Connect with us

Humaniora

80 Tahun Bom Atom di Nagasaki: Luka Itu Perih Sepanjang Hayat

JANNES EUDES WAWA

Published

on

Share ini
 Oleh: JANNES EUDES WAWA

Pasukan Amerika Serikat dan sekutunya pada Kamis, 9 Agustus 1945 pukul 11.02 waktu Jepang atau 09.02 WIB menjatuhkan bom  atom di Kota Nagasaki, Jepang. Bom yang sangat dahsyat itu menghancurkan kota ini. Ribuan orang mati terpanggang dan menderita luka berat. Memiluhkan! Nasib Nagasaki memang sungguh malang, sebab kota ini sesungguhnya tidak pernah ada dalam daftar target pemboman. Sabtu, 9 Agustus 2025, dunia memperingati 80 tahun jatuhnya bom atom di Nagasaki.

Pertengahan Maret 2004, Kyushu-Yamaguchi Economic Federation, organisasi yang beranggotakan 900 perusahaan di Kyushu-Yamaguchi, Jepang  mengundang empat media cetak ternama dari Asia untuk mengunjungi pulau itu. Dari Indonesia adalah harian Kompas. Saya mewakili Kompas menghadiri undangan tersebut. Tujuannya untuk mempromosikan dan mengajak masyarakat dunia mengunjungi Kyushu. Di Jepang, tidak hanya Tokyo dan sekitarnya. Ada pula  Kyushu yang tidak kalah menarik. Salah satu daerah yang kami kunjungi adalah Museum Bom Atom di Nagasaki.

Sulit Terlupakan

Suzuko (23), mahasiswi Universitas Kyushu, meneteskan air mata saat menyaksikan foto-foto korban keganasan bom atom yang terpajang dalam Museum Bom Atom di Nagasaki, Rabu (17/3/2004). Ia tak kuasa melihat foto seorang anak lelaki yang tubuhnya hitam legam karena hangus terbakar. Ada pula foto seorang anak yang luka parah sekujur tubuh dan digendong kakaknya untuk mencari ibu mereka yang diduga hangus terbakar.

Sejumlah pakaian para korban bom atom di Nagasaki terpajang dalam Museum Bom Aton Nagasaki. Foto: Arsip CNN

Ada lagi foto korban yang kehilangan anggota tubuh. Selain itu, terdapat juga foto Kota Nagasaki yang tinggal puing-puing akibat kebakaran besar tersebut. “Siapa pun yang menyaksikan foto-foto ini pasti dapat meyakini betapa dahsyat, ganas dan mengerikan ledakan bom atom yang terjadi pada 9 Agustus 1945 pukul 11.02 itu,” kata Suzuko.

Gadis yang sedang belajar pada Fakultas Ekonomi itu mengaku sudah tiga kali mengunjungi Museum Bom Atom di Nagasaki. Kali pertama sewaktu masih sekolah dasar, kedua pada sekolah lanjutan, dan hari itu merupakan ketiga kalinya. Kendati demikian, dia tidak pernah bosan untuk mengunjungi ke museum tersebut.

“Tragedi bom atom Nagasaki sulit terlupakan siapa pun. Sangat memilukan dan tetap membekas sepanjang masa. Apalagi, dengan adanya museum yang lengkap seperti ini setiap orang pasti ingin mengunjungi dan mengetahui lebih mendalam,” ujar Suzuko yang hari itu datang bersama tiga temannya dari Fukuoka.

Antusiasme masyarakat mengunjungi Museum Bom Atom sungguh luar biasa. Setiap hari minimal 2.000 orang. Mereka bukan hanya warga Jepang, tetapi juga wisatawan mancanegara. Tidak cuma orang dewasa, melainkan juga mahasiswa dan pelajar.

“Pengunjung yang pelajar dan mahasiswa juga dari berbagai negara, seperti China dan Korea Selatan. Mereka datang dalam jumlah besar, yakni 100 sampai 200 orang per kelompok,” jelas Shigematzu, petugas Museum Bom Atom Nagasaki.

Tidak Masuk Daftar

Nasib Nagasaki pada Kamis 9 Agustus 1945 sungguh sangat malang. Kota ini tidak ada dalam sasaran untuk pengeboman. Berdasarkan data yang tertulis di Museum Bom Atom Nagasaki, sejak tahun 1943 Jepang memang telah menjadi target Amerika Serikat dan Sekutunya untuk menjatuhkan bom.

Pada 27 April 1945 mereka menetapkan 17 kota di Jepang sebagai calon lokasi yang menjadi sasaran pemboman. Ke-17 kota itu adalah Tokyo, Kawasaki, Yokohama, Nagoya, Osaka, Kobe, Hiroshima, Kyoto, Kure, Yakata, Kukora, Shirnonoseki, Yamaguchi, Kimamoto, Fukuoka, Nagasaki, dan Sasebo.

Pada 10 Mei 1945, Amerika Serikat dan Sekutu menyeleksi kembali dan menyisahkan empat kota yakni Kyoto, Hiroshima, Yokohama, dan Kukora yang menjadi calon lokasi pemboman. Pada 28 Mei 1945 terjadi penyaringan lagi, lalu tersisa tiga kota: Kyoto, Hiroshima, dan Kukora. Tetapi, saat itu mendadak bertambah satu kota lagi yakni Niigata.

Dua hari berikutnya, Kyoto terhapus dari daftar target bom setelah adanya jaminan dari Secretary of War Henry L Stimson.  Belum terkonfirmasi secara pasti alasan penjaminan itu. Rencana pemboman akhirnya terwujud dengan menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 pukul 08.15 waktu setempat.

Meski demikian, pimpinan militer Niphon belum juga menyerah seperti tertuang dalam Deklarasi Postdam 26 Juli 1945. Bahkan, Jepang tetap ngotot melakukan perlawanan serta tidak menghiraukan adanya pengemboman di Hiroshima.

Sikap pimpinan Jepang tersebut membuat Sekutu bertambah gemas. Pemboman kedua yang semula terjadwalkan pada 11 Agustus 1945 pun bergeser dua hari lebih cepat. Apalagi, berdasarkan ramalan cuaca, kondisi udara di Jepang mulai 10 Agustus 1945 kurang bagus.

Nagasaki yang Malang

Pada 9 Agustus 1945 pukul 08.09, pesawat pembom B-29, BockÆs Car mulai terbang mengitari langit Kota Kukora, ujung paling utara Pulau Kyushu dengan ketinggian 31.000 kaki. Kondisi udara di kota itu cerah dan terlihat jelas dari pesawat. Namun, Mayor Kermit Beahan-ahli teknik pengeboman asal Texas yang berjuluk The Great Artiste yang bertugas menjatuhkan bom belum melihat pabrik senjata yang menjadi sasaran pemboman karena tertutup asap tebal.

