Oleh: JANNES EUDES WAWA
Comoro Kandang di kaki Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menjelang petang, suhu mulai dingin. Bertambah gelap, kedinginan pun meningkat. Kondisi ini menandakan, daerah itu berada pada ketinggian: sekitar 1.970 meter di atas permukaan laut. Itulah titik finis dari balap sepeda jalan raya, Jelajah Cycling Series Surakarta, Sabtu, 9 September 2023.
Balap sepeda ini dimulai dari Museum Colomadu, lokasi bekas pabrik gula pada jaman Hindia Belanda. Lokasi itu masih di Kabupaten Karanganyar juga, tetapi tidak jauh dari Bandara Internasional Adi Soemarmo. Ketinggian Colomadu rata-rata 450 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Perlombaan ini menempuh jarak sejauh 123,5 kilometer. Namun, balap sesungguhnya mulai dari kilometer 33. Event ini mendapat rekomendasi dari Union Cyliste Internationale (UCI), induk organisasi balap sepeda dunia pada 16 Juli 2023 untuk kategori Cycling For All. Artinya, peserta tidak semata-mata para atlet profesional, tetapi juga para penggila sepeda balap.
Lomba ini terbagi dalam 10 kategori, yakni Men Elite (19 tahun ke atas), Junior (17-18 tahun), Men Open (19-29 tahun), Men Youth (15-16 tahun), Master A (30-39 tahun), Master B (40-49 tahun), Master C (50-59 tahun), Master D (60 tahun ke atas), Women Elite (19 tahun) dan Women Open (30 tahun ke atas). Kategori elit khusus atlet. Sedangkan, master untuk para penghobi. Total peserta sebanyak 289 orang berasal dari 3 klub kontinental UCI dan 126 komunitas sepeda.

Antusiasme warga
Panitia melepas peserta semua kategori secara serentak dari Colomadu. Perjalanan melewati Kota Surakarta, kota Sukoharjo, dan Wonogiri. Barisannya cukup panjang dan polisi mengawal dengan sejumlah mobil patwal dan voorijder. Polisi dibantu petugas khusus dari pihak penyelenggara berjaga di setiap pertigaan atau perempatan.
Antusiasme masyarakat setempat cukup tinggi. Tanpa komando, mereka berjubel di kiri dan kanan jalan memberikan dukungan bagi para pembelap. Ada yang melambaikan tangan. Tidak sedikit pula yang mengabadikan momentum tersebut melalui telepon genggam.
Perjalanan masih melewati jalan datar. Kecepatan kayuhan rata 25 kilometer per jam. Satu kilometer menjelang balap sesungguhnya, panitia telah memasang rambu peringatan. Tanda yang sama ditempatkan pada jarak 500 meter sebagai isyarat bahwa lomba sesungguhnya sudah di depan mata.

Di garis real start, yakni kilometer 33, berdiri seorang komiser. Dari garis itu pula para pembalap memulai adu kecepatan (sprint), satu dari dua segmen perlombaan. Dia mengangkat tinggi bendera dan terus-menerus melambaikan, pertanda balapan sesungguhnya telah berlangsung.
Di garis itu pula terpasang teknologi pencatatan waktu milik MotoSheet dari Jerman. Alat itu terkoneksi dengan transfonder yakni sejenis chip yang terpasangkan pada garpu depan sepeda. Data dan informasi dari setiap pembalap otomatis terekam secara utuh pada komputer yang dioperasikan operator.
Dari titik itu pula, para pembalap langsung meningkatkan kecepatan. Tahap awal, mereka bersaing pada lomba adu kecepatan sejauh 5 kilometer yang finis di kilometer 38. Selepas itu, mulai menghadapi jalan menanjak yang panjang, lalu diselingi turunan, kemudian menanjak lagi.
Panitia juga menyiapkan water station mulai dari kilometer 38,8, kemudian di kilometer 58, kilometer 80, kilometer 88, kilometer 105 dan kilometer 112. Bahkan, menambahkan satu titik WS bayangan. Panitia juga menyiagakan tim medis lengkap dengan mobil ambulance dan juga tenaga mekanik di setiap WS.

