Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (44): Empat Kali Gratis di Amsterdam
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (44): Empat Kali Gratis di Amsterdam

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAJuni 30, 20241 Komentar11 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Berjumpa dengan sejumlah warga Indonesia yang sudah lama menetap di Amsterdam. Mereka bangga ada orang Indonesia bersepeda dari Jakarta ke Eropa. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Oleh ROYKE LUMOWA

Melakukan perjalanan bersepeda keliling dunia memang melelahkan. Akan tetapi, simpati dan dukungan masyarakat selalu mengalir, sebab mereka meyakini ada tujuan mulia di balik perjalanan tersebut. Itu sebabnya, ada saja warga tidak ragu-ragu memberikan sesuatu yang gratis kepada pesepeda tersebut.

Mendapatkan gratis ini saya alami di Amsterdam, Belanda pada Sabtu, 3 Februari 2024. Dalam sehari, empat kali saya memperoleh hadiah dari warga setempat. Pemberian tersebut sebagai dukungan atas perjalanan mengayuh sepeda dari Jakarta hingga Paris.

Saya kembali ke Amsterdam dari Den Haag pada 2 Februari 2024 sore. Sehari berikutnya bersepeda mengelilingi Kota Amsterdam. Suhu udara pagi itu sangat bagus yakni mencapai 7 derajat celcius: cerah dengan langit yang membiru.

Sebelum gowes, saya mendapatkan kabar dari KBRI Den Haag bahwa kami: saya bersama dua kru telah terdaftar sebagai pemilih tetap untuk pemilihan umum (pemilu) 2024 di Belanda. Pihak KBRI akan menggelar pencoblosan pada 10 Februari 2024 atau empat hari lebih cepat dari jadwal pemilu di Indonesia.

Berfoto di depan Dermaga Ikan di Kampung nelayan Volendam. Foto: Arsip Royke Lumowa

Beberapa waktu sebelumnya, kami pernah mendatangi KBRI di Den Haag mendaftarkan diri sebagai pemilih. Kami membawa dokumen-dokumen perpindahan lokasi pencoblosan dari wilayah domisili masing-masing di Indonesia. Permintaan itu mendapat persetujuan.

Saya tentu sangat senang mendapatkan kabar ini. Karena pemilu 2024 menjadi pertama kali saya mencoblos, setelah berstatus purnawirawan Polri. Saya pun bersemangat dan merencanakan sehari sebelum pencoblosan, kami sudah berada kembali di Den Haag.

Susur taman dan kanal

Saya berada di Amsterdam sebetulnya bukan sekedar lewat, tetapi untuk mengurus perpanjangan visa Uni Eropa. Sebelumnya, saya sempat memohon kepada Dubes RI di Turki Pak Rizal Purnama agar mengurus perpanjangan visa kami di negara itu.

Berdasarkan pengalaman mengurus visa Uni Eropa untuk Dimas dan Yan pada beberapa bulan sebelumnya, terbilang lancar. Hal ini karena adanya dukungan diplomasi Pak Rizal Purnama dalam melakukan pendekatan informal dengan Dubes Perancis untuk Turki.

Namun, dia juga menyarakan di Amsterdam. Pak Rizal menghubungi Dubes Belanda Pak Mayerfas. Saya pun mengontak Pak Mayers dan menyanggupi akan mengomunikasikan dengan pihak imigrasi Belanda guna perpanjangan visa saya dan Yan. Sedangkan Dimas tidak meneruskan perjalanan dan ingin kembali ke Jakarta, sebab rindu keluarga.

Sembari menunggu kabar dari KBRI Den Haag, saya memanfaatkan waktu dengan bersepeda ke beberapa kota di Belanda dan Jerman. Daripada nganggur, lebih baik saya meningkatkan jumlah waktu bersepeda.

Berada di tepi salah satu Kanal di Amsterdam. Foto: Arsip Royke Lumowa

Saya memulai gowes pukul 10.30. Rute pertama ke arah utara, selanjutnya ke kiri yakni arah barat. Saya ingin menyaksikan dari atas sadel sepeda keindahan dan keunikan Amsterdam, antara lain taman kota dan kanal.

Sepanjang perjalanan tampak taman-taman kota yang indah, tertata rapi dengan aneka bunga yang menawan. Termasuk Taman Kota Westerpark yang luas dan populer. Berada di taman-taman itu membuat pengunjung merasa nyaman, tenang dan berbahagia.

Setelah itu, berbelok ke arah selatan menuju ke Centrum, pusat Kota Amsterdam. Tidak kalah menakjubkan adalah jaringan saluran air (kanal) yang panjang dan membentang ke seluruh area di kota. Di kanal-kanal ini terbangun jembatan dengan arsitektur yang menarik. Ada perahu yang melintas dalam kanal.

