Humaniora
Lindungi Burung, Berkacalah ke Eropa
Oleh: STEFANUS WOLO ITU
Rohaniwan Katolik berkarya di Swiss
Pada 16 Maret 2023 lalu saat berada di Eiken, Swiss, tiba-tiba saya kembali mengenang masa-masa kecil di tahun 1970 an di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ketika itu, kami sering nginap di pondok sederhana di tengah kebun. Pondok kami beratap dan berdinding alang-alang. Tanpa pintu dan jendela. Akan tetapi, kami begitu nyaman tidur di sana baik siang maupun malam. Kami menikmati alam yang asri. Udara yang segar dan angin sejuk.
Satu hal yang membawa sukacita tersendiri bagi saya adalah melihat burung-burung beterbangan dan mendengar kicauan mereka. Saat musim tanam saya menyaksikan tekukur. Tekukur berdatangan mencotok padi atau jagung yang baru ditanam atau bertunas.

Burung yang bebas terbang. Foto: dokumentasi Stefanus Wolo
Memasuki musim jagung muda saya menyaksikan burung-burung gagak dan kakatua. Sewaktu bulir padi mulai berisi burung-burung pipit berdatangan. Saat bepergian ke sungai saya sering bertemu ayam hutan dan itik air. Begitu musim ayam menetas saya menyaksikan elang dan raja wali. Mereka mengintai dan memangsa anak-anak ayam.
Memasuki dasawarsa 1980 an burung-burung mulai berkurang. Bahkan ada burung tertentu yang sudah punah. Mengapa? Ternyata pemicunya adalah kerusakan alam dan lingkungan. Hutan dan alam yang menjadi habitat burung-burung itu semakin tidak nyaman. Tentu saja yang menjadi dalang utama adalah manusia. Perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan maklum hidup lainnya.
Belajar dari Eropa
Ketika berada di Eropa saya menyaksikan pemandangan yang asyik. Kemanapun kita berjalan pasti mendengar kicauan dan menyaksikan burung-burung beterbangan penuh sukacita. Bebek dan itik berenang ria di danau dan sungai.
Burung-burung itu tampak jinak dan tidak takut dengan manusia. Malah, manusia setempat sangat bersahabat dengan mereka. Mereka tak pernah cemas dan takut terhadap kemungkinan adanya “tembakan ketapel atau senapan angin”. Mereka menikmati kebebasan sejati. Bebas dari ancaman keserakahan manusia dan bebas untuk beterbangan kesana kemari.
Orang Eropa melindungi burung-burung. Burung-burung adalah sahabat dan sesama mahluk ciptaan. Setiap burung, setiap pohon, setiap bunga mengingatkan orang-orang Eropa betapa hebatnya berkat dan hak istimewa burung-burung itu untuk hidup. Saya pun teringat kata-kata penyair Inggris William Blake: “Burung punya sangkar, laba-laba punya jaring dan manusia punya persahabatan”.

Burung sedang bertengger di atas batu. Foto: dokumentasi stefanus wolo
Saya kira kita perlu menjaga dan melindungi burung-burung di kampung kita. Bagi saya burung-burung mengajarkan pelajaran hidup yang luar biasa. Yang harus kita lakukan adalah mendengar cuitan mereka.
Kita manusia harus bisa seperti burung dalam hal kebebasannya. Akan tetapi jangan seperti burung dalam sangkar, yang merasa hebat di balik sangkar emasnya. Kita perlu menciptakan lagi lingkungan yang nyaman bagi burung-burung. Burung adalah indikator lingkungan. Jika mereka dalam masalah, kita tahu bahwa kita akan segera mendapat masalah. Lihatlah burung-burung di Swiss ini.
Kirchgasse 4, 5074 Eiken AG
Humaniora
Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras
Oleh JANNES EUDES WAWA
Uang Rp 10.000 bagi kebanyakan orang menganggap sebagai recehan. Bernilai rendah. Akan tetapi, bagi ibu Maria Goreti Tea (47), ibunda Yohanes Bastian Roja atau YBS (10) nilai sebanyak itu adalah angka sulit teraih. Saking sulitnya, permintaan anaknya untuk membelikan buku dan pena, sang ibunda sulit menyanggupi. Sang anak pun memilih jalan pintas: membunuh diri. Tragis!
Bagi sang ibunda, kisah ini sangat memukul dirinya. Mengiris jantungnya, bahkan menghancurkan seluruh kehidupannya. Dia tidak menyangka, ketidaksanggupannya dalam memenuhi permintaan uang Rp 10.000 itu berujung fatal.
Ibundanya tidak sanggup memenuhi permintaan itu, sebab ketiadaan biaya. Sang ibu seorang janda dengan lima anak yang masih kecil. Sehari-hari bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Ayah mereka berpulang saat YBS masih dalam kandungan. YBS adalah siswa kelas IV pada sebuah Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Anak bungsunya YBS terpaksa memilih pulang ke pangkuan Ilahi lebih awal melalui jalan pintas setelah gagal mendapatkan buku dan pena untuk menata dan menulis masa depannya. Dia pergi selamanya dengan membawa harapannya yang sangat sederhana yang hampa ke dalam liang lahat hanya karena tangan sang ibunda yang kosong.