Pengeboman pun batal. Pesawat pembom berputar lagi mencari sasaran. Dari teropong tampak jelas Kota Kukora, termasuk sungai yang menurut data intelijen Sekutu mengalir persis di sebelah pabrik senjata. Namun, lokasi pabrik senjata tetap tertutup asap pekat.

Asap tebal itu membuat pasukan lagi-lagi batal menjatuhkan Fat Man; sebuah bom atom berukuran panjang 10 kaki, delapan inci, dan berdiameter 5 kaki. Ketentuan Sekutu pada 25 Juli 1945 bahwa menjatuhkan bom khusus hanya terjadi jika telah melihat sasaran dengan jelas.

Untuk ketiga kalinya, Mayor Charles W Sweeney, pilot BockÆs Car mengarahkan lagi pesawat ke Kukora dan Beahan meneropong kembali. Hasilnya sama: Kota Kukora, termasuk jalan dan sungai yang berada dekat pabrik senjata  terlihat  sangat jelas dari udara. Tetapi, pabrik senjata tetap tertutup asap dan awan pekat. Pasukan pun kembali batal menjatuhkan bom atom.

Mereka sangat khawatir terjadi tembakan dari bawah.  Setelah berunding, akhirnya memutuskan pesawat meninggalkan Kukora. Apalagi, bahan bakar semakin menipis, hanya cukup untuk satu lintasan terbang di atas Nagasaki.

Semula timbul ide menjatuhkan bom atom di laut atau di bawah kembali ke Iwo Jima atau Okinawa, atau menjatuhkan bom dengan bantuan radar. Begitu pesawat berada di atas Nagasaki, pasukan memutuskan menjatuhkan bom atom saat itu juga dengan bantuan radar.

Tepat pukul 11.02, Nagasaki menjadi sasaran Fat Man. Seketika, kota itu menjadi kuburan massal. Sebanyak 73.884 orang mati terpanggang, 74.989 orang luka berat, 120.820 orang kehilangan tempat tinggal, dan sepertiga Nagasaki pun hancur total.

Museum Jadi Saksi

Tahun 1955, Pemerintah Nagasaki membangun museum bom atom dan direkonstruksi pada tahun 1964. Gedung berlantai tiga yang penuh nilai sejarah ini berada dekat Gereja Katedral Urakami. Gereja yang terbangun sejak abad ke-16 itu  berjarak hanya 500 meter dari pusat peledakan.

Bom atom menghancurkan gereja ini. Tersisa hanya dua patung Bunda Maria yang terletak di altar dan beberapa patung orang suci di depan gereja. Di pusat peledakan dibangun monumen berbentuk balok berwarna hitam.

Model monumen tampak sangat sahaja, bertolak belakang dengan kondisi Jepang sebagai raksasa ekonomi dunia. Namun, kesahajaan itu sengaja diciptakan guna berbicara tentang kisah memilukan dan penderitaan penduduk Nagasaki.

Dalam museum, di balik lemari kaca, tampak botol-botol yang meleleh akibat panas yang luar biasa. Bahkan, sepertinya ada benda lain yang ikut meleleh dari botol. Mungkin dapat dipastikan bahwa tak mungkin ada tangan utuh yang tersisa, tetapi dari botol yang meleleh menyerupai kristal kaca itu ada bekas ruas jari manusia berbentuk ukiran cekung.

Museum Bom Aton Nagasaki menjadi bukti sejarah atas tragedi memiluhkan yang terjadi 9 Agustus 1945. Foto: Arsip CNN

Abu dari telapak tangan yang mewarnai cekungan botol meleleh berwarna hijau itu mampu melukiskan suatu suasana menyakitkan. Ada pula foto reruntuhan bangunan, foto pakaian yang bagian lengan dan kaki kanan hangus dilahap api.

Pendek kata, semua yang terjadi saat bom atom meledak hingga penanganan darurat, termasuk sejumlah patung orang suci dalam keyakinan Katolik serta pakaian dan bahan bangunan milik korban dalam tragedi itu tersimpan di museum. Menggambarkan dan memberi satu pesan singkat bahwa pemboman itu sangat kejam!

Setiap 9 Agustus tepat pukul 11.02, masyarakat di Nagasaki selalu berkumpul dan berbaring serentak selama beberapa menit di taman monumen. Cara itu untuk mengenang nasib manusia yang telah tewas tergeletak akibat dihantam bom atom.

Belum Terjawab

Akan tetapi, mengapa Nagasaki menjadi pilihan untuk dibom? Bukankah kota itu sebelumnya tak masuk dalam target Sekutu? Sampai sejauh ini alasan tersebut belum terungkap. Ada pihak yang menyebut pilihan itu hanya kebetulan belaka.

Namun, ada pihak yang menduga pemboman tersebut terkait dengan pabrik senjata milik perusahaan Mitsubishi untuk mendukung mesin perang Jepang yang berada di Nagasaki. Di sana, ada Mitsublishi Shipyards, Mitsubishi Electric Company, Mitsubishi Steelworks, Mitsubishi Arms Factory, dan pabrik-pabrik pendukungnya yang lain.

Argumentasi tersebut mungkin benar. Apalagi pabrik senjata itu ikut hancur. Namun, mengapa lokasi pemboman di Nagasaki bukan pabrik senjata? Pertanyaan ini tentu sulit pula dijawab, sebab sebagian tujuan dari pemboman adalah untuk percobaan senjata. Lagi pula, situasi Kota Nagasaki terkurung oleh gunung dan bukit sehingga memudahkan pembuktian dari percobaan tersebut.

Napoli di timur

Nagasaki adalah kota laut dengan deretan bukit nan indah. Sejak abad ke-16, Nagasaki telah menjadi kota pelabuhan, dimana para pedagang dari Portugis, Spanyol, Belanda, dan China ramai-ramai mengunjunginya. Kondisi ini membuat Nagasaki telah terbuka sejak ratusan tahun silam.

Keterbukaan itu membuat Nagasaki juga mendapat julukan sebagai wilayah multikultural, sebab di sana berbaur kebudayaan Portugis, Spanyol, Belanda, China, Rusia, dan Amerika. Belanda memiliki suatu pos perdagangan di Dejima. Peninggalan Belanda seperti nama tempat masih ditemukan di wilayah ini, misalnya Huis ten Bosch atau “rumah dalam hutan”. Gedung peninggalan asing itu tetap terpelihara dan terawat, bahkan telah menjadi museum untuk tujuan wisata.