Sempat pula melewati kawasan Red Light, yakni tempat hiburan malam yang terkenal di Amsteram. Saat itu masih pagi sehingga belum tampak aktivitas yang sesungguhnya.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (40): Saya Sempat Terjatuh pada Jalan Es di Oslo

 Obat gigi

Siang itu, saya juga akan bertemu dengan dokter Diego untuk mengobati gigi yang retak. Dokter gigi ini atas rekomendasi om Tetuko, kawan saya orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Amsterdam. Dia mengenal dokter Diego, dan mungkin sering berobat padanya.

Om Tetuko mengontak dokter Diego. Bahkan, menceritakan bahwa saya sedang bersepeda dari Jakarta menuju Paris, dan saat itu sudah memasuki Belanda. Dokter Diego pun antusias dan menjadwalkan pengobatan gigi saya pada Sabtu, 3 Februari 2024 pukul 12.00.

Om Tetuka mengabarkan jadwal pengobatan gigi kepada saya sekaligus alamat tempat praktek dan nomor kontak dokter Diego. Dokter ini  berasal dari Portugal.

Gigi saya retak saat di Yunani sewaktu mengigit biji wijen dalam roti. Sempat ingin melakukan pengobatan, tetapi ada saja kendala sehingga rencana tersebut pun tertunda, dan baru terealisasikan di Amsterdam.

Saya bersepeda ke tempat praktek dokter Diego. Tiba lebih cepat 30 menit dari waktu yang telah terjadwalkan, yakni pukul 11.30. Saya selalu berprinsip lebih baik menunggu daripada ditunggu.

Tak lama kemudian, petugas menyilahkan saya masuk ruang praktek. Padahal, masih ada satu pasien yang antri. Dia sudah masuk ruang dokter, tetapi tak lama kemudian keluar. Dalam hati, saya berpikir penanganan dokter Diego kok cepat sekali.

Ternyata saya keliru. Belakangan baru tahu rupanya dokter Diego bernegosiasi dengan pasien tersebut agar mendahulukan saya. Mungkin pertimbangan dokter, pengobatan saya hanya waktu singkat. Sebaliknya, penanganan pasien itu bakal lebih lama.

Benar saja. Penanganan gigi saya hanya sekitar 15 menit sudah tuntas. Dokter Diego sungguh cekatan dan menangani dengan sempurna. Hasilnya benar-benar ciamik.

Saya pun menuju kasir untuk membayar. Petugas klinik malah menyampaikan bahwa pengobatan gigi saya gratis. Astaga! Tidak bayar? Ini sungguh mengagetkan.

Ajak ke Portugal

Berobat gigi gratis ini adalah pengalaman kedua saya. Sebelumnya yakni sekitar tahun 1993,  saat bertugas di Jayapura, saya berobat pada Letnan Satu (K) CKM dokter gigi Swanly Hartono juga gratis. Ketika itu, saya dan dokter Swanly masih pacaran. Setahun kemudian kami menikah.

Saya kembali lagi ke ruangan dokter Diego untuk menyampaikan terima kasih yang kedua kalinya. Saya menanyakan mengapa gratis? Gigi saya sudah tertangani saja sudah beruntung.

Dokter Diego menjawab, “Tidak apa-apa”.

Dia malah meminta saya menyinggahi rumahnya di Portugal jika mengayuh sepeda hingga di negara itu. Bahkan berharap saat saya tiba di Portugal,  dia sedang berada di rumahnya. Setiap bulan, dokter Diego selalu pulang kampung untuk mengunjungi keluarga.

Akhirnya, saya pamit. Dokter Diego kemudian berpesan agar dalam satu hingga dua jam ke depan jangan dulu makan makanan yang keras. Pesan seperti ini memang sering terucapkan para dokter gigi kepada pasiennya setelah berobat.

Restoran Indonesia

Saat itu waktu sudah menunjukkan makan siang. Saya melanjutkan bersepeda menuju Warung Barokah. Ini adalah restoran Indonesia yang sudah 20 tahun lebih beroperasi di Amesterdam. Menunya terkenal enak dan laris.

Saya memesan soto ayam dan gado-gado. Makanan ini sesuai pesan dokter Diego. Soto ayam saya habiskan dua porsi. Mungkin balas dendam. Maklum, sudah berbulan-bulan tidak menikmati kuliner Indonesia.

Bergambar bersama ibu Sri, pemilik Warung Barokah di Amsterdam, Belanda. Foto: Arsip Royke Lumowa

Selanjutnya saya bersepeda menuju Toko Rapha, toko sepeda yang cukup populer di Amsterdam. Di sana, ada cafe, dan para pesepeda lokal dan negara lain selalu mengunjunginya selama bersepeda di kota ini.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (33): Malam Natal yang Syahdu di Beograd

Saya dan kru pun memilih nongkrong dan ngopi di situ. Kami bertemu dengan para pesepeda yang umumnya dari Eropa, dan saling berkenalan. Mereka menanyakan asal saya dan sudah bersepeda kemana saja.

