Perjalanan
Catatan Royke Lumowa (37): Menyaksikan Laut Membeku dan Mengeras di Latvia
Tiada waktu tanpa salju. Jangankan tanah, pohon dan bangunan, danau dan laut pun membeku akibat musim dingin. Itulah fakta yang saya alami dalam perjalanan bersepeda di wilayah Eropa selama musim dingin ini. Kondisi tersebut memaksa saya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan alam, tetapi juga menjadi pengalaman yang luar biasa.
Saat bersepeda dari Kurpalaukis (Lithuania) menuju Riga (Latvia) pada 9 Januari 2024, saya menghadapi suhu minus 8 derajat celcius. Meski warga setempat menilai suhu seperti ini tergolong normal, sebab

Royke Lumowa sedang bersepeda dari Kurpalaukis (Lithuania) menuju Riga di Latvia pada 9 Januari 2024. Salju tebal menutupi semua tempat di area terbuka. Foto: Arsip Royke Lumowa
pada sehari sebelumnya suhu udara mencapai minus 26 derajat celicius.
Akan tetapi bagi saya yang berasal dari wilayah tropis, suhu di bawah nol dejat celcius termasuk sangat dingin. Apalagi, dimana-mana salju masih menutupi semua area dan barang yang berada di ruang terbuka.
Saya memulai perjalanan pada pukul 09.45. Bersepeda pada hari itu, saya melengkapi diri dengan Outfit Of The Day (OOTD): semuanya serba tebal. Helm khusus musim dingin, penutup kepala, bandana (kupluk) wajah, hidung dan mulut, serta kaca mata anti salju.
Pakaian pun beberapa lapis. Paling dalam adalah baselayer, lalu jersey musim dingin, jaket sepeda musim dingin dengan lapisan jaket windbreaker lengan panjang, celana padding musim dingin. Sepatu pun khusus musim dingin, juga kaos kaki serta sarung tangan tebal.
Berburu alat pemanas
Setelah mengayuh sepeda selama beberapa kilometer, suhu udara mulai membaik, saya memutuskan mengurangi lapisan pakaian dan mengganti dengan jaket yang agak tipis. Tujuannya agar kayuhan pun lebih nyaman.
Tak lama kemudian, saya sudah berada di perbatasan Lithuania dan Latvia. Masih seperti border-border sebelumnya di wilayah Uni Eropa, hanya ada pos perbatasan, tetapi tanpa petugas imigrasi serta bea dan cukai.
Memasuki wilayah Latvia, kami pun melakukan ritual perbatasan di salah satu lokasi. Mendengarkan lagu kebangsaan Lithuania, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Di situ, salju tebal menutupi semua tempat.
Di Latvia, tidak ada jalur khusus sepeda. Akan tetapi, saya dapat mengayuh sepeda dengan nyaman dengan memanfaatkan jalur kanan yang mirip bahu jalan. Jalan arteri yang saya lalui sepi dari lalu lalang kendaraan.

Perjalanan menuju Riga di Latvia pada 9 Januari 2024 sungguh berat. Salju tebal tampak dimana-mana. Foto: Arsip Royke Lumowa
Sekitar pukul 12.21, saya gowes sudah mencapai 42 kilometer, tepatnya di kota Lecava. Pada jalur yang saya lewati itu, ada restoran bernama Krogs Sembreno. Saya pun memutuskan untuk makan siang. Pilihan ini karena restoran berikutnya baru ada lagi di kilometer 80.
Sebetulnya pada suhu dingin seperti ini menyinggahi restoran, memiliki tiga manfaat: mengatasi lapar, istirahat dan menghangatkan tubuh. Mengapa? Karena di setiap restoran, toko ataupun stasiun pengisian bahan bakar umum selalu menyediakan alat pemanas. Kalau istirahat di bawah pohon seperti kebiasaan kita di Indonesia, maka bakalan membeku.
Alat pemanas sudah menjadi kebutuhan pokok di Eropa. Jangankan saya yang orang Khatulistiwa, masyarakat Eropa pun selalu berebutan mencari alat pemanas saat masuk ke restoran dan ruangan tertutup lainnya.
Menghadapi suhu dingin seperti ini, saya harus terus bergerak mengayuh sepeda. Jika istirahat tiga menit saja, badan terasa dingin. Tak lama kemudian terserang suhu dingin yang menyengat. Maka berburu alat pemanas adalah pilihan pertama bagi setiap orang yang masuk restoran atau toko dan lainnya.
Teluk Riga
Restoran yang kami singgahi siang itu tidak besar. Lebih tepatnya warung kecil, sebab hanya tersedia 10-15 kursi. Akan tetapi, tempatnya bersih dan menyenangkan. Makanannya lezat. Sup yang panas terasa enak banget di saat suhu dingin. Menikmati sup bersama roti terasa sangat maknyus. Pelayan pun ramah dan menarik.
Mungkin telah termanjakan dengan suasana kehangatan selama di dalam restoran, maka saat mau melanjutkan bersepeda rasanya berat sekali. Saya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menguatkan tekat mengayuh kembali.
Saya mampu melawan kenyamaan tersebut. Perlahan-lahan terus melaju. Setelah bersepeda sejauh beberapa kilometer barulah mendapatkan lagi kehangatan tubuh seperti sebelum makan. Semangat kembali membara.
Perjalanan tetap lancar. Suasana di tepi kiri dan kanan jalan masih sama seperti jalur-jalur sebelumnya, yakni berselimut salju. Kontur jalan cenderung datar, Dimana total ketinggian hanya 217 meter.