Makam YBR. Arsip
Anak yang cerdas dan periang itu seolah sudah putus asa. Dia pun ditemukan tewas pada Kamis (29/1/2026), bunuh diri di pondok neneknya yang berusia 80 tahun. YBS menulis sepucuk surat untuk ibunya sebagai berikut:
Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama
(Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee
(Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Fenomana Gunung Es
Sepucuk surat untuk sang ibunda itu sesungguhnya juga untuk seluruh pejabat dan aparatur pemerintah serta pemuka agama. Itulah ungkapan paling jujur. Untuk apa dia harus melanjutkan hidupnya kalau penderitaan yang mereka alami tidak pernah mendapat perhatian. Biarkanlah dia pergi, sebab dengan kepergiannya itu akan membuka mata banyak orang terhadap nasib keluarganya dan orang-orang miskin lainnya.
Kasus ini merupakan fenomana gunung es dari begitu banyak masalah lainnya yang selama ini menumpuk dan menimbun dalam diri warga. Mereka tidak sanggup lagi memikul pada pundak yang rapuh, sebab semakin tidak berdaya. Tidak memiliki lagi energi untuk bangkit.
Tragedi ini bukan hanya tentang satu keluarga di Kabupaten Ngada, NTT, melainkan sebuah gambaran tentang kemiskinan yang masih mendera banyak masyarakat di desa dan kota. Tidak sedikit yang hidupnya jauh di bawah garis kemiskinan dengan anggota keluarga yang banyak pula.

Maria Goreti Tea, ibunda YBR bersama keluarganya. Arsip
Aksi YBS menampar telak ke wajah pemerintah. Di saat, mereka membanggakan selalu mengucurkan triliuan rupiah setiap tahun ke desa, ternyata masih ada keluarga yang sama sekali tidak menikmatinya. Masih ada anak-anak yang harus mempertaruhkan nyawa demi memperoleh alat tulis guna melatih ketrampilan dan menimbah pengetahuan untuk melukis masa depan yang lebih baik.
Kemiskinan sesungguhnya bukan sekedar ketiadaan pendapatan, melainkan juga perampasan kemampuan dasar manusia untuk hidup yang bermartabat. Apabila anak-anak kehilangan kemampuan untuk belajar karena miskin, maka yang sedang dirampas bukan hanya masa kini mereka, tetapi juga masa depan anak yang bersangkutan, termasuk masa depan bangsa. Kemiskinan tidak boleh menjadi alasan hilangnya nyawa warga, terlebih anak
Punya Mimpi
Kasus ini menggugat nurani semua agar lebih tulus dalam berkarya. Berhentilah melihat kemiskinan hanya pada angka statistik. Penurunan angka bukan berarti masalah kemiskinan sudah selesai. Angka-angka itu bukan makluk hidup yang menuntut kejujuran dan empati.
Perlu diingat, anak-anak miskin bukan sekedar menjadi angka statistik untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan. Mereka adalah manusia dengan mimpi yang pernuh warna. Jika persoalan mereka terabaikan, maka berpeluang memunculkan masalah baru.
Itu sebabnya, kemiskinan perlu tertangani secara menyeluruh, detail, segera dan tuntas. Kalau penanganan yang setengah hati membuat kemiskinan berpeluang menjadi predator yang mampu merenggut nyawa manusia. Korban terdepan adalah manusia kecil yang jujur dan tulus.
Humaniora
Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi
Oleh JANNES EUDES WAWA
Sekitar pukul 19.15, kami kembali berkumpul di Imah Gede untuk makan malam. Hari itu ada tiga kelompok tamu mengunjungi Kesepuhan Gelaralam, yakni tim Jejak Petualang Trans7, tim mahasiswa, dan rombongan Jelajah Citpagelar. Pengaturan makan dalam tiga bergelombang. Kami mendapatkan kesempatan terakhir.
Menunya istimewa. Ada nasi merah dan nasi putih. Kedua jenis nasi berasal dari padi hasil panen tahun 2017. Untuk menjadi beras, warga menumbuk padi menggunakan alu dan lesung pada beberapa hari sebelumnya. Proses menanak nasi menggunakan kayu. Demikian pula dengan memasak sayur dan menggoreng ayam serta menu lain yang tersajikan malam itu.