Keterbukaan terhadap kebudayaan asing di Nagasaki tampak pula dari kehadiran kelompok Kristen di tengah mayoritas umat Buddha atau Shinto. Dari total jumlah penduduk Kota Nagasaki yang sebesar 418.523 jiwa, sekitar 20 persen di antaranya adalah penganut Katolik.

Di musim gugur, saat Danau Acer berubah warna menjadi merah, kuning, dan jingga, kecantikan wajah Nagasaki semakin terasa luar biasa. Karena begitu cantiknya suasana di sekeliling dan di tengah kota itu, masyarakat di Eropa menjuluki Nagasaki sebagai Napoli di timur.

Kisah Nagasaki yang malang itu tidak habis-habisnya dan terus melegenda. Kisah tanpa ujung tersebut seolah bertutur bahwa luka akibat bom atom yang maha dahsyat tetap dan selalu membekas. Kehadiran Museum Bom Atom membuat kisah tragis dan kejam yang menimpa Nagasaki pada 9 Agustus 1945 pukul 11.02 itu tetap terkenang sepanjang masa.

Meski telah 80 tahun berlalu, tragedi itu tetap menjadi pengingat hidup tentang kengerian yang mendalam dari penggunaan senjata nukilr. Apalagi hingga kini perang antarnegara masih terus berkecamuk di sejumlah belahan dunia, seperti di Gaza, dan juga di Rusia-Ukraina. Mendiang Paus Fransiskus pernah mengingatkan, “Perang selalu merupakan kekalahan bagi kemanusiaan”. Perdamaian sejati menuntut keberanian meletakkan senjata, terutama senjata yang memiliki kekuatan untuk menimbulkan bencana yang tak terlukiskan.

JANNES EUDES WAWA
Wartawan/Pegiat Sepeda

 

 

Share ini
Continue Reading
5 Comments

5 Comments

  1. Julianus Selsius

    Agustus 8, 2025 at 4:25 pm

    Artikel sejarah menarik. Ada catatan kisah iman khusus. Pada tahun 1942 Uskup Hirosima dan Nagasaki dikirim ke Flores oleh Pemerintah Jepang. Kedua uskup tersebut adalah Mgr. Paulus Yamaguchi,SJ dan Mgr. Aloysius Ogihara SJ. Tugas mereka adalah membina iman umat. Pada saat kedua kota tersebut diserang bom atom Amerika kedua uskup ini berada di Flores. Mereka akhirnya selamat dari serangan bom atom ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Humaniora

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

JANNES EUDES WAWA

Published

on

Share ini
Oleh JANNES EUDES WAWA

Sekitar pukul 19.15, kami kembali berkumpul di Imah Gede untuk makan malam. Hari itu ada tiga kelompok tamu mengunjungi Kesepuhan Gelaralam, yakni tim Jejak Petualang Trans7, tim mahasiswa, dan rombongan Jelajah Citpagelar. Pengaturan makan dalam tiga bergelombang. Kami mendapatkan kesempatan terakhir.

Menunya istimewa. Ada nasi merah dan nasi putih. Kedua jenis nasi berasal dari padi hasil panen tahun 2017. Untuk menjadi beras, warga menumbuk padi menggunakan alu dan lesung pada beberapa hari sebelumnya. Proses menanak nasi menggunakan kayu. Demikian pula dengan memasak sayur dan menggoreng ayam serta menu lain yang tersajikan malam itu.

Makan malam di Imah Gede Sabtu (6/12/2025) malam. Arsip Jelajah Bike

Saya menyempatkan diri ke dapur yang terletak di ruang paling belakang dari Imah Gede. Ada sekitar 10 perempuan bertugas menyiapkan makan malam bagi para tamu. Tersedia enam tungku. Saat itu lima tungku di antaranya terpakai memasak. Semuanya menggunakan kayu. Sekitar satu meter di atas tungku tersedia tempat penyimpanan kayu bakar. 

Hanya Sekali dalam Setahun

Sehabis makan, kami bertatap muka dengan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi bersama istrinya Ditha Ana Talia alias Apicita Tegal Lumbu. Dalam dialog itu, Abah Ugi banyak bercerita tentang Kesepuhan Gelaralam. Dia menyebut komunitasnya adalah kaum agraris yang cenderung berpindah tempat tinggal. Dalam usaha tani menggunakan dua sistem yakni bertani lahan kering yakni huma. Ada pula bertani lahan basah atau sawah. Masyarakat Kesepuhan Gelaralam memiliki 168 veritas padi plasma warisan leluhur.

Dalam mengolah lahan, mereka berpatokan pada dua bintang yakni kerti atau kartika sebagai pertanda memulai penyiapan lahan. Setelah itu muncul bintang kidang atau waluku atau orion menandakan mulai penanaman padi. Masa ini berakhir setelah bintang kidang bergeser ke arah timur laut, kemudian memasuki fase memelihara hingga berbuah dan menguning. Sebelum bintang kidang menghilang padi harus sudah selesai panen, sebab kemungkinan tidak lama lagi muncul serangga walang sangit.

Selanjutnya ibu bumi beristirahat total guna memulihkan tenaga setelah melahirkan padi baru. Masa istirahat juga sebagai persiapan untuk proses produksi pada tahun berikutnya. Sejak penanaman hingga panen membutuhkan waktu berkisar enam hingga tujuh bulan.

Penanaman padi, termasuk sawah hanya sekali dalam setahun tanpa menggunakan pupuk kimia. “Sejak dahulu kala leluhur kami melarang menggunakan pupuk kimia dalam usaha tani. Saat Orde Baru sedikit menyimpang karena pemerintah mewajibkan penggunaan pupuk kimia sehingga kami terpaksa memakainya tetapi hanya saat awal. Setelah akar padi mulai menguat, kami menghentikan penggunaan pupuk kimia,” ujar Abah Ugi.

Berfoto bersama Abah Ugi dan istrinya usai dialog pada Sabtu (6/12/2025) malam. Arsip Jelajah Bike

Beberapa puluh tahun terakhir, masyarakat Kesepuhan Gelaralam mengotimalkan penggunaan pupuk organik, yakni mengolah kotoran hewan peliharaan seperti kambing dan ayam. Hal ini membuat kualitas tanah menjadi lebih baik dan memberikan hasil optimal. Volume produksi mencapai minimal tujuh ton per hektar.