Beberapa tenaga medis menggunakan motor ikut mengawal pembalap. Di barisan akhir ada tim medis dan ambulance, serta mobil evakuasi yang akan mengangkut peserta cidera atau tidak sanggup lagi melanjutkan balapan.
Live Streaming berbobot
Sementara itu, dari Sakura Hills, tepat pukul 05.45 WIB dimulai siaran langsung atau live streaming melalui akun youtube (jelajah sport), facebook (Road Bike Indonesia Official), dan vidio (jelajah sport). Penyelenggara mengemas siaran itu dengan sangat menarik. Misalnya, mengerahkan sejumlah kameraman profesional untuk mengambil gambar dari lapangan. Mereka menggunakan motor khusus untuk pengambilan gambar sambil berjalan.
Di studio di Sakura Hills juga menampilkan komentator Dadang Haries Poernomo, kepala pelatih tim nasional balap sepeda Indonesia. Dadang mengenal dengan baik para pembalap yang sedang berlomba. Dia juga sangat menguasai dunia balap sepeda sehingga informasi yang disampaikan tepat, benar dan akurat. Keunggulan tersebut menambah bobot live streaming.

Tomi Pratomo, pesepeda tinggal di Jakarta mengaku sangat menikmati live streaming JCS Surakarta 2023. Pengambilan gambar di lapangan bagus. Menonjolkan sudut pandang yang sesuai dengan kebutuhan penonton. Termasuk menyajikan narasi dan komentar yang berisi. “Kalau boleh jujur, menurut saya live streaming JCS Surakarta 2023 paling menarik, keren dan berbobot,” ujar Tomi.
Kejar-kejaran
Dari garis real start, para pembalap mulai kejar-kejaran. Mereka juga meningkatkan kecepatan kayuhan. Apalagi, dalam lima kilometer pertama juga menjadi ajang adu kecepatan. Laju sepeda bertambah menjadi minimal 40 kilometer per jam. Posisi peserta masih dalam jarak yang rapat.
Beberapa kilometer selepas segmen sprint, balapan mulai memasuki jalan tanjakan, yang disusul dengan turunan. Beberapa kali, pembalap menghadapi jalan rolling. Mereka memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kecepatan kayuhan tanpa membuang banyak tenaga. Sewaktu menurun, kecepatan kayuhan dimaksimalkan sehingga menghadapi tanjakan yang di depannya tidak perlu mengayuh yang berlebihan.

Selepas itu, para pembalap menghadapi tanjakan-tanjakan panjang di wilayah Karanganyar. Ada yang mulai mengatur strategi dalam mengayuh sepeda. Maklum, data rute balap yang mereka dapatkan dari panitia menunjukkan bahwa memasuki wilayah Tawangmangu tanjakannya seolah tidak pernah berkesudahan. Semakin ke depan, kemiringannya terus meningkat.
Itu sebabnya semangat berlomba perlu dikelola agar tidak kena dehidrasi. Liong Wun Hoi alias Ahai dari komunitas TQQ Jakarta menyadari tentang pentingnya pengelolaan semangat. Dia berusaha tidak terpancing dengan kecepatan mengayuh dari pembalap lainnya. Dia mencoba untuk menjadi dirinya sendiri.
“Saya berusaha mengayuh kecepatan sepeda sesuai kesenangan. Tidak memaksakan diri untuk melaju cepat, tetapi tidak perlahan. Tujuannya agar terhindar dari dehidrasi. Jika mengalami dehridrasi, maka pasti terkena kram. Itu berarti, saya harus beberapa kali istirahat. Waktu tempuh menjadi lebih lama, dan peluang masuk 10 besar bakal terlewatkan,” ujar Ahai yang menempati urutan sembilan dalam kategori Master D.
Sementara kelompok Men Elite, terjadi persaingan yang ketat di antara dua atlet balap sepeda nasional, yakni Agung Alisabana dan Odie Purnomo Setiawan. Keduanya selalu terdepan, dan saling kejar-kejaran sejak dimulai balapan. Begitu memasuki jalur balap sesungguhnya, persaingan itu semakin ketat.

