. Jangan lupa selalu kunjungi mama. Kabarkan kepada saya tentang keadaan mama. Jangan lupa juga kontak adik-adikku. Mereka juga mama dan saudara- saudarimu!” Saya terharu dengan pesan ini.
Saya menjalankan amanat “Sang Abang” ini dengan sukacita. Saya mengunjungi mama secara teratur. Saya sering kontak saudara-saudarinya. Hubungan kami akhirnya menjadi sangat dekat. Relasi kami naik tingkat; dari kenalan, sahabat menjadi saudara.
Saat mama Josephine meninggal, mereka meminta saya terlibat penuh dalam urusan kematian. Tentu saja sesuai dengan tugas saya sebagai imam. Saya memberkati jenasah dan memimpin ibadat pelepasan di rumah jompo. Kami pergi ke institut kematian. Di sana kami membincangkan persiapan pemakaman mama Josephine.
Saya pun diminta untuk merayakan ekaristi pemakaman, kotbah dan menyanyikan lagu die Sprache der Liebe atau bahasa Cinta”. Lagu yang selalu saya nyanyikan setiap kali mengunjungi mama Josephine.
Saya tertegun saat mendiskusikan surat berita kematian dan undangan pemakaman. Berita kematian itu akan dikirimkan kepada sanak keluarga dan dimuat di koran lokal. Bernhard dan adik-adiknya memasukan nama saya di bawah nama mereka. Saya berkeberatan karena tidak ada ikatan darah dengan mereka.
Tapi mereka meyakinkan saya. Saya sudah seperti anak dari mama Josephine. Saya sudah seperti adik mereka. Saya layak dan boleh menjadi bagian dari keluarga mereka. Saya harus menerima.
Intensitas relasi persahabatan menjadikan kami bersaudara. Karena itu nama “Stefanus Wolo Itu” juga tertulis dalam berita kematian itu. Umat paroki saya yang membaca berita itu kaget. Luar biasa kata mereka. Ini hal langka. Seorang yang bukan keluarga, orang asing masuk dalam jejeran keluarga berduka.
Berintegrasi dengan kultur Swiss
Bernhard dan saudara-saudarinya menerima saya sebagai saudara mereka. Mereka mengingatkan saya untuk selalu berintegrasi dengan kultur dan orang-orang Swiss. Tentu saja integrasi tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Flores. Integrasi tanpa tercerabut dari akar kultur keindonesiaan.
Salah satu contoh integrasi adalah mengenal kultur pesta atau hari raya nasional orang Swiss. Bernhard sudah menganggap saya seperti orang Swiss. Karena itu dia menulis: “Stefan, Selamat Pesta Ulang Tahun Swiss”. Dia menyertakan juga satu poster menarik. Di bawah poster tersebut Bernhard menulis: “Bro, ulang tahun kemerdekaan ini mengajak kita untuk kembali ke Rütlischwur atau Sumpah Rütli”.
Rütli adalah adalah nama sebuah kampung kecil. Letaknya di pantai barat danau Uri dan tak jauh dari Danau Luzern. Rütli pada akhir abad ke-12 hanya sebuah padang rumput. Tetapi di padang rumput ini menjadi tempat lahir Swiss. Rütli adalah padang rumput bersejarah.
Di sanalah para fundator negara Swiss(Uri, Schwyz dan Unterwalden) mengucapkan “Rütlischwur atau Sumpah Rütli” pada 730 tahun lalu. Sumpah Rütli adalah kata-kata magnetis yang menggerakan kehendak para founding fathers untuk mendirikan konfederasi Swiss.
Apa saja isi Sumpah Rütli itu? Sumpah itu berbunyi: “Wir wollen sein ein einzig Volk von Brüdern, in keiner Not uns trennen und Gefahr. Wir wollen frei sein, wie die Väter waren, eher den Tod, als in der Knechtschaft leben. Wir wollen trauen auf den höchsten Gott und uns nicht fürchten vor der Macht der Menschen“.
Saya menerjemahkan secara bebas isi Sumpah Rütli ini. “Kami ingin menjadi satu bangsa yang bersaudara. Dalam penderitaan dan bahaya kami tidak mau berpisah. Kami ingin bebas seperti bapak-bapak dahulu. Lebih baik mati daripada hidup dalam perbudakan. Kami ingin percaya pada Tuhan yang Maha Tinggi dan tidak takut pada kekuasaan manusia”.
Sudah 7 abad konfederasi Swiss berdiri. Negara yang berawal dengan tiga kanton. Tujuh abad kemudian berkembang menjadi 26 Kanton. Swiss yang gelap dan dingin akhirnya menjadi sebuah negara moderen. Sebuah proses ada dan menjadi yang lama dan berliku.
Swiss adalah negara merdeka. Karena merdeka mereka mempunyai cukup ruang untuk mencapai kemakmuran. Perjuangan mencapai kemakmuran tidak pernah selesai. Memperjuangkan kemakmuran adalah proses tanpa henti.
Butuh komitmen moral
Sudah tujuh abad Swiss merdeka. Tapi belum semua warganya merasakan cita-cita kemerdekaan. Tetap saja ada kemiskinan, ketimpangan sosial, penggangguran dan ketidakadilan. Mereka tetap membutuhkan komitmen moral agar semua orang bisa merasakan cita-cita kemerdekaan.
Siapa yang harus memiliki komitmen moral? Ya, semua kita yang tinggal di Swiss. Komitmen moral semua penyelenggara negara. Komitmen moral para pemimpin politik. Tidak lupa komitmen moral semua warga.
Untuk apa komitmen moral itu? Pertama, komitmen moral untuk berbuat baik. Perbuatan baik membuka kepicikan hati dan kesempitan berpikir. Banyak orang berbuat jahat karena kepicikan hati dan kesempitan berpikir. Tapi perjumpaan yang terus menerus dengan perbuatan baik pasti akan membawa mereka pada pembaharuan hidup.
Kedua, komitmen moral untuk hidup sebagai orang-orang merdeka. Merdeka berarti bebas dari segala belenggu yang menekan kebebasan dan martabat manusiawi kita. Bebas dari segala ketergantungan yang membuat kita tidak mandiri.
Saya juga merdeka untuk menggunakan kebebasan secara baik, benar dan berkualitas. Tinggal di Swiss menuntut sebuah kualitas hidup yang tinggi. Karena itu gunakan kebebasan untuk melakukan hal-hal berkualitas. Hal berkualitas menunjang kebaikan hidup bersama.
Ketiga, komitmen moral untuk hidup sebagai hamba Allah. Menjadi hamba Allah artinya menjadi pendengar suara Tuhan dan pelaku kemauan Tuhan. Hamba Allah adalah orang yang takut akan Tuhan. Ketakutan akan Tuhan adalah kebijaksanaan tertinggi.
Hari ini begitu banyak orang yang menghadiri perayaan ekaristi. Semua orang menyanyikan lagu kebangsaan Swiss dengan penuh semangat. Perayaan meriah ini ditutup dengan lagu-lagu meriah dari Musikgesellschaft Eiken. Semoga kita tidak berpaling dari komitmen moral kita.
Selamat ulang tahun Swiss. Kita merayakan ulang tahun dengan kembali ke Sumpah Rütli. Sumpah untuk membaharui komitmen moral. “Di pintumu aku mengetuk. Aku tak akan berpaling!”
Stefanus Wolo Itu
Misionaris Fidei Donum KAE
Di Keuskupan Basel Swiss