Bersepeda di kawasan Teluk Riga. Meski di pesisir pantai, tetapi salju tetap saja turun begitu banyak. Foto: Arsip Royke Lumowa
Sekitar pukul 16.00, saya pun tiba di kota Riga, salah satu kota besar di Latvia. Kota ini terletak di tepi pantai, persisnya di Teluk Riga. Kami menginap di Hotel Rija VEF. Hotel ini cukup mewah, tetapi harganya ekonomis, yakni 34 euro setara Rp 550.000 per malam. Harga ini termasuk termurah di Eropa kalau bandingkan dengan kualitas hotelnya.
Keesokan harinya, saya melanjutkan bersepeda dari Riga menuju Metzapoole. Kota ini sudah masuk wilayah Estonia. Hari itu suhu membaik, yakni minus satu derajat celcius. Bagi masyarakat Eropa, suhu seperti ini tergolong hangat selama musim dingin.
Saya memulai bersepeda pada pukul 10.22. Cuacanya sangat cerah. Pakaian musim dingin saya kurangi beberapa potong. Helm menggunakan yang khusus sepeda. Begitu pula dengan kaca mata. Jaket pun memilih yang tipis.
Kendati demikian, salju masih menyelimuti semua tempat. Sungai dan parit tertutup salju. Airnya pun membeku dan mengeras.
Komitmen Lingkungan
Hari itu, 10 Januari juga adalah Hari Lingkungan Hidup Nasional. Momentum ini saya mendorong masyarakat untuk terus-menerus menjaga lingkungan. Mulai sekarang dan selamanya bersahabatlah dengan alam walaupun alam tidak bersahabat dengan kita. Artinya peliharalah alam sebagai sahabat dekat: tidak melukai, apalagi menyakiti.
Untuk menyiasati saat alam tidak bersahabat adalah melakukan mitigasi. Karena bumi adalah habitat yang harus kita jaga untuk kelestariannya. Rumah dan keluarga adalah habitat terkecil di bumi.

Laut di Teluk Riga yang membeku. Royke Lumowa berada di atas laut yang membuka. Foto: Arsip Royke Lumowa
Maka untuk menjaga bumi, mulailah dari rumah. Kebersihan, keindahan rumah dan keharmonisan adalah cerminan bumi yang lestari.
Di negara maju, jalan raya pun tersapu bersih bagaikan lantai rumah. Bahkan, bila perlu dipel. Sungai-sungai selalu mengalirkan air tanpa limbah. Tanpa deretan rumah di pinggirnya. Ikan, itik, bebek dan burung bebas liar menikmati alamnya di sungai dan danau.
Pepohonan berbaris rapih di tepi jalan. Pohon-pohon yang ada terawat bagaikan rambut manusia yang dipangkas secara periodik.
Demikian pula dengan dahan dan ranting. Pemotongan pun tidak sembarangan. Selalu mempertimbangkan sudut kemiringan. Semua diatur dengan baik. Sampah udara pun tidak bebas berterbangan. Langit selalu biru dan indah dipandang mata.
Perjalanan saya hari itu cukup lancar. Jalan yang ada selalu lengang. Truk-truk besar dan kendaraan umum lainnya selalu menggunakan jalan bebas hambatan. Itu sebabnya saya bergerak lebih lancar melewati Teluk Riga.
Hambatan serius saya siang itu adalah angin. Tiupannya cukup kencang sehingga beberapa kali saya terpaksa berlindung di belakang mobil pengiring agar dapat melaju lebih cepat.
Laut membeku
Memasuki kilometer 82, persisnya sekitar pukul 15.30, saya dikagetkan dengan pemandangan alam di sebelah kiri jalan yang begitu menakjubkan. Dari kejauhan seperti ada dataran yang amat luas. Ternyata itu adalah laut yang tertutupi es. Sungguh luas, dan sangat indah.
Saya pun penasaran, dan meningkatkan laju kayuhan agar mendekati lokasi. Semakin dekat, saya pun semakin terpana dengan keindahannya. Begitu berada di lokasinya, rupanya hamparan yang menawan tersebut adalah laut yang telah membeku dan mengeras setelah cukup lama tertutupi salju. Laut tersebut masih dalam perairan Teluk Riga.
Rasa penasaran pun membumbung tinggi. Benarkah laut dapat membeku seperti ini? Rasanya mustahil. Maklum, sebagai orang tropis, sejak kecil belum pernah menyaksikannya? Membayangkan laut membeku ibarat menyaksikan dunia khiamat.
Begitu berada di lokasi, saya seolah masih tidak percaya dengan kenyataan itu. Saya pun mencoba berjalan di atas hamparan laut yang membeku tersebut sejauh kurang lebih 25 meter ke tengah dengan menentang sepeda. Kapan lagi berjalan di laut yang membeku. Saya mengabadikan diri dalam berbagai gaya. Tempat yang saya lewati telah mengeras seperti batu.

Laut membeku bahkan mengeras. Seringkali mobil pun boleh berjalan di atas salju yang mengeras itu. Foto: Arsip Royke Lumowa
Ternyata laut membeku itu sungguh nyata. Mungkin sejauh kurang lebih 2 mil ke tengah. Sungguh luar biasa. Sementara pantai pun meski ada batas yang cukup jelas, tetapi telah pula tertutup salju. Rasanya mengerikan juga menyaksikan fenomena alam seperti ini.
Setelah itu, saya melanjutkan bersepeda menuju border Latvia-Estonia. Sekitar pukul 17.30, saya tiba di border dan masuk kota Metzapoole. Hingga mencapai kota ini saya sudah bersepeda jauh 115,60 kilometer. Perjalanan hari itu sangat landai, dimana total ketinggian hanya 185 meter.