Makan malam di Imah Gede Sabtu (6/12/2025) malam. Arsip Jelajah Bike
Saya menyempatkan diri ke dapur yang terletak di ruang paling belakang dari Imah Gede. Ada sekitar 10 perempuan bertugas menyiapkan makan malam bagi para tamu. Tersedia enam tungku. Saat itu lima tungku di antaranya terpakai memasak. Semuanya menggunakan kayu. Sekitar satu meter di atas tungku tersedia tempat penyimpanan kayu bakar.
Hanya Sekali dalam Setahun
Sehabis makan, kami bertatap muka dengan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi bersama istrinya Ditha Ana Talia alias Apicita Tegal Lumbu. Dalam dialog itu, Abah Ugi banyak bercerita tentang Kesepuhan Gelaralam. Dia menyebut komunitasnya adalah kaum agraris yang cenderung berpindah tempat tinggal. Dalam usaha tani menggunakan dua sistem yakni bertani lahan kering yakni huma. Ada pula bertani lahan basah atau sawah. Masyarakat Kesepuhan Gelaralam memiliki 168 veritas padi plasma warisan leluhur.
Dalam mengolah lahan, mereka berpatokan pada dua bintang yakni kerti atau kartika sebagai pertanda memulai penyiapan lahan. Setelah itu muncul bintang kidang atau waluku atau orion menandakan mulai penanaman padi. Masa ini berakhir setelah bintang kidang bergeser ke arah timur laut, kemudian memasuki fase memelihara hingga berbuah dan menguning. Sebelum bintang kidang menghilang padi harus sudah selesai panen, sebab kemungkinan tidak lama lagi muncul serangga walang sangit.
Selanjutnya ibu bumi beristirahat total guna memulihkan tenaga setelah melahirkan padi baru. Masa istirahat juga sebagai persiapan untuk proses produksi pada tahun berikutnya. Sejak penanaman hingga panen membutuhkan waktu berkisar enam hingga tujuh bulan.
Penanaman padi, termasuk sawah hanya sekali dalam setahun tanpa menggunakan pupuk kimia. “Sejak dahulu kala leluhur kami melarang menggunakan pupuk kimia dalam usaha tani. Saat Orde Baru sedikit menyimpang karena pemerintah mewajibkan penggunaan pupuk kimia sehingga kami terpaksa memakainya tetapi hanya saat awal. Setelah akar padi mulai menguat, kami menghentikan penggunaan pupuk kimia,” ujar Abah Ugi.

Berfoto bersama Abah Ugi dan istrinya usai dialog pada Sabtu (6/12/2025) malam. Arsip Jelajah Bike
Beberapa puluh tahun terakhir, masyarakat Kesepuhan Gelaralam mengotimalkan penggunaan pupuk organik, yakni mengolah kotoran hewan peliharaan seperti kambing dan ayam. Hal ini membuat kualitas tanah menjadi lebih baik dan memberikan hasil optimal. Volume produksi mencapai minimal tujuh ton per hektar.
Dalam menanam padi warisan leluhur, petani menyesuaikan kecocokan tanah. Padi di kesepuhan itu umumnya menghasilkan beras berwarna putih, merah dan hitam. Ada pula beras ketan. “Kami menanam dan memanen hanya sekali dalam setahun. Ini perintah leluhur untuk menghormati ibu bumi,” kata Abah Ugi.
Selalu Surplus
Sejauh ini hasil produksi selalu memberikan surplus besar; mencapai ribuan ton. Surplus selalu tersimpan dalam lumbung. Padi bagi masyarakat Sunda Wiwitan bukan sekedar makanan, tetapi juga nyawa. Menjual padi sama saja dengan memperdagangkan kehidupan sehingga masyarakat dalam Kesepuhan Gelaralam pantang bertransaksi padi atau beras.
Padi bukan sekedar hasil pertanian, melainkan warisan budaya, Leluhur mewariskan begitu banyak verietas unggul yang telah berusia ratusan tahun. Artinya, lumbung padi telah menjadi simbol ketahanan pangan. Penyimpanan padi yang ketat dan kontinyu memastikan masyarakat kesepuhan ini dapat bertahap hidup dan eksis dalam kondisi krisis. Itu sebabnya apabila suatu saat bumi takkan bisa ditanam selama 10 tahun atau lebih, masyarakat kesepuhan ini takkan kelaparan.