Dalam menanam padi warisan leluhur, petani menyesuaikan kecocokan tanah.  Padi di kesepuhan itu umumnya menghasilkan beras berwarna putih, merah dan hitam. Ada pula beras ketan. “Kami menanam dan memanen hanya sekali dalam setahun. Ini perintah leluhur untuk menghormati ibu bumi,” kata Abah Ugi.

Selalu Surplus

Sejauh ini hasil produksi selalu memberikan surplus besar; mencapai ribuan ton. Surplus selalu tersimpan dalam lumbung. Padi bagi masyarakat Sunda Wiwitan bukan sekedar makanan, tetapi juga nyawa. Menjual padi sama saja dengan memperdagangkan kehidupan sehingga masyarakat dalam Kesepuhan Gelaralam pantang bertransaksi padi atau beras.

Padi bukan sekedar hasil pertanian, melainkan warisan budaya, Leluhur mewariskan begitu banyak verietas unggul yang telah berusia ratusan tahun. Artinya, lumbung padi telah menjadi simbol ketahanan pangan. Penyimpanan padi yang ketat dan kontinyu memastikan masyarakat kesepuhan ini dapat bertahap hidup dan eksis dalam kondisi krisis. Itu sebabnya apabila suatu saat bumi takkan bisa ditanam selama 10 tahun atau lebih, masyarakat kesepuhan ini takkan kelaparan.

Tatap muka dengan Ketua Adat Kesepuhan Gelaralam Abah Ugi Sugriana Rakasiwi bersama istrinya Ditha Ana Talia alias Apicita Tegal Lumbu, Sabtu (6/12/2025) malam.

Abah Ugi juga menceritakan hubungan antara Kesepuhan Gelaralam dengan warga Sunda Wiwitan di Cigugur (Kuningan), Bogor, Badui dan Lebak. “Kami memiliki tradisi dan kepercayaan yang sama. Saat tertentu selalu saling mengunjungi. Sewaktu upacara seren taun di Gelaralam, mereka selalu berpartisipasi,” ungkapnya.

Dia juga tidak menginginkan Kesepuhan Gelaralam menjadi desa wisata, dan tetap sebagai kampung adat. “Leluhur memerintahkan kami untuk menjaga tradisi dan norma yang berlaku dalam kesepuhan ini. Itu yang wajib kami lestarikan. Namun kami membuka diri bagi siapa saja yang ingin mengunjungi kesepuhan ini,” tegas Abah Ugi.

Listrik Tenaga Air

Minggu (7/12/2025) pukul 06.00, semua peserta sudah berkumpul di alun-alun Imah Gede. Pagi itu, kami berjalan kaki mengitari perkampungan adat Gelaralam sambil menyapa warga sekaligus melihat lumbung-lumbung pangan serta lahan kebun dan sawah. Ki Sodong menemani kami sekaligus bertindak sebagai tour guide.

Mengitari Kesepuhan Gelaralam Minggu (7/12/2025) pagi. Arsip Jelajah Bike

Sepanjang perjalanan tampak air mengalir pada selokan-selokan di tengah dan tepi kampung. Selokan itu ada yang sudah permanen, tetapi ada pula yang masih berupa tanah. Air umumnya mengalir ke petak sawah dan tidak lama lagi bakal terjadi penanaman padi. Bibit padi sawah yang disemaikan sudah tumbuh.

Sementara sebagian lahan kering tampak padi mulai tumbuh dengan ketinggian sekitar lima hingga tujuh sentimeter. Ada pula lahan yang baru selesai pembersihan.

Hampir setiap rumah memelihara kambing di dalam kandang. Kandang-kandang itu selalu berada pada ketinggian sekitar satu meter di atas tanah. Pada tanah persis di bawah kandang menjadi tempat penampungan kotoran hewan yang nantinya menjadi pupuk pada lahan pertanian.

Air melimpah dalam wilayah Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike

Kesepuhan juga mengoperasikan empat pembangkit Listrik tenaga air (PLTMh) sejak tahun 1997. Mula-mula terbangun turbin Cicemet berkapasitas 50 kVa bantuan dari Badan Kerjasama Internasional Jepang atau Japan International Corporation Agency (JICA). Setelah itu turbin Situ Murni dengan kapasitas 50 kVa bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2006-2012. Lalu PLTMh Cibadak dan Ciptagelar pada 2013-2014.

Semua turbin ini memanfaatkan aliran Sungai Cisolok dan mampu memasok energi listrik mencapai 60.000 watt bagi warga. Biayanya lebih murah dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Mereka juga listik tenaga surya untuk memancarkan wifi bagi warga desa.

Lumbung Pangan

Sementara bangunan lumbung juga tersebar di beberapa titik. Terbanyak berada tak jauh dari Imah Gede. Ada puluhan unit yang terkosentrasi di kawasan itu. Hanya beberapa unit lumbung yang berada dekat rumah pemiliknya. Bentuk dan ukurannya sama. “Setiap lumbung mampu menampung minimal 3.000 pocong atau sekitar 3 ton padi,” jelas Sodong.

Lumbung pangan berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu tanpa jendela dengan satu pintu kecil serta beratap daun kirai atau ijuk. Pintu itu berada di dekat atap, sekitar dua meter dari permukaan tanah. Akses menuju ke pintu hanya melalui tangga kayu. Tujuannya agar lumbung itu terlindungi dari hama, serangga dan pencurian.

Deretan lumbung padi di punggung perbukitan Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike

Lumbung terdiri beberapa jenis, yakni warga adalah milik pribadi atau keluarga. Lumbung komunal untuk seluruh warga dan lumbung Si Jimat sebagai bangunan sakral simbol ketersediaan pangan kesepuhan.

Warga membangun  leuit atau lumbung secara gotong royong. Hal ini memperat persaudaraan dan solidaritas warga. Bahkan, menegaskan adanya filosofi hidup masyarakat Sunda yang sangat menjunjung tinggi keharmonisan dengan alam dan leluhur. Lebih dari itu menunjukkan pandangan visioner leluhur Sunda dalam menjaga stabilitas pangan dan keberlanjutan hidup masyarakatnya secara mandiri.

Setiap keluarga mengalokasikan hasil panen meliputi: 40 persen untuk kebutuhan keluarga setiap hari, 50 persen disimpan dalam lumbung atau leuit. Sisanya 10 persen untuk pengurus kampung adat. Setiap keluarga memiliki minimal satu unit lumbung. Padi disimpan dalam ikatan atau pocong.