Memasuki wilayah Estonia, kami lagi-lagi melakukan ritual perbatasan. Setelah itu, saya pun loading menuju ke Kota Parnu sejauh 75 kilometer. Malam itu kami menginap di kota ini. Suhu dingin tetap menjadi suasana yang sulit terelakkan. (bersambung)
editor: JANNES EUDES WAWA
baca juga:
Catatan Royke Lumowa (36): Tantangan Berat Hadapi Suhu di Bawah Nol Derajat
Bisnis
Ambisi China, Swasembada Durian
Oleh JANNES EUDES WAWA
China yang selama ini menjadi importir durian terbanyak di dunia ternyata ingin mandiri. Mereka sadar betul permintaan buah beraroma khas tersebut di pasar domestik terus meningkat dengan volume tanpa batas sehingga jangan sampai sepenuhnya bergantung pada negara lain. Ambisi Negeri Tirai Bambu ini adalah swasembada durian.
Itu sebabnya, setelah menghabiskan miliran dollar AS selama bertahun-tahun sebagai importir, sejak tahun 2018, China mulai membudidayakan durian. Budidaya tersebut terpusat di Provinsi Hainan. Daerah ini berada di wilayah paling selatan memiliki iklim tropis yang cocok untuk tanaman yang memiliki kulit berduri tersebut.
Usaha ini tidak dilakukan secara sporadis oleh segelintir petani, melainkan melalui kerjasama melibatkan semua pihak dengan dukungan penuh pemerintah China. Mereka bersama-sama merencanakan dan menyiapkan blue print swasembada durian dengan matang dan detail.
Kalangan perguruan tinggi bertugas melakukan riset yang mendalam dan detail guna menghadirkan bibit durian berkualitas terbaik dan mendapatkan lahan yang cocok. Mereka juga tidak sungkan mengundang para ahli durian dari Thailand, Vietnam dan Malaysia untuk berbagai pengalaman.

Durian khas Indonesia. Arsip Jelajah
Saat yang sama Pemerintah China menyiapkan irigasi atau waduk dan meluncurkan program subsidi untuk membantu petani dan pelaku agrobisnis. Bantuan tersebut meliputi antara lain distribusi bibit, pelatihan teknis pengolahan lahan dan perawatan tanaman serta modal usaha.
Langkah itu dilakukan serius, sebab durian termasuk tanaman tropis yang sensitf dan banyak pihak belum meyakini lingkungan alam China cocok dan mampu mendukung rencana dan ambisi tersebut. Belum lagi, waktu berbuah pertama baru terjadi setelah tiga hingga lima tahun merupakan sebuah tantangan berat dan risiko ekonomi yang serius bagi petani perintis.
“Menanam durian di China bukanlah hal mudah. Diperlukan upaya, eksperimen dan ketekunan selama bertahun-tahun,” kata Lang Haibo, perwakilan petani di Sanya, Provinsi Hainam. Dia mengaku, selain kebijakan pendukung, pemerintah China mendorong adanya inovasi teknologi dan pengembangan industri durian yang terintegrasi. (Antara 22/7/2025).
Perluas Area Budidaya
Melansir Produce Report terungkap Provinsi Hainan telah berkembang menjadi pusat produksi durian utama di China. Kurang lebih 2.000 hektar perkebunan durian yang tersebar di wilayah Sanya, Baoting, dan Ledong. Area budidaya terus meluas ke utara, dengan kualitas dan hasil panen yang menunjukkan peningkatan signifikan. Tahun 2026 ini ditargetkan dapat mencapai 100.000 hektar.
Khusus di Sanya, area perkebunan durian telah mencapai 600 hektar, di mana 40 persen di antaranya sudah berbuah sejak tahun 2024. Produksi dari wilayah ini ditargetkan mencapai lebih dari 200 ton.
Situasi serupa terjadi di Baoting dengan 600 hektar dan 14 persen di antaranya juga mulai berbuah pada tahun 2024. Di Ledong, area budidaya mencapai 800 hektar melibatkan 18 perusahaan dan petani independen. Bahkan, sebuah “kota durian” sedang dirancang di area seluas 300 hektar. Mereka juga terus meningkatkan jumlah lahan perkebunan durian.
Bahkan, di Mingshan, Sanya, petani melakukan pola tumpang sari dengan menanam juga nanas, sirih dan pisang. Sambil menunggu panen durian mulai tahun kelima, petani dapat memperoleh sumber pendapatan dari komoditas yang ada.
Verietas Unggul
Presiden Asosiasi Durian Hainan sekaligus Manajer Umum Perusahaan Pertanian Hainan Youqi, Du Baizhong mengungkapkan, perusahaannya mengelola perkebunan durian sekitar 530 hektar di Sanya, 230 hektar di Ledong dan 120 hektar di Baoting. Produksi pertama pada 2023 dan 2024 sekitar 200 ton per tahun. Namun tahun 2025 produksi bisa mencapai minimal 2.000 ton. Saat itu sebagian besar pohon durian sudah berproduksi.
Pemerintah China serius berinvestasi dalam pengembangan varietas durian. Profesor Meng Lei dari Universitas Hainan menyatakan lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan perusahaan di Hainan sedang aktif mengembangkan varietas baru. Mereka juga selalu aktif mengundang ahli durian dari Thailand, Malaysia dan Vietnam untuk berdiskusi.
Para ahli juga melakukan riset terhadap tanah yang ada di wilayah Hainan yang cocok untuk budidaya durian. Hal ini sangat penting, sebab pada tahun 1950an petani di provinsi itu pernah melakukan budidaya durian, tetapi gagal. Kali ini mereka tak menginginkan kasus tersebut terulang kembali. Dari riset terkait kondisi tanah membuat keberhasilan budidaya durian tergolong tinggi. Kelangsungan hidup tanaman mencapai 98 persen.