Tatap muka dengan Ketua Adat Kesepuhan Gelaralam Abah Ugi Sugriana Rakasiwi bersama istrinya Ditha Ana Talia alias Apicita Tegal Lumbu, Sabtu (6/12/2025) malam.
Abah Ugi juga menceritakan hubungan antara Kesepuhan Gelaralam dengan warga Sunda Wiwitan di Cigugur (Kuningan), Bogor, Badui dan Lebak. “Kami memiliki tradisi dan kepercayaan yang sama. Saat tertentu selalu saling mengunjungi. Sewaktu upacara seren taun di Gelaralam, mereka selalu berpartisipasi,” ungkapnya.
Dia juga tidak menginginkan Kesepuhan Gelaralam menjadi desa wisata, dan tetap sebagai kampung adat. “Leluhur memerintahkan kami untuk menjaga tradisi dan norma yang berlaku dalam kesepuhan ini. Itu yang wajib kami lestarikan. Namun kami membuka diri bagi siapa saja yang ingin mengunjungi kesepuhan ini,” tegas Abah Ugi.
Listrik Tenaga Air
Minggu (7/12/2025) pukul 06.00, semua peserta sudah berkumpul di alun-alun Imah Gede. Pagi itu, kami berjalan kaki mengitari perkampungan adat Gelaralam sambil menyapa warga sekaligus melihat lumbung-lumbung pangan serta lahan kebun dan sawah. Ki Sodong menemani kami sekaligus bertindak sebagai tour guide.

Mengitari Kesepuhan Gelaralam Minggu (7/12/2025) pagi. Arsip Jelajah Bike
Sepanjang perjalanan tampak air mengalir pada selokan-selokan di tengah dan tepi kampung. Selokan itu ada yang sudah permanen, tetapi ada pula yang masih berupa tanah. Air umumnya mengalir ke petak sawah dan tidak lama lagi bakal terjadi penanaman padi. Bibit padi sawah yang disemaikan sudah tumbuh.
Sementara sebagian lahan kering tampak padi mulai tumbuh dengan ketinggian sekitar lima hingga tujuh sentimeter. Ada pula lahan yang baru selesai pembersihan.
Hampir setiap rumah memelihara kambing di dalam kandang. Kandang-kandang itu selalu berada pada ketinggian sekitar satu meter di atas tanah. Pada tanah persis di bawah kandang menjadi tempat penampungan kotoran hewan yang nantinya menjadi pupuk pada lahan pertanian.

Air melimpah dalam wilayah Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike
Kesepuhan juga mengoperasikan empat pembangkit Listrik tenaga air (PLTMh) sejak tahun 1997. Mula-mula terbangun turbin Cicemet berkapasitas 50 kVa bantuan dari Badan Kerjasama Internasional Jepang atau Japan International Corporation Agency (JICA). Setelah itu turbin Situ Murni dengan kapasitas 50 kVa bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2006-2012. Lalu PLTMh Cibadak dan Ciptagelar pada 2013-2014.
Semua turbin ini memanfaatkan aliran Sungai Cisolok dan mampu memasok energi listrik mencapai 60.000 watt bagi warga. Biayanya lebih murah dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Mereka juga listik tenaga surya untuk memancarkan wifi bagi warga desa.
Lumbung Pangan
Sementara bangunan lumbung juga tersebar di beberapa titik. Terbanyak berada tak jauh dari Imah Gede. Ada puluhan unit yang terkosentrasi di kawasan itu. Hanya beberapa unit lumbung yang berada dekat rumah pemiliknya. Bentuk dan ukurannya sama. “Setiap lumbung mampu menampung minimal 3.000 pocong atau sekitar 3 ton padi,” jelas Sodong.
Lumbung pangan berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu tanpa jendela dengan satu pintu kecil serta beratap daun kirai atau ijuk. Pintu itu berada di dekat atap, sekitar dua meter dari permukaan tanah. Akses menuju ke pintu hanya melalui tangga kayu. Tujuannya agar lumbung itu terlindungi dari hama, serangga dan pencurian.