Mereka meyakini penyimpanan padi takkan kadaluarsa. Padi dalam lumbung untuk kehidupan sehingga pantang menjadi komoditas atau diperjualbelikan. Penggunaannya tidak hanya untuk manusia, melainkan juga hewan seperti ayam, tikus, cicak, kecoa, semut. 

Seren Taun Simbol Rasa Syukur

Warga kesepuhan juga dilarang membunuh binatang di sekitar lingkungan tempat tinggal, sebab merupakan satu keluarga yang hidup bersama. Begitu pula dengan tikus yang ada dalam lumbung. Tikus pun berhak makan padi dalam lumbung, sebab mereka adalah penunggu. Tikus sebagai hama kalau memakan sebagian besar padi yang ada. “Kalau hal itu terjadi biasanya kami mengadu kepada penguasa tikus. Sebab setiap kehidupan selalu ada yang menjadi pimpinan,” ungkap Ki Sodong, pemuka adat Kesepuhan Gelaralam.

Tradisi lain yang menarik dari Kesepuhan Gelaralam adalah seren taun, yakni upacara syukuran atas panen padi sekaligus melakukan ritual penyimanan padi ke dalam lumbung. Masyarakat adat setempat mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta dan leluhur atas berkah pertanian yang telah diperoleh. Momentum itu juga menjadi ajang silaturahmi sesama komunitas untuk memperat persaudaraan.

Ribuan orang menghadiri acara ini. Mereka umumnya warga dari berbagai desa-desa dalam komunitas Sunda Wiwitan yang datang dengan membawa hasil panen. Selain itu ada pula warga dari berbagai daerah yang ingin menonton upacara yang penuh sakral ini. Acara ini biasanya terjadi pada Agustus hingga September. Tanggal kegiatan baru ditentukan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi setelah selesai panen.

Berbincang di sela-sela mengitari Kesepuhan Gelaralam, Minggu (7/12/2025) pagi. Arsip Jelajah Bike

Rangkaian ritual saren taun dimulai dengan arak-arakan warga komunitas sembari membawa hasil panen menuju lumbung padi, berlanjut doa bersama dan persembahan untuk memohon kesuburan di tahun depan. Ada pula dimeriahkan dengan pertujukan seni seperti permainan angklung, tarian Sunda (seperti Tari Jamparing Apsari, Tari Puragabaya), dan pertunjukan budaya lainnya. Ada pula makan bersama dengan memotong kerbau.

“Seren taun tahun 2026, kami belum tahu waktunya, tetapi biasanya pada Agustus atau September. Waktu persisnya baru diputuskan Abah Ugi setelah selesai panen. Mungkin pada bulan Juni atau Juli 2026 sudah bisa tahu tanggal kegiatan Seren taun 2026. Jangan lupa datang ya,” ujar Ki Sodong.

Belanja suvenir

Sekitar pukul 07.15, kami tiba kembali ke Imah Gede. Beberapa peserta langsung kembali ke penginapan untuk mandi dan mengemas barang-barangnya. Beberapa orang lainnya melakukan sarapan pagi di rumah induk tersebut. Menu pagi itu selain nasi yang enak hasil panen dari lahan kesepuhan, juga ada sayur campuran buah pepayah muda dan daun singkong, telur rebus, ayam kampung goreng, serta daging kambing panggang. Tersedia pula kopi dan teh.

Pagi itu di pendopo Imah Gede, dua warga menjajalkan dagangan hasil buah karya masyarakat kesepuhan, seperti kain penutup kepala pria dan selendang untuk perempuan bermotif lokal, tas anyaman, gelang anyaman dan gula aren (cair dan batangan). Cukup banyak barang yang laku terjual.

Wajah-wajah bahagia saat berada di Kesepuhan Gelaralam, Minggu (7/12/2025). Arsip Jelajah BIke

Kurang lebih pukul 09.00 WIB, kami berpamitan dengan warga Kesepuhan Gelaralam untuk kembali ke Pelabuhan Ratu. Semua menampilkan raut wajah Bahagia, sebab akhirnya menginjakkan kaki di kampung adat yang melegenda ini dan menginap semalam. Apalagi dapat bertemu muka dengan ketua adatnya Abah Ugi Sugriana Rakasiwi dan istrinya Ditha Ana Talia alias Apicita Tegal Lumbu, sebuah momentum yang langka.

Perlu Pengaspalan Jalan

Perjalanan pulang ini melewati rute yang berbeda, yakni melalui kawasan Ciptagelar dan Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Jalan pada rute ini pun masih makadam. Malah kondisinya jauh lebih berat dibanding pada rute melalui wilayah Ciptarasa. Di sejumlah titik, jalan makadam itu rusak dan licin. Beruntung para sopir yang ada sangat lihai mengendarai mobil-mobil peserta sehingga terhindari dari musibah.

“Jujur saya prihatin dengan kondisi jalan menuju Kesepuhan Gelaralam. Dalam jarak lebih dari 40 kilometer kondisinya makadam. Saya membayangkan kalau ada warga yang mendadak sakit atau ada ibu yang mau melahirkan yang perlu dibawah ke Pelabuhan Ratu untuk berobat. Penderitaan mereka pasti luar biasa,” ujar Luddy Suteja, warga Bandung.

Jalan yang rusak parah sehingga hanya mobil dua gardan yang dapat melewatinya. Arsip Jelajah Bike

Dia mengharapkan Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Provinsi Jawa Barat untuk melakukan pengaspalan jalan yang ada. Pemerintah perlu duduk bersama dengan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi membicarakan persoalan ini dan mencarikan solusi terbaik.

Tepat pukul 13.00, semua peserta tiba kembali di Muse Coffee di Pelabuhan Ratu. Kami makan siang di tempat ini sekaligus mengakhiri petualangan selama dua hari ke Desa Adat Kesepuhan Gelaralam. Sebuah pengalaman yang menarik dan amat berkesan. Di sana ada contoh nyata hidup selaras alam: mengembangkan ketahanan pangan, memanfaatkan teknologi sederhana untuk menciptakan kemandirian pangan dan energi berkelanjutan. (habis)

Jangan lewatkan!

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

 

 

 

Share ini
Continue Reading

Humaniora

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

JANNES EUDES WAWA

Published

on

Share ini
Oleh JANNES EUDES WAWA

Sabtu (6/12/2025) sekitar pukul 13.30, kami bergerak ke Gelaralam menggunakan 5 unit mobil double cabin, serta satu unit mobil Suzuki Jimmy dan stau unit Totoya Land Cruser milik om Joko Kus Sulistyo. Semua mobil memiliki dua gardan. Kami harus menggunakan mobil tipe sepertil ini karena akan melewati jalan makadam dan menanjak sejauh lebih dari 40 kilometer hingga mencapai kesepuhan tersebut.