Durian asli Bali. Arsip Jannes
China juga menginginkan peningkatan kualitas dan produktivitas buah. Termasuk di antaranya penemuan varietas tahan dingin sehingga dapat dibudidayakan di wilayah dengan garis lintang lebih tinggi. Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian Tropis Tiongkok telah menguji coba varietas ini di provinsi Guangxi dan Sichuan.
Sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas, beberapa petani di Hainan telah mengimpor bibit durian dari Malaysia, terutama varietas premium seperti Musang King dan durian duri hitam (black thorn). Mereka berambisi menemukan bibit durian yang mampu berproduksi sepanjang tahun.
Teknologi Budidaya
Demi kelancaran suplai air, pemerintah membangun irigasi atau waduk, memasang sistem irigasi otomatis yang dapat membantu menyalurkan air dan pupuk secara tepat. Petani juga menggabungkan penyiangan manual dan mekanis serta menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Selama fase pertumbuhan awal, setiap pohon hanya boleh mempertahankan 2-5 buah. Tujuannya untuk memusatkan nutrisi, membantu pohon beradaptasi lebih baik dan meningkatkan kualitas buah di kemudian hari.
Bahkan, petani dan perusahaan Perkebunan durian di Hainan juga memanfaatkan sumber daya ikan laut untuk memproduksi pupuk berbasis ikan. Pupuk ini tidak hanya membantu buah durian berkembang lebih sempurna, tetapi juga berkontribusi pada rasa yang lebih kaya.
China juga mengembangkan model dan teknik pertanian yang sesuai untuk pengelolaan pupuk, irigasi, pengendalian hama dan penyakit, serta pertumbuhan. Termasuk mengembangkan teknologi perlakuan pembentukan bunga dan buah serta peningkatan produktivitas dan menstabilkan hasil panen di bawah kondisi tanah yang ada.
Termasuk penerapan teknologi irigasi, sistem hujan buatan dan peralatan air serta pemupukan yang teritegrasi, perangkat deteksi hama, analisa spora dan platform mahadata yang menyediakan informasi pemantauan perkembangan dan kondisi tanaman durian secara cepat (real time). “Sekarang dapat memantau kondisi kesehatan dan kebutuhan nutrisi setiap pohon durian secara nyata dan cepat,” ungkap Lang.
Inovasi Pascapanen
Inovasi juga merambah pada proses pascapanen. Hainan Youqi Agricultural Co, Ltd. telah mengembangkan lini produksi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menyortir durian. Teknologi ini dapat secara otomatis mengidentifikasi kualitas buah dan memisahkan durian yang cacat, sehingga meningkatkan pengendalian mutu dan efisiensi penyortiran.
Perusahaan tersebut juga sedang menggalakkan produk-produk bernilai tambah, antara lain permen durian dan kue bulan durian. Hal itu untuk mendorong pertumbuhan industri sekunder durian.
Mengingat pada tahap awal, produksi durian masih sangat kecil sehingga harga durian asli China masih lebih tinggi dibanding durian impor. Namun demikian, yang dapat mereka tawarkan sebagai keunggulan adalah kesegeraran dan cita rasa yang lebih unggul berkat pertanian pintar lokal dan rantai pasokan yang lebih pendek.
China merupakan negara pengimpor sekaligus konsumen durian terbesar di dunia. Menurut data Administrasi Umum Kepabeanan (General Administration of Customs/GAC) China, total volume impor melonjak dari 298.800 ton pada 2015 menjadi sekitar 1,36 juta ton pada 2024. Nilai impor mencapai Rp 125 triliun.
Setiap tahun, permintaan impor durian selalu meningkat rata-rata tujuh persen. Hal ini menyadarkan petani dan perusahaan-perusahaan di China untuk mandiri sekaligus menekan impor durian. Jumlah penduduk China sebanyak 1,425 miliar jiwa adalah potensi pasar yang amat besar.
Gebrakan mandiri durian di China ini menjadi ancaman nyata bagi negara-negara produsen durian, seperti Thailand, Vietnam, Malaysia dan Indonesia. Apalagi, keempat negara tersebut selama ini menjadikan China sebagai tujuan utama ekspor durian.
Indonesia Perlu Antisipasi
Manuver China ini sebetulnya hal normal. Dengan pasar domestik yang sangat besar dan tidak terbatas itu sepantasnya jangan mengandalkan sepenuhnya pada negara lain. Ada risiko permainan harga sepenuhnya berada di tangan importir dan eksportir. Konsumen berpeluang menjadi korban.
Meski demikian, perlu menjadi perhatian kita bahwa China mampu memproduksi barang dengan harga murah. Hal juga berlaku pada komoditas buah-buahan. Jeruk, anggur dan apel dari China menguasai pasar Indonesia, sebab menawarkan harga murah dan kualitas bagus. Bukan tidak mungkin kelak kasus serupa juga terjadi pada durian. Durian China menyerbu pasar Indonesia.
Itu sebabnya, gerakan China ini seharusnya menjadi peringatan dini bagi pemerintah dan petani di Indonesia agar segera membenahi kembali usaha budidaya, distribusi dan pemasaran durian secara total dari hulu hingga hilir. Tujuannya untuk mendapatkan durian yang memiliki daging terbaik dengan harga yang ideal. Apalagi, belakangan ini harga durian cukup mahal, dan seringkali tidak masuk akal.
Indonesia yang memiliki penduduk kurang lebih 285 juta jiwa ini, dimana sekitar 80 persen di antaranya adalah penyuka durian menjadi pasar yang besar. Potensi ini juga bakal menjadi target China di masa depan. Jika harga durian China lebih murah dengan daging yang lebih berkualitas bukan tidak mungkin konsumen Indonesia bakal lebih memilih durian impor. (Habis)
Bisnis
Durian Indonesia Hanya Jago Kandang
Oleh JANNES EUDES WAWA
Indonesia boleh saja berbangga sebagai negara penghasil buah durian terbanyak di dunia. Bahkan memiliki keanekaragaman genetik sekitar 21 dari 27 spesies durian di dunia. Akan tetapi, durian Indonesia ternyata hanya jago kandang. Hampir 94 persen terdistribusi di pasar lokal. Sama sekali tidak berdaya di pasar global.