Deretan lumbung padi di punggung perbukitan Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike
Lumbung terdiri beberapa jenis, yakni warga adalah milik pribadi atau keluarga. Lumbung komunal untuk seluruh warga dan lumbung Si Jimat sebagai bangunan sakral simbol ketersediaan pangan kesepuhan.
Warga membangun leuit atau lumbung secara gotong royong. Hal ini memperat persaudaraan dan solidaritas warga. Bahkan, menegaskan adanya filosofi hidup masyarakat Sunda yang sangat menjunjung tinggi keharmonisan dengan alam dan leluhur. Lebih dari itu menunjukkan pandangan visioner leluhur Sunda dalam menjaga stabilitas pangan dan keberlanjutan hidup masyarakatnya secara mandiri.
Setiap keluarga mengalokasikan hasil panen meliputi: 40 persen untuk kebutuhan keluarga setiap hari, 50 persen disimpan dalam lumbung atau leuit. Sisanya 10 persen untuk pengurus kampung adat. Setiap keluarga memiliki minimal satu unit lumbung. Padi disimpan dalam ikatan atau pocong.
Mereka meyakini penyimpanan padi takkan kadaluarsa. Padi dalam lumbung untuk kehidupan sehingga pantang menjadi komoditas atau diperjualbelikan. Penggunaannya tidak hanya untuk manusia, melainkan juga hewan seperti ayam, tikus, cicak, kecoa, semut.
Seren Taun Simbol Rasa Syukur
Warga kesepuhan juga dilarang membunuh binatang di sekitar lingkungan tempat tinggal, sebab merupakan satu keluarga yang hidup bersama. Begitu pula dengan tikus yang ada dalam lumbung. Tikus pun berhak makan padi dalam lumbung, sebab mereka adalah penunggu. Tikus sebagai hama kalau memakan sebagian besar padi yang ada. “Kalau hal itu terjadi biasanya kami mengadu kepada penguasa tikus. Sebab setiap kehidupan selalu ada yang menjadi pimpinan,” ungkap Ki Sodong, pemuka adat Kesepuhan Gelaralam.
Tradisi lain yang menarik dari Kesepuhan Gelaralam adalah seren taun, yakni upacara syukuran atas panen padi sekaligus melakukan ritual penyimanan padi ke dalam lumbung. Masyarakat adat setempat mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta dan leluhur atas berkah pertanian yang telah diperoleh. Momentum itu juga menjadi ajang silaturahmi sesama komunitas untuk memperat persaudaraan.
Ribuan orang menghadiri acara ini. Mereka umumnya warga dari berbagai desa-desa dalam komunitas Sunda Wiwitan yang datang dengan membawa hasil panen. Selain itu ada pula warga dari berbagai daerah yang ingin menonton upacara yang penuh sakral ini. Acara ini biasanya terjadi pada Agustus hingga September. Tanggal kegiatan baru ditentukan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi setelah selesai panen.

Berbincang di sela-sela mengitari Kesepuhan Gelaralam, Minggu (7/12/2025) pagi. Arsip Jelajah Bike
Rangkaian ritual saren taun dimulai dengan arak-arakan warga komunitas sembari membawa hasil panen menuju lumbung padi, berlanjut doa bersama dan persembahan untuk memohon kesuburan di tahun depan. Ada pula dimeriahkan dengan pertujukan seni seperti permainan angklung, tarian Sunda (seperti Tari Jamparing Apsari, Tari Puragabaya), dan pertunjukan budaya lainnya. Ada pula makan bersama dengan memotong kerbau.
“Seren taun tahun 2026, kami belum tahu waktunya, tetapi biasanya pada Agustus atau September. Waktu persisnya baru diputuskan Abah Ugi setelah selesai panen. Mungkin pada bulan Juni atau Juli 2026 sudah bisa tahu tanggal kegiatan Seren taun 2026. Jangan lupa datang ya,” ujar Ki Sodong.
Belanja suvenir
Sekitar pukul 07.15, kami tiba kembali ke Imah Gede. Beberapa peserta langsung kembali ke penginapan untuk mandi dan mengemas barang-barangnya. Beberapa orang lainnya melakukan sarapan pagi di rumah induk tersebut. Menu pagi itu selain nasi yang enak hasil panen dari lahan kesepuhan, juga ada sayur campuran buah pepayah muda dan daun singkong, telur rebus, ayam kampung goreng, serta daging kambing panggang. Tersedia pula kopi dan teh.
Pagi itu di pendopo Imah Gede, dua warga menjajalkan dagangan hasil buah karya masyarakat kesepuhan, seperti kain penutup kepala pria dan selendang untuk perempuan bermotif lokal, tas anyaman, gelang anyaman dan gula aren (cair dan batangan). Cukup banyak barang yang laku terjual.