Setelah menceritakan perjalanan saya dari Jakarta, Indonesia, sejak 8 Juli 2023, mereka sangat antusias. Banyak yang penasaran dengan suka dan duka selama touring berbulan-bulan itu. Mereka menyatakan salut dan mendoakan agar saya dapat menuntaskan misi dengan baik dan lancar.

Setelah itu kami pun berpisah. Saat saya hendak membayar biaya kopi dan makanan di kasir, oleh pemiliknya menyatakan gratis. Katanya, kebijakan tersebut sebagai dukungan atas touring sepeda yang sedang saya lakukan. Wah, gratis lagi. Bukan main.

Rejeki orang jauh

Selepas itu, saya bersepeda lagi menuju ke toko sepeda Tromm milik Edgard. Saya dan Edgard sudah lama berteman. Sehari sebelumnya saya mengontak dia, dan kami sepakati hari itu saya mendatangi tokonya untuk belanja beberapa kebutuhan touring.

Begitu mendekati toko, saya melihat Edgard sudah menunggu. Saat tiba, kami langsung bersalaman dan berbagi cerita. Edgard cukup penasaran dengan perjalanan saya sejak dari Jakarta hingga di Amsterdam.

Toko sepeda Tromm menjual aneka macam perlengkapan sepeda. Bahkan, toko ini termasuk salah satu yang terbesar di Amsterdam. Saya ingin membeli cover sepatu sepeda anti hujan yang dapat melindungi sepeda saat hujan.

Cover sepatu sepeda yang saya beli di New Dehli, India, terjatuh di Pakistan, persisnya di wilayah Provinsi Bolikistan saat perjalanan menuju border Iran. Barang ini hilang bersama beberapa kaca mata yang dimasukan dalam tas ransel. Tas ini terjatuh dari mobil saat pintu belakang sempat terbuka akibat tidak terkunci rapat.

Berjumpa dengan sejumlah pesepeda Belanda di Rapha Coffee Amsterdam. Foto: Arsip Royke Lumowa

Saya pernah beberapa kali mencari cover sepatu itu di beberapa kota sebelumnya. Akan tetapi, tidak mendapatkannya. Akhirnya, tersedia di  Toko Tromm Amsterdam. Saya senang sekali. Akhirnya memiliki lagi.

Ketika saya hendak membayar, Edgard langsung menolak. Katanya, gratis. Dia juga mengingatkan petugas kasir toko agar tidak menerima pembayaran dari saya.  Wah, gratis lagi! Mungkin ini rejeki orang jalan jauh.

Sungai Amstel

Dari toko Tromm, saya bersepeda lagi menuju Sungai Amstel. Ini adalah satu-satunya sungai alami di Amsterdam dan telah menjadi bagian terpenting dari sejarah peradaban Belanda sejak abad pertengahan. Sudah lebih dari 800 tahun, arus sungainya tetap stabil dan memasok air untuk segala kebutuhan masyarakat setempat.

Sungai ini berkelok-kelok dan di sepanjang tepinya terbentang lahan pertanian yang subur. Keindahan dan pesona itu telah menginspirasi banyak seniman untuk melukis. Sungai ini juga menjadi salah satu tulang punggung menggerakan pariwisata Amsterdam.

Bersepeda mengitari Sungai Amstel rasanya menyenangkan. Suasana dan penataan lokasinya membuat kita tidak pernah bosan, serta selalu ingin lebih lama berada di kawasan tersebut. Sungguh menarik.

Berjumpa dengan sejumlah warga Indonesia yang sudah lama menetap di Amsterdam. Mereka bangga ada orang Indonesia bersepeda dari Jakarta ke Eropa. Foto: Arsip Royke Lumowa

Saya mengakhiri gowes hari itu di rumah om Tetuko di kawasan Amstelveen, selatan Amsterdam. Letaknya tidak jauh dari toko sepeda milik Edgard. Total jarak sejauh 50,22 kilometer.

Om Tetuko mengundang kami untuk makan malam di rumahnya. Dia menyuguhkan daging panggang yang sangat enak. Kami makan sampai puas. Makan gratis pula.

BACA JUGA:  JCS Surakarta, Berat dan Menantang

Jadi hari itu, kami empat kali dapat gratis. Frei dokter. Frei kopi. Frei cover sepatu. Frei makan. Rejeki memang takkan lari kemana. Rejeki tidak perlu dicari. Dia akan datang sendiri tanpa diharap.