Saat memasuki lomba tanjakan di kilometer 113, persaingan keduanya masih sengit. Akan tetapi, satu kilometer menjelang finis tanjakan yakni di kilometer 121,5, Agung mulai kelelahan. Dari titik itu, laju Odie tidak terhentikan lagi. Dia menjadi yang tercepat dalam balap sepeda jalan raya, Jejalajah Cycling Series Surakarta 2023. Odie yang berasal dari klub NC Pro Cycling Yogyakarta menyelesaikan dalam waktu 2 jam 59 menit 19 detik.
Posisi kedua diraih Agung Ali Sahbana dari klub GCC Racing Team Surabaya dengan waktu 3 jam 1 menit 1 detik. Kemudian Erlangga Adam Aldarma dari klub BRCC Banyuwangi di peringkat ketiga dengan waktu 3 jam 4 menit 55 detik. Odie juga memenangkan lomba tanjakan untuk kategori Men Elite.
Odie mengaku puas dan bangga dengan pencapaian yang diraih. Alasannya, jalur balap ini tergolong berat, sebab sebagian besar rutenya menanjak. Mendekati finis, tanjakannya semakin berat. Peserta kategori Men Elite adalah para pembalap nasional.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari keseriusannya menyiapkan diri. “Saya menyiapkan diri dengan sangat serius untuk mengikuti Jelajah Cycling Series Surakarta ini. Dua kali saya berlatih melintasi rute ini dari Colomadu hingga Sakura Hills, Comoro Kandang,” ujarnya.
Pertahankan rute
Direktur Perlombaan JCS Surakarta 2023 Daryadi Sadmoko, menjelaskan, ada 14 persen peserta gagal mencapai finis atau did not finish (DNF). Artinya, lomba balapan ini cukup berat dan menantang. Maklum sebagian besar rutenya adalah tanjakan. Sebelum memasuki jalan menanjak terlebih dahulu melewati jalan rolling beberapa kali. Kondisi itu otomatis menguras banyak tenaga pembalap.

Itu sebabnya pembala perlu mempelajari secara detail rute balapan. Ada berapa kali jalan rolling. Apakah rolling panjang atau pendek? Berapa jauh tanjakan? Berapa derajat kemiringannya? Bagaimana kondisi jalan menurun?. Setelah menguasai rute, lalu menyusun strategi yang tepat untuk mendapatkan hasil maksimal dalam lomba balap sepeda jalan raya ini.
Jimmy, pembalap asal Palembang menyebut rute balap sepeda dalam JCS Surakarta 2023 tergolong edan. Mula-mula jalan datar. Setelah itu real start bersamaan dengan start sprint. Para pembalap begitu bersemangat. Mereka kejar-kejaran memacu kecepatan.
Selesai sprint mulai menghadapi tanjakan, kemudian rolling berkali-kali. Emosi pembalap pun terpancing. Apalagi ada turunan yang menarik. Adrenalin langsung ditingkatkan, ingin berada terdepan. Lupa bahwa di depan masih akan melewati tanjakan-tanjakan panjang. Sementara tenaga sudah banyak yang terkuras. Total ketinggian rute balapan hingga di garis finis di Sakura Hills, Comoro Kandang mencapai 2.700 meter.
Setelah itu menghadapi tanjakan-tanjakan panjang. Tidak mengherankan, banyak pembalap, terutama kelompok master mengalami kram. “Saya terpancing dengan jalur rooling sehingga tenaga banyak forsir di awal perjalanan. Akibatnya, terkena kram saat di tanjakan panjang. Ini yang bikin saya gagal masuk 10 besar,” jelas Jimmy yang sebelumnya sering menjuarai balap sepeda kategori Master B.

Pembalap lainnya juga menilai penyelenggaraan JCS Surakarta sangat bagus. Manajemennya rapi. Pilihan rutenya keren, menarik dan menantang. Meski jalurnya dominasi menanjak dan berat, tetapi hal ini justru menjadi ujian bagi para penggila sepeda balap dan atlet profesional.
“Untuk menjadi juara dalam event JCS tidak mudah. Membutuhkan persiapan yang matang. Karena itu, saya mohon pihak Jelajah Sport mempertahankan rute ini untuk event JCS Surakarta pada tahun 2024 dan selanjutnya,” kata Sadi Hariono, pembalap kategori Master D asal Malang, Jawa Timur.