Di pasar dunia justru Thailand dan Vietnam yang menjadi rajanya. Kedua negara ini menguasai 94,1 persen dari seluruh perdagangan durian. Indonesia hanya kebagian 0,043 persen. Sungguh ironis dan memprihatinkan. China tetap tercatat sebagai importir durian terbesar.
Berdasarkan data Trade Map dalam Durian Global Market Report oleh Plantation Internasional, volume ekspor durian di pasar global pada tahun 2024 sebanyak 1.372.863 ton. Dari jumlah itu, Thailand menjadi negara terdepan dalam memenuhi permintaan durian di pasar global dimana kontribusinya mencapai 857.400 ton atau 62,4 persen dengan nilai transaksi sekitar 4,39 miliar dollar AS setara Rp 71,42 triliun (kurs Rp 16.269 per dollar AS).
Jumlah ini meningkat siginifikan dibanding tahun 2018. Berdasarkan data dari pihak yang sama tercatat tahun 2022, misalnya, nilai ekspor durian Thailand mencapai 3,199 miliar dollar AS, dan tahun 2018 senilai 1,235 miliar dollar AS.
Berikutnya Vietnam. Negara ini melakukan gebrakan siginifikan sehingga tahun 2024 mampu mengekspor durian mencapai 435.700 ton atau 31,7 persen dengan nilai transaksi 3,3 miliar dollar AS setara Rp 53,6 triliun.

Durian Duri Hitam.
Sisanya diisi Hongkong yang pada tahun 2024 mengekspor 40.300 ton, Malaysia 22.400 ton, Filipina 16.000 ton, Indonesia hanya 591 ton, Bangladesh 227 ton, Kamboja 117 ton, Republik Dominika 82 ton dan Sri Lanka 46 ton.
Thailand Cerdas
Mengapa Thailand dapat menguasai pasar ekspor buah durian? Terobosan apa saja yang telah terjadi di negeri dalam beberapa tahun terakhir?
Thailand telah lama melihat potensi buah durian di pasar global. Pada tahun 2012, misalnya, negara itu sudah memiliki lahan tananam durian seluas 96.000 hektar, dan tahun 2019 melonjak tajam menjadi 152.000 hektar.
Bahkan, otoritas pertanian setempat menargetkan volume produksi buah durian di Thailand pada tahun 2022 mencapai 1,4 juta ton. Artinya terjadi peningkatan signifikan dari tahun 2019 sebanyak 656.777 ton.
Thailand sungguh cerdas. Negeri Gajah Putih itu bukan semata-mata membangun perkebunan durian skala besar dengan pengelolaan yang profesional, tetapi dengan serius mengembangkan riset yang mendalam, terpadu dan berkesinambungan guna menyediakan bibit berkualitas.
Mereka sadar betul bahwa hanya dengan bibit yang baik akan menghasilkan buah durian yang terbaik seperti keinginan konsumen. Thailand juga menyiapkan lahan khusus yang luas dan terawat. Tanaman mendapatkan perawatan, pemupukan yang rutin dengan pengairan yang teratur.
Permintaan yang tinggi di pasar luar negeri membuat sejumlah petani karet, singkong dan lainnya beralih menanam durian. Dari sekian banyak jenis durian di Thailand, hanya tiga jenis menjadi unggulan. Ketiga jenis itu adalah Kanyao, Chanee dan Monthong. Sejauh ini durian Monthong yang paling terkenal.
Durian montong menjadi golden pillow, sebab memiliki rasa yang enak dan manis, tidak begitu beraroma, daging buah yang tebal dan pulen. Ukuran biji yang kecil dan pipih, serta kesegarannya bisa bertahan cukup lama. Beratnya berkisar 3 – 5 kilogram per buah. Ada pula yang mencapai 10 kilogram per buah.
Lebih dari 90 persen buah durian Thailand diekspor. Tujuan utama adalah China, lalu Hongkong, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang. Bahkan, Thailand juga menjajaki pasar di Timur Tengah.
Vietnam Bangkit
Di luar Thailand, ada Vietnam yang juga terus gencar mengembangkan tanaman durian. Target utama adalah merebut pasar China dalam volume yang sebanyak-banyaknya. jumlah penduduk China mencapai 1,425 miliar jiwa merupakan potensi pasar yang sangat besar. Bahkan, bermodalkan jaraknya yang dekat dengan China, Vietnam menawarkan pengiriman melalui jalan darat sehingga dapat menekan biaya yang lebih rendah.
Ekspor melalui jalan darat dari Vietnam ke China hanya menempuh jarak sejauh 1.306 kilometer. Lama perjalanan maksimal tiga hari tentu menghemat biaya transportrasi. Hal ini membuat harga eceran durian di China pun lebih murah.
Harga durian Vietnam di China rata-rata 4 dollar AS per kilogram. Harga ini lebih rendah dibanding durian dari negara Asia Tenggara lainnya sekitar 6 dollar AS per kilogram. Tidak mengherankan permintaan durian dari Vietnam pun cukup tinggi. Pada semester I tahun 2023, Vietnam meraih devisa dari mengekspor buah durian ke China yakni 876 juta dollar AS atau setara Rp 13 triliun. Tahun 2024, Vietnam mendapatkan devisa sebesar 3,3 miliar dollar AS setara Rp 53,6 triliun.