Setelah keluar dari jalan utama di Pelabuan Ratu, kami langsung menghadapi jalan yang sempit dengan lebar hanya sekitar dua meter. Tiga kilometer awal masih melewati jalan beraspal.  Selepas itu mulai menanjak dan berbatu. Jalan hanya berupa lapisan batu pecah dan batu bulat kecil yang dipadatkan.

Suka cita saat mengayuh sepeda dari Sukabumi ke Pelabuhan Ratu, Sabtu (6/12/2025). Arsip Jelajah Bike

Tanjakan terus bertambah. Beberapa kali kami melewati jalan menurun, tetapi tidak panjang, sesudahnya menanjak lagi. Mobil kami  sempat berpapasan dengan kendaraan lain. Para sopir sepertinya saling memahami sehingga segera mencarikan solusi agar perjalanan tetap lancar.

Kami melewati kampung Ciptarasa yang pada tahun 1984-2000 menjadi pusat Kesepuhan Ciptagelar. Kampung ini berada pada ketinggian 765 meter di atas permukaan laut (mdpl) terletak di punggung Gunung Sangiang dan Gunung Bodas, dekat Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak.

Di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak tampak perkebunan durian dan cengkih yang dikelola kelompok perorangan dan swasta. Ada pula persawahan dan kebun. Pohon-pohon tampak rindang, besar dan menjulang. Di tengah belantara tampak pula pohon nira,  kirai dan bambu. Warga setempat mengolah air nira menjadi gula merah dan memanfaatkan daun kirai untuk atap rumah.

Jalan rusak parah menuju Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike

Permukiman penduduk hanya berada di beberapa titik, seperti di wilayah Ciptarasa dan Sirnaresmi. Rumah-rumah warga umumnya menggunakan bahan baku kayu dan bambu serta beratap ijuk atau daun kirai. Hanya sebagian kecil rumah yang permanen.

Hujan di Belantara Hutan

Di tengah hutan belantara itu sempat turun hujan yang cukup lebat. Penumpang mobil double cabin yang berada di bagian belakang langsung menutup tas-tas pakaian dengan terpal. Mereka juga mengenakan jaket hujan. Suhu dingin menusuk tubuh sepanjang perjalanan.

Hujan lebat itu membuat kami khawatir. Batu-batu perkerasan yang ada kemungkinan licin sehingga menghambat laju roda kendaraan. Namun, semua mobil memiliki dua gardan sehingga petualangan kami tidak mengalami hambatan saat hujan deras.

Tiba di Kesepuhan Gelaralam, Sabtu (6/12/2025) . Arsip Jelajah Bike

Menjelang pukul 17.00, kami pun tiba di Kesepuhan Gelar Alam yang berada pada ketinggian 1.200 mdpl. Sore itu kabut mulai menyelimuti sebagian wilayah. Suhu udara mulai dingin. Gelaralam dalam bahasa setempat berarti membentang alam atau terbuka luas terhadap alam. Hal ini mencerminkan filosofi yang menjunjung tinggi keharmonisan dengan alam dalam kehidupan.

Setelah turun dari mobil masing-masing dan melakukan perenggangan tubuh, kami menuju ke Imah Gede atau rumah induk atau rumah utama untuk melapor diri. Rumah tersebut merupakan pusat spiritual dan adat, tempat tinggal pemimpin tertinggi atau ketua adat yakni Abah Ugi.

Imah Gede lumayan besar dan luas. Terbuat dari kayu dan bambu, dinding anyaman bambu serta beratap ijuk. Lantai rumah dibikin sekitar satu meter di atas permukaan tanah, lalu dilapisi bambu yang telah dibilah. Loteng menggunakan anyaman bambu. Material yang semuanya alami membuat suasananya terasa adem.

Cincau bersama peserta lainnya  menikmati kopi setelah tiba di Imah Gede, Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike

Pada ruang utama rumah ini terpajang cukup banyak foto aktivitas warga kesepuhan dan para ketua adat selama beberapa generasi sebelumnya. Mereka juga memajangkan sejumlah peralatan yang menjadi simbol-simbol adat. Di tempat itu pula tersedia air hangat, kopi, teh dan gula sebagai sajian selamat datang. Para tamu membuat sendiri minuman sesuai seleranya.

Inap di Rumah Warga

Panitia pun melakukan koordinasi dengan pimpinan kesepuhan untuk pengaturan penginapan peserta. Maklum, di sana tidak tersedia rumah khusus untuk pengunjung. Para tamu biasanya ditempatkan di rumah-rumah warga. Di rumah itu tersedia kamar khusus, dan tamu akan memberikan sejumlah uang sebagai imbalan. Tarifnya tidak besar, sekitar Rp 300.000 per rumah. Sedangkan untuk makan dipusatkan di Imah Gede atau rumah induk.

Menjelang petang, para peserta langsung menuju rumah warga untuk istirahat dan menginap. Ada delapan rumah menjadi penginapan kami. Para pemilik rumah menyediakan tikar, kasur, bantal dan selimut. Air untuk mandi dan kakus pun berlimpah. Warga menerima kami dengan ramah dan suka cita. Komunikasi terjalin dengan sangat baik.

Petang hari, saya bersama om Octovianus Noya, om Joko Kus Sulistyo, dan Yatno Aan bertemu dengan Ketua Adat Kesepuhan Gelaralam Abah Ugi Sugriana Rakasiwi di ruangnya di Imah Gede. Kami bersilaturahim dan menyampaikan niat tim jelajah mengunjungi desa adat tersebut. Abah Ugi yang merupakan generasi ke-11 pemegang tambuk kesepuhan itu menyambut kami dengan senang hati. Dia menyatakan minatnya untuk berdialog dengan semua peserta pada malam itu setelah selesai makan di pendopo.

Bertemu Ketua Adat Kesepuhan Gelaralam Abah Sugriana Rakasiwi (tengah), Sabtu petang. Arsip Jelajah Bike

Kesepuhan Gelaralam termasuk bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul. Ini adalah komunitas masyarakat adat Sunda yang mendiami wilayah Gunung Halimun. Mereka hidup selaras dengan alam dan tradisi leluhur, mengedepankan kearifan lokal dalam mengelola alam, pertanian dan kehidupan sosial. Mereka dipimpin tetua adat dengan aturan yang mengacu pada tradisi Sunda Wiwitan. Komunitas ini tersebar di sekitar 569 perkampungan yang berada di Kabupaten Lebak, Bogor dan Sukabumi.