Peristiwa-peristiwa seperti inilah yang memperpanjang nafasku menuju garis finish di Paris. Sebagai obat penawar dan menutupi cerita-cerita sulit yang pernah datang silih berganti selama perjalanan.

Menjajal parkir mobil

Keesokan harinya pada Minggu, 4 Februari 2024, saya tidak bersepeda. Tetapi, kami tetap mengelilingi Kota Amsterdam menggunakan mobil yang menyertai perjalanan saya dari Jakarta. Saya juga ingin mendapatkan pengalaman membayar parkir  melalui kotak pembayaran yang tersedia di setiap sudut Kota Amsterdam.

Pada kotak parkir itu, pengendara mobil dapat membayar parkir sesuai lamanya waktu. Paling rendah satu jam. Ada pula yang memarkirkan mobilnya lebih dari sehari.

Biaya parkir di kawasan Centrum atau pusat kota sebesar 7 euro atau Rp 120.000 per jam. Untuk kawasan di pinggir kota, tarifnya 5 euro Rp 86.500 per jam. Pembayaran melalui kartu debet atau kartu kredit. Ada pula boks yang menerima pembayaran koin.

Siang itu, kami makan di Restoran Barokah. Kami bertemu dengan cukup banyak orang Indonesia yang menetap di Amsterdam atau dari kota lain di Belanda. Ada yang sudah masuk warga negara Belanda, ada pula yang masih kuliah dan kerja di negeri itu.

Banyak di antara mereka kaget ada orang Indonesia yang bersepeda dari Jakarta ke Eropa. Biasanya para pesepeda di Eropa yang mengayuh sepeda hingga di Indonesia.

Setelah itu, kami kembali ke penginapan untuk istirahat. Tetapi, malam harinya, kami kembali menyinggahi Restoran Barokah. Sehari dua kali kami makan di restoran itu. Mungkin ini untuk membalas ribuan roti yang telah kami asup selama perjalanan sejak dari Nepal pada Oktober 2023.

Pada Senin, 5 Februari 2024, saya bersepeda menuju Volendam berjarak 64,34 kilometer. Suhu udara tetap bagus yakni 5 derajat celcius. Suhu yang sangat bersahabat ini membuat gairah bersepeda terus terjaga optimal.

Desa Volendam

Hari ini saya bersepeda rute Amsterdam-Volendam pergi pulang. Volendam adalah sebuah desa nelayan  di timur laut Amsterdam. Ribuan wisatawan selalu menyerbu desa ini pada musim panas. Di sana, ada restoran yang menjajakan hasil laut dengan menu masakan yang enak sehingga selalu membuat orang sulit melupakannya.

Saya berangkat jam 09.00 menyusuri jalur sepeda yang tersedia. Jalur sepeda di Amsterdam, bahkan di Belanda umumnya takkan mengalami jalan buntu. Tingkat konsistensinya tinggi. Sama seperti aliran air di Belanda yang bebas mengalir kemana saja.

Berbeda dengan Denmark, Jerman atau Belgia dan negara-negara maju lainnya, jalur sepeda masih ada yang terputus. Kalau di Belanda tidak ada. Terputus maksudnya ada jalur yang di lokasi tertentu, pesepeda harus masuk lagi ke jalan umum bergabung dengan para pengguna jalan lainnya, kemudian masuk lagi ke jalur sepeda.

Berada di kampung nelayan Volendam, pesisir utara Amsterdam. Volendam ada kampung nelayan yang sangat populer di Belanda. Foto: Arsip Royke Lumowa

Di Belanda, jalan tol bukan untuk sepeda. Sepeda bebas masuk jalan tol hanya di India dan sebagian Pakistan.

Jalur sepeda di Belanda memiliki jembatan khusus. Terpisah dengan kendaraan bermotor. Bahkan, ada dermaga penyeberangan kapal fery tersendiri khusus pesepeda dan jalan kaki.

Perjalanan ke Volendam tidak sulit sebab dibantu dorongan angin dari belakang. Sebaliknya saat kembali ke Amsterdam, saya menghadapi tiupan angin kencang. Saya sempat berhenti karena kekuatan angin luar biasa dari depan.

Sebelum sore kami sudah berada kembali di penginapan di Amsterdam. Malam itu kami makan di Restoran Indonesia juga namanya Indrapura yang terletak di Centrum. Kami naik tram. Pengunjung malam itu sangat padat. Dua lantai bangunan itu terisi penuh. Hanya kami bertiga orang Indonesia. Selebihnya orang Belanda.

editor: JANNES EUDES WAWA

Catatan Royke Lumowa (43): Pulau di Indonesia Jadi Nama Jalan di Amsterdam

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

1 Komentar

  1. Pingback: Catatan Royke Lumowa (45): Mengunjungi Sekolah Polantas di Apeldoorn, Belanda - blalak.com

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.