Vietnam juga mengembangkan riset terpadu untuk menghasilkan durian yang dapat diproduksi sepanjang tahun. Sejauh ini Vietnam telah memiliki perkebunan durian seluas kurang lebih 150.000 hektar di kawasan Delta Mekong dan dataran tinggi.
Vietnam juga menandatangani protokol ekspor dengan China tahun 2022 dimana salah satu syarat yakni seluruh rantai pasok mulai dari penanaman hingga pengiriman harus dapat dilacak. Di dalam negeri juga pemerintah Vietnam menggalakkan peningkatan kualitas, inovasi teknologi pascapanen dan sistem logistik yang canggih. Hasilnya, ekspor durian Vietnam melonjak 7,8 kali lipat.
Refleksi untuk Indonesia
Timbul pertanyaan mengapa durian Indonesia masih kalah bersaing di pasar global?
Apakah mungkin Indonesia dapat menguasai pasar ekspor durian di pasar global? Jika mampu, apa yang perlu segera dilakukan pemerintah dan dunia usaha di Indonesia?
Secara umum, tanaman durian mampu tumbuh dan berkembang pada lahan dengan ketinggian 100-800 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan suhu udara berkisar 22-30 derajat celcius dan tidak toleran dengan suhu dingin. Curah hujan berkisar 1.500-3.000 mm per tahun dengan bulan basah dan kering yang jelas dan membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang tahun.

Menikmati durian di Tele, kawasan Danau Toba. Arsip Jelajah Bike
Sejauh ini Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan merupakan wilayah yang cocok untuk budidaya tanaman durian. Meski demikian, sejumlah daerah seperti di Lombok, Flores, Sumbawa, Papua, Maluku, dan Kepulauan Riau ternyata selama ini menghasilan buah durian yang berkualitas baik.
Selama ini hampir 80 persen pohon durian di Indonesia tumbuh secara alami, dan nyaris tak pernah mendapatkan perawatan yang baik dan kontinyu. Akibatnya, produktivitas dan kualitas buah selalu rendah sehingga hanya memenuhi permintaan pasar domestik atau lokal. Buah yang ada sulit menembus pasar global, sebab mengalami sejumlah kendala baik teknis maupun nonteknis.
Empat Persoalan
Di luar itu, ada pula sejumlah masalah serius yang membelit usaha budidaya durian di Indonesia. Pertama, belum adanya riset tanaman durian yang terpadu. Akibatnya, belum tampak durian unggulan Indonesia dengan kualitas prima. Kalau pun ada, riset itu hanya menjadi konsumsi kalangan terbatas.
Kedua, selama ini budidaya durian cenderung secara tradisional, sebab umumnya hanya melibatkan petani dengan areal yang terbatas. Akibatnya, perhatian pada perawatan dan pemupukan tanaman sangat terbatas. Itu sebabnya, petani perlu dibekali pengetahuan tentang pemilihan bibit unggul, perawatan dan pemasaran. Kecerdasan petani menjadi salah satu kunci utama keberhasilan usaha durian. Negara harus terlibat langsung dalam upaya pencerdasan petani.
Ketiga, usaha budidaya tanaman durian belum banyak melibatkan perusahaan swasta untuk mengembangkan perkebunan skala besar yang mampu produksi sepanjang tahun dengan kualitas terbaik. Belakangan setelah melihat pasar yang tidak terbatas, pihak swasta mulai bergairah mengembangkan budidaya durian.
Kehadiran pihak swasta dapat mendorong adanya buah durian yang berkualitas, unggul dan sesuai standar global serta fokus ekspor. Karena pasar ekspor menuntut adanya kualitas, kuantitas dan kontiunitas. Dengan iklim tropis yang dimiliki Indonesia membentang dari Aceh hingga Papua memicu durian dapat berproduksi sepanjang dengan waktu produksi di setiap sentra yang berbeda-beda.

Durian di Balige, tepi Danau Toba. Arsip Jelajah Bike
Keempat, pemerintah perlu melakukan promosi buah durian unggulan Indonesia ke pasar global. Selama ini setidaknya ada tujuh durian Indonesia yang populer yakni durian montong, durian petruk, durian bawor, durian musang king, durian tembaga, durian bokor, durian duri hitam dan durian merah.
Ayo Bangkit
Sudah waktunya semua pihak mengerahkan segala kekuatan untuk mengembangkan tanaman durian secara lebih baik. Para petani perlu mendapatkan informasi yang akurat baik tentang perawatan tanaman dan prospek buah durian yang memiliki pasar tanpa batas.
Melalui informasi budidaya yang benar, petani pasti semakin bergairah. Mereka akan bekerja penuh semangat guna menghasilkan buah durian berkualitas tinggi dengan volume produksi yang besar. Apalagi dengan dukungan pasar yang luas dan harga yang tinggi, maka durian dapat menjadi salah satu andalan Indonesia meraup devisa.
Pasar domestik memang semakin menjanjikan. Akan tetapi, penjualan di pasar global juga perlu ditingkatkan. Di luar negeri pasar durian seolah tanpa batas. Penandatanganan protokol ekspor durian beku antara Indonesia dan China pada 25 Mei 2025 menjadi langkah yang bagus. Bahkan, sudah delapan perusahaan yang lolos verifikasi untuk mengekspor daging durian beku ke China. Sebuah peluang sudah terbuka lebar.
Ayoo bangkit durian Indonesia!! (Bersambung)
Baca juga:
Bisnis
Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!
oleh JANNES EUDES WAWA
Sejak awal Desember 2025, penjualan buah durian semakin marak di Jakarta, Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang dan sekitarnya. Harga pun bervariasi. Paling murah Rp 25.000 per kilogram. Maraknya penjualan buah beraroma khas menyengat ini menandakan musimnya telah tiba.