Tradisi Berpindah Tempat

Dalam bekerja, ketua adat dibantu para rorokan atau kelompok adat yang bertugas menjaga dan mengurusi berbagai aspek kehidupan sosial, budaya dan sumber daya alam. Misalnya, Rorokan Pemakayaan bertugas menjaga kelestarian sumber air dan pertanian. Ada pula rorokan yang memimpin ritual adat seperti selamatan padi. Lalu rorokan yang khusus mengurus Imah Gede, termasuk makanan untuk Abah Ugi dan keluarganya.

Masyarakat adat Gelaralam juga memiliki tradisi ngalalakon atau berpindah tempat pusat pemerintahan. Bahkan, sejak berdiri tahun 1368, kesepuhan ini telah beberapa kali melakukan perpindahan lokasi permukiman. Perpindahan itu tidak semata-mata sebagai upaya kesepuhan untuk kembali ke titik nadir peradaban, namun juga perwujudan permukiman yang lebih baik. Proses ini selalu bermula dengan adanya wangsit (perintah gaib) dari leluhur melalui mimpi yang dialami ketua adat.

Berfoto bersama di depan rumah induk atau Imah Gede Kesepuhan Gelaralam, Sabtu (6/12/2025) sore. Arsip Jelajah Bike

Saat wabah virus Covid-19 melanda dunia, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi pun mendapatkan wangsit (perintah gaib) dari leluhur agar segera bersiap untuk pindah dari lokasi saat itu di Ciptagelar. Serangan wabah itu menjadi pertanda alam bagi kesepuhan untuk melakukan tradisi ngalalakon.

Leluhur juga memberikan petunjuk lokasinya yakni dua kilometer arah tenggara. Maka, usai upacara Seren Taun pada September 2021, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi memerintahkan pembangunan Imah Gede di Gelaralam pada awal Desember 2021 hingga Februari 2022. Hal ini sebagai persiapan. Kapan waktunya akan pindah masih menunggu wangsit leluhur.

Titah Leluhur

Pada 1 Maret 2022 malam, ribuan warga: tua-muda, laki-laki dan perempuan telah berkumpul di alun-alun Kesepuhan Ciptagelar. Mereka mengenakan pakaian adat berwarna hitam dan berikat kepala bagi pria dan selendang khusus Perempuan menunggu titah dari Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, Kepala Adat Kesepuhan Ciptagelar untuk bergerak.

Deretan lumbung pangan di Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike

Tepat pukul 22.00 WIB titah pun turun. Saat itulah mereka bergerak serentak dari alun-alun menuju ke arah tenggara. Hujan lebat seakan merestui dan memberikan berkah kegiatan ngalalakon tersebut. Sambil memegang obor, senter dan lampu gawai, warga tetap bergerak maju menapaki jalan tanah dalam arak-arakan yang tertib sejauh lebih dari dua kilometer.

Jalan tanah yang naik dan turun serta telah berlumpur akibat hujan deras tidak menjadi penghalang bagi ribuan warga untuk terus berjalan kaki. Mereka membawa barang-barang yang merupakan komponen penting bagi Kesepuhan Ciptagelar menuju Imah Gede di Gelaralam. “Suasana saat ngalalakon itu sungguh dramatis,” ungkap Ki Sodong.

Berikut daftar Ngalalakon Kasepuhan Ciptagelar:

  1. Cipatat Urug (1368-1556);
  2. Pasir Gombong (1556-1729);
  3. Ciear, Cimanaul, Bongkok, Cibeber, Pasir Talaga, Lebak Larang, Lebak Binong (1729-1797);
  4. Pasir Talaga (1797-1832);
  5. Tegal Lumbu (1832-1895);
  6. Cicadas, Bojongcisono (1895-1937);
  7. Cicemet, Sirnaresmi (1937-1972);
  8. Sirnarasa (1972-1980);
  9. Linggarjati (1980-1984);
  10. Ciptarasa (1984-2000);
  11. Ciptagelar (2001-2022);
  12. Gelar Alam (2022- sampai sekarang (bersambung)

baca juga:

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Share ini
Continue Reading

Humaniora

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

JANNES EUDES WAWA

Published

on

Share ini
Oleh JANNES EUDES WAWA

Puluhan tahun terakhir nyaris tidak ada lagi kampung yang memiliki stok pangan berlimpah. Malah selalu terjadi krisis pangan. Namun di Kesepuhan Gelaralam fakta menunjukkan sebaliknya. Warga kampung adat di lereng Gunung Halimun, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini justru memiliki ketersediaan pangan yang berlimpah, mampu memenuhi kebutuhan hingga puluhan tahun ke depan.

Hal ini terjadi karena masyarakat adat di Kesepuhan Gelaralam (dulu Ciptagelar) memiliki tradisi pertanian yang kuat warisan leluhur. Tradisi itu antara lain mewajibkan memiliki lumbung pangan adat atau leuit sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan. Kehadiran leuit untuk memastikan pasokan beras dapat bertahan selama puluhan tahun.

Deretan lumbung padi di Kesepuhan Gelaralam, Kabupaten Sukabumi, Minggu (7/12/2025). Jannes Eudes Wawa

Masyarakat adat Kesepuhan Gelaralam juga memegang prinsip tidak menjual beras, sebab dianggap sebagai bekal kehidupan dan bagian dari keseimbangan alam. Bagi mereka, menjual beras sama dengan memperdagangkan kehidupan.

“Menyimpan padi dalam leuit adalah perintah leluhur. Kami tergolong masyarakat yang hidup di tengah hutan yang mandiri sehingga harus memiliki stok pangan berlimpah. Leluhur selalu menuntun perjalanan kami,” kata Ketua Adat Kesepuhan Gelaralam Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, Sabtu (6/12/2025) malam.

Gowes dari Rumah

Keunikan tradisi masyarakat adat Kesepuhan Gelaralam sudah dikenal luas, termasuk di kalangan para pesepeda. Beberapa kali timbul niat Jelajah Bike untuk melakukan touring ke sana, tetapi selalu gagal. Pada pertengahan Oktober 2025 muncul kembali gagasan itu, dan memastikan waktu pelaksanaannya pada 6-7 Desember 2025. Kami langsung melakukan promosi melalui whatsapp ke sejumlah pesepeda.

Para pesepeda pun menyambut gembira ide perjalanan ke Gelaralam. Sebanyak 38 orang memastikan diri mengikuti event ini. Para peserta menetap di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Bandung. Mereka umumnya belum pernah mengunjungi Kesepuhan Gelaralam, termasuk saat masih berada di Ciptagelar.

“Sudah sangat lama saya mendengar cerita tentang keunikan tradisi masyarakat adat di Kesepuhan Gelaralam, termasuk saat masih di Ciptagelar. Namun, baru kali ini saya dapat mengunjunginya. Sungguh menarik. Sebuah contoh nyata kemandirian pangan yang berbasis tradisi budaya,” kata Sumardi alias Didi, warga Bogor.

Bersepeda jarak jauh salah satu upaya menumbuhkan kebagiaan.  Arsip Jelajah Bike

Sesuai jadwal, perjalanan menuju Ciptagelar dimulai dari Kota Sukabumi pada Sabtu, 6 Desember 2025. Akan tetapi, sejumlah peserta memilih melakukan petualangan itu sejak sehari sebelumnya, yakni Jumat. Ada yang bersepeda dari Bintaro. Kelompok lain dipimpin Octovianus Noya mengayuh sepeda dari Cinere. Ada pula yang gowes dari Jatiwarna, Bekasi.

Kami bertemu di Bogor, lalu melewati Ciawi. Gowes ini cukup seru, sebab kontur sangat variatif: menanjak, menurun dan mendatar yang silih berganti menghadang. Sekitar 30 kilometer menjelang Kota Sukabumi terguyur hujan cukup lebat.

Tantangan-tantangan yang ada tidak menyurutkan semangat para pesepeda ini untuk mengayuh sepeda hingga finis. “Saya tidak peduli dengan keadaan yang ada selama gowes ini. Ada rasa Lelah, tetapi bodoh amat. Yang penting gowes sampai di finis di Sukabumi,” kata Yoke Haulani Latif, pesepeda asal Kelapa Gading.

Paket Menarik

Sabtu (6/12/2025) sekitar pukul 06.30 WIB, kami memulai perjalanan dari Sukabumi menuju Pelabuhan Ratu. Pagi itu arus lalu lintas di kota ini masih relatif sepi dari kendaraan. Hanya segelintir angkutan kota yang mulai beroperasi. Kayuhan pun terasa nyaman.

Beberapa kali kami berpapasan dengan sejumlah warga setempat yang bersepeda dan lari. Jumlahnya tidak banyak, tetapi setidaknya menggambarkan semangat berolahraga selalu tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Kesadaran ini juga menunjukkan keinginan untuk hidup sehat dan bahagia.

Peserta Jelajah Ciptagelar berfoto bersama sesaat sebelum meninggalkan Sukabumi menuju Pelabuhan Ratu, Sabtu (6/12/2025). Arsip Jelajah Bike

Keluar dari Kota Sukabumi arus lalu lintas kian padat, terutama truk-truk besar dan bus yang hendak menuju Bogor dan pintu tol Parung Kuda. Apalagi di beberapa titik terjadi penumpukan kendaraan akibat ulah angkutan kota yang ngetem. Kondisi itu menghambat kayuhan kami. Rombongan kami terpecah dalam tiga hingga empat kelompok.

Selepas Cibadak, kami mengambil jalur ke kiri menuju Pelabuhan Ratu. Mulai dari titik itu, arus lalu lintas pun longgar. Perjalanan menjadi lancar. Udara segar sangat terasa. Di kiri dan kanan jalan tampak pohon-pohon rindang sehingga gowes sungguh menyenangkan.

Posisi Kota Sukabumi pada ketinggian 584 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan Pelabuhan Ratu pada ketinggian 10 mdpl. Sekilas terkesan ringan, sebab menuju lokasi yang rendah. Ternyata, perjalanan ini bukan sepenuhnya menurun.

Peserta melewati salah satu kawasan hutan pada rute Sukabumi-Pelabuhan Ratu. Suhu cukup adem dan menyegarkan. Arsip Jelajah Bike

Rute sejauh 63 kilometer itu malah menampilkan rolling (menanjak dan menurun) yang cukup banyak, dan hanya sedikit jalan mendatar. Beberapa kali kami melewati turunan panjang, tetapi selang 50-100 meter berikutnya langsung menghadapi tanjakan ngehek; pendek dengan memiliki kemiringan berkisar 15-25 derajat.

Pada rute ini juga terdapat perkebunan dengan budidaya pisang, durian, cengkih, jahe, papaya dan lainnya. Ada pula hutan bambu yang konon mampu menyerap air dalam jumlah besar dan menurunkan suhu udara.

Bikin Nyesak

Joko Kus Sulistyo, pesepeda dari Jakarta menilai rute Sukabumi ke Pelabuhan Ratu termasuk jalur yang menarik untuk bersepeda. Tanjakan dan turunannya cukup menarik, bahkan tidak terlalu berat. Ada cukup banyak pohon rindang sehingga udara terasa cukup menyegarkan. “Saya sangat menikmati gowes di rute ini,” kata Joko.

Rute Sukabumi-Pelabuhan Ratu cukup menantang tapi sangat menyenangkan. Itu yang dirasakan Joko Kus Sulistyo (belakang). Arsip Jelajah Bike

Pengakuan yang sama disampaikan Maya Megasari Devina alias MayMay, pesepeda dari Bintaro, Tangerang. Namun menurut dia, yang menyebalkan adalah rolling berkali-kali, dimana tanjakan-tanjakannya pendek tetapi kemiringannya lumayan tinggi. “Rolling-nya itu yang bikin nyesak. Butuh mental yang kuat,” ujarnya.

Sekitar pukul 10.30 WIB, rombongan pertama memasuki finis di Muse Coffee di Jalan Raya Citepus Tengah, Pelabuhan Ratu. Selang satu jam berikutnya rombongan terakhir pun tiba. Kami makan siang di lokasi itu sambil menyiapkan keberangkatan ke kampung adat Kesepuhan Gelar Alam di Desa Sirnaresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Jaraknya sekitar 42 kilometer.

Di Muse Coffee tersedia pula kolam renang yang luas dan lengkap dengan tempat bilas, juga arena bermain billiar. Paling laris adalah kolam renang. Setiap akhir pekan ratusan keluarga mengantarkan anak-anak mereka untuk berenang. Sepeda peserta kami simpan di lokasi yang berada tidak jauh dari tepi pantai selatan Jawa tersebut. (bersambung)

 

Share ini
Continue Reading
Advertisement

Kategori

Video

 

Advertisement

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.