Setiap kali terjadi pergantian tahun, buah durian pun menyerbu kota. Tidak sedikit pula lapak bermunculan untuk memasarkan buah yang memiliki daging lembut seperti krim, berwarna kuning hingga putih, manis dan bertekstur unik tersebut.
Di setiap lapak, buah berkulit keras dan berduri ini tidak pernah sepi pembali. “Penggemar durian di Jakarta dan sekitarnya banyak banget sehingga gampang menjualnya. Tidak lebih dari dua hari sudah habis terjual,” kata Purwadi, penjual durian di Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (8/1/2026).
Dia mengaku saat ini durian dari Bengkulu, Jambi dan Palembang semakin banyak yang masuk di Jakarta. Sedangkan dari Sumatera Utara tahun ini sedikit berkurang akibat musibah banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.
Durian Jawa Timur dan Jawa Tengah juga mulai masuk Jakarta dan sekitarnya, tetapi jumlahnya masih terbatas. Minggu kedua Januari 2026 bakal makin banyak durian dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi menyerbu Jakarta.
Di antara begitu banyak durian, ada sejumlah jenis yang harganya lumayan mahal. Misalnya, durian montong Rp 100.000-Rp 120.000 per kilogram. Durian bawor Rp 200.000 per kilogram. Durian Masmuar Rp 300.000 per kilogram, durian musang king Rp 400.000 per kilogram. Termahal adalah durian duri hitam (black thorn) dan tembaga sekitar Rp 600.000 per kilogram.

Buah durian kian marak pertanda musimnya telah tiba. Arsiap Jannes
Kelebihan durian duri hitam yakni dagingnya berwarna kuning keemasan menyala dan tebal, cita rasa yang lezat, manis, legit, harum, sedikit pahit dan berbiji banyak. Testur buahnya sangat creamy. Komposisinya pas dan gampang meleleh di mulut.
“Meski mahal, tetapi lebih cepat laku terjual. Di Jakarta dan sekitarnya ada banyak penikmat durian. Mereka tidak peduli harga mahal, yang penting bagus dan sesuai selera,” ungkap Purwadi.
Menunggu Festival
Selain warga, menurut Purwadi, sejumlah pelaku usaha yang memproduksi aneka produk berbahan baku durian, seperti es krim dan roti juga memburu daging durian. Mereka membeli untuk persediaan selama setahun. Itu sebabnya durian selalu habis terjual.
Aroma buah durian yang kuat itu selalu memicu respon yang ekstrim: cinta mati atau pembenci berat. Para pembenci menilai buah tersebut berbau busuk yang memincu untuk muntah sehingga patut dhindari dan dijauhkan. Sebaliknya pencinta durian mengklaim buah ini memiliki kelezatan tiada tara sehingga layak untuk berburu.
Biasanya pada Januari dan Februari sejumlah pihak selalu menggelar festival durian di beberapa daerah. Dalam kegiatan tersebut para petani, pedagang atau pemerintah daerah selalu menampilkan durian terbaik guna mempromosikan kepada publik. Para pemenang pun umumnya langsung mendapatkan pasar baik dalam jangka pendek maupun panjang.
“Saya selalu memburu festival durian untuk mencari jenis terbaik. Ada para petani atau kelompok tani yang selama ini tekun melakukan pencangkokan atau kawin silang dan mendapatkan buah yang bagus. Biasanya mereka promosikan itu dalam festival agar dapat dikenal publik. Saya mengincar durian-durian yang baru muncul itu untuk menjalin kontak dengan petani,” ungkap Udin, pegadang durian asal Bogor.
Puncak Musim
Buah durian memiliki penggemar fanatik yang tidak sedikit. Khusus di Indonesia, Yayasan Durian Nusantara pernah melakukan survei sederhana pada beberapa waktu lalu. Hasilnya, sekitar 80 persen atau 228 juta jiwa masyarakat Indonesia adalah penyuka buah durian. Dari jumlah itu, kurang lebih 36 persen atau 82 juta di antaranya penggemar sejati. Mereka maniak dan berani membeli buah durian meski harganya mahal.
Menariknya lagi konsumsi durian masyarakat Indonesia juga terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) edisi Januari 2024 menyebutkan konsumsi daging buah durian pada tahun 2023 mencapai 2,372 kilogram per kapita per tahun. Jumlah tersebut melonjak cukup tinggi dibanding tahun 2020 rata-rata 1,031 kilogram per kapita per tahun.
Musim durian di Indonesia umumnya berlangsung selama Oktober hingga Maret dengan puncak panen pada Desember dan Januari. Namun puncak panen raya cenderung berbeda waktu untuk setiap wilayah. Pulau Sumatera, misalnya terjadi lebih awal. Menyusul Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.
Keempat pulau ini menjadi sentra produksi durian. Populasi terbanyak di Jawa dan Sumatera. Pemicu adanya perbedaan waktu panen raya antara lain curah hujan, stabilitas sinar matahari dan jenis durian. Namun demikian, pohon durian tumbuh baik di hampir semua wilayah di Indonesia, tetapi dalam volume produksi yang terbatas.
Produksi Durian Indonesia tahun 2024 mencapai 1,96 juta ton. Jumlah ini meningkat cukup tinggi dibanding tahun 2023 sebanyak 1,85 juta ton. Produksi terbanyak di Provinsi Jawa Timur yang menyumbang 26,36 persen dari total produksi nasional. Untuk tahun 2025 volume produksi diperkirakan melebihi 2 juta ton.
Volume produksi pun menunjukkan kenaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) edisi Januari 2023 menyebutkan, produksi buah durian pada tahun 2022 sebanyak 1,71 juta ton. Jumlah ini meningkat 26,64 persen dari tahun 2021 sebanyak 1,35 juta ton.
Produsen Terbanyak
Volume yang besar ini membuat Indonesia menjadi produksi terbanyak di Asia Tenggara, bahkan dunia. Indonesia termasuk kaya akan keanekaragaman genetik, yakni memiliki 21 dari 27 spesies durian di dunia dan hingga tahun 2024 mendaftarkan sekitar 114 varietas unggul baru. Hal ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai “raja durian” kawasan Asia, tidak hanya dari segi kuantitas tetapi juga potensi varietas unggul.
Meski demikian, kebutuhan pasar buah durian di dalam negeri juga meningkat pesat sehingga masih mengimpor lagi. Pada tahun 2024 volume impor sebanyak 459,3 ton atau senilai 3,6 juta dollar AS setara Rp 58,9 miliar. Impor dari Malaysia dan Thailand. Puncak impor terjadi pada Desember 2024 sebanyak 29,8 ton atau 246.700 dollar AS.

Durian duri hitam, salah satu durian termahal di Indonesia. Arsip
“Orang Indonesia umumnya maniak durian. Kadang mereka tak peduli dengan harga sedikit mahal. Kalau sudah kepingin, mereka pasti beli. Apalagi duriannya bagus,” lanjut Iwan yang mengaju berjualan durian tidak pernah rugi, sebab selalu laku terjual. Tetapi kuncinya buah durian harus benar-benar bagus. Rusak sedikit saja pasti takkan terbeli.
Itu sebabnya, para penjual selalu mengingatkan pegadang durian agar selektif dalam memasarkan buah durian. Bahkan, saat mengambil dari pengumpul di daerah harus sudah menyortir dengan ketat. Hal ini wajib dilakukan guna menghindari kerugian.
Pasar China Tak Terbatas
Penggemar buah durian tidak hanya masyarakat Indonesia, tetapi hampir merata di kawasan Asia Tenggara, terutama Malaysia, Singapura dan Thailand. Bahkan, dalam 10 tahun terakhir merambah ke China, Korea, Jepang, Amerika Utara, Eropa dan Australia. Uniknya, tanaman durian sejauh ini hanya cocok bertumbuh dan berkembang dengan baik di wilayah tropis, terutama Asia Tenggara.
Saat ini, mayoritas masyarakat di China tergolong penggemar berat. Buah durian telah menjadi makanan favorit di kalangan kelas menengah di China. Menjadi hadiah untuk orang istimewa pada acara keluarga atau pertunangan. Bahkan menjadi simbol status sosial dari pemberi hadiah. Para pelaku usaha juga melakukan beragam inovasi produk seperti hot pot durian, roti isi durian dan buffet bertema durian.
Di sisi lain, masyarakat China juga memandang daging durian sebagai sumber energi dan vitalitas sehingga menjadi pilihan favorit bagi mereka yang ingin meningkatkan kualitas kesehatan secara umum. Apalagi ada konsep qi atau kekuatan hidup, dimana budaya China sangat menghargai itu. Mereka selalu mempercayai makanan tertentu dapat membantu menyeimbangkan dan memperkuat energi tersebut.
Hal itu ikut memicu permintaan daging durian di China meningkat pesat. Negeri Tirai Bambu itu telah menjadi importir durian terbanyak di dunia. Tahun 2024, China mengimpor buah durian sekitar 1,37 juta ton dengan nilai transaksi mencapai 7,03 miliar dollar AS setara Rp 115,29 triliun (kurs 1 dollar AS = Rp 16.470). Jumlah ini meningkat 9,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Adanya pasar di luar negeri yang terbuka lebar tentu menjadi peluang besar bagi Indonesia. Akan tetapi, sejauh ini jangankan untuk ekspor, untuk pasar domestik pun buah durian yang diproduksi selalu tidak tercukupi. Permintaan selalu melampaui produksi.
Ada Peningkatan
Tahun 2024 misalnya, Indonesia mengekspor buah durian sekitar 591 ton dengan nilai transaksi kurang lebih 1,8 juta dollar AS atau Rp 29,4 miliar. Negara tujuan yakni China,
Malaysia, Singapura, Hongkong dan Jerman. Ekspor ke China berupa buah durian beku dengan veritas unggulan seperti durian bawor dan namlung.
Tahun 2023, total ekspor buah durian dari Indonesia sebanyak 230 ton. Jumlah ini meningkat cukup tinggi dibanding tahun 2020 sebanyak 105 ton dan tahun 2019 hanya 98 ton. Negara tujuan ekspor Malaysia, Singapura, Belanda dan Timur Tengah. Jadi, porsi ekspor masih terbatas, berkisar enam hingga tujuh persen dari total produksi.
Harga buah durian di China sebesar 10 dollar AS setara Rp 154.000 per kilogram. Di pasar Asia Tenggara rata-rata 6 dollar AS atau Rp 92.000 per kilogram. Harga ini masih jauh lebih mahal dua hingga tiga kali lipat dari yang berlaku di Indonesia. (Bersambung)
-
Cyling2 tahun agoSeveral of Our Belongings Were Stolen in Iran
-
Perjalanan3 tahun agoCatatan Royke Lumowa (8): Tiba di Bangkok Setelah Sebulan Kayuh dari Jakarta
-
Perjalanan3 tahun agoRoyke Lumowa Gowes Jakarta-Paris demi Bumi Sehat
-
Cyling1 tahun agoTerpanggil Menyusuri Waduk Jatiluhur
-
Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris3 tahun agoRoyke Lumowa, Doktor Gunung Botak
-
Humaniora3 bulan agoJelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi
-
Perjalanan2 tahun agoCatatan Royke Lumowa: Saya Tuntaskan Bersepeda Jakarta-Paris
-
Perjalanan2 tahun agoCatatan Royke Lumowa (14): Pekan Paling Bahagia di Tibet