Wajah-wajah bahagia saat berada di Kesepuhan Gelaralam, Minggu (7/12/2025). Arsip Jelajah BIke
Kurang lebih pukul 09.00 WIB, kami berpamitan dengan warga Kesepuhan Gelaralam untuk kembali ke Pelabuhan Ratu. Semua menampilkan raut wajah Bahagia, sebab akhirnya menginjakkan kaki di kampung adat yang melegenda ini dan menginap semalam. Apalagi dapat bertemu muka dengan ketua adatnya Abah Ugi Sugriana Rakasiwi dan istrinya Ditha Ana Talia alias Apicita Tegal Lumbu, sebuah momentum yang langka.
Perlu Pengaspalan Jalan
Perjalanan pulang ini melewati rute yang berbeda, yakni melalui kawasan Ciptagelar dan Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Jalan pada rute ini pun masih makadam. Malah kondisinya jauh lebih berat dibanding pada rute melalui wilayah Ciptarasa. Di sejumlah titik, jalan makadam itu rusak dan licin. Beruntung para sopir yang ada sangat lihai mengendarai mobil-mobil peserta sehingga terhindari dari musibah.
“Jujur saya prihatin dengan kondisi jalan menuju Kesepuhan Gelaralam. Dalam jarak lebih dari 40 kilometer kondisinya makadam. Saya membayangkan kalau ada warga yang mendadak sakit atau ada ibu yang mau melahirkan yang perlu dibawah ke Pelabuhan Ratu untuk berobat. Penderitaan mereka pasti luar biasa,” ujar Luddy Suteja, warga Bandung.

Jalan yang rusak parah sehingga hanya mobil dua gardan yang dapat melewatinya. Arsip Jelajah Bike
Dia mengharapkan Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Provinsi Jawa Barat untuk melakukan pengaspalan jalan yang ada. Pemerintah perlu duduk bersama dengan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi membicarakan persoalan ini dan mencarikan solusi terbaik.
Tepat pukul 13.00, semua peserta tiba kembali di Muse Coffee di Pelabuhan Ratu. Kami makan siang di tempat ini sekaligus mengakhiri petualangan selama dua hari ke Desa Adat Kesepuhan Gelaralam. Sebuah pengalaman yang menarik dan amat berkesan. Di sana ada contoh nyata hidup selaras alam: mengembangkan ketahanan pangan, memanfaatkan teknologi sederhana untuk menciptakan kemandirian pangan dan energi berkelanjutan. (habis)
Jangan lewatkan!
Humaniora
Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam
Oleh JANNES EUDES WAWA
Sabtu (6/12/2025) sekitar pukul 13.30, kami bergerak ke Gelaralam menggunakan 5 unit mobil double cabin, serta satu unit mobil Suzuki Jimmy dan stau unit Totoya Land Cruser milik om Joko Kus Sulistyo. Semua mobil memiliki dua gardan. Kami harus menggunakan mobil tipe sepertil ini karena akan melewati jalan makadam dan menanjak sejauh lebih dari 40 kilometer hingga mencapai kesepuhan tersebut.
Setelah keluar dari jalan utama di Pelabuan Ratu, kami langsung menghadapi jalan yang sempit dengan lebar hanya sekitar dua meter. Tiga kilometer awal masih melewati jalan beraspal. Selepas itu mulai menanjak dan berbatu. Jalan hanya berupa lapisan batu pecah dan batu bulat kecil yang dipadatkan.

Suka cita saat mengayuh sepeda dari Sukabumi ke Pelabuhan Ratu, Sabtu (6/12/2025). Arsip Jelajah Bike
Tanjakan terus bertambah. Beberapa kali kami melewati jalan menurun, tetapi tidak panjang, sesudahnya menanjak lagi. Mobil kami sempat berpapasan dengan kendaraan lain. Para sopir sepertinya saling memahami sehingga segera mencarikan solusi agar perjalanan tetap lancar.
Kami melewati kampung Ciptarasa yang pada tahun 1984-2000 menjadi pusat Kesepuhan Ciptagelar. Kampung ini berada pada ketinggian 765 meter di atas permukaan laut (mdpl) terletak di punggung Gunung Sangiang dan Gunung Bodas, dekat Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak.
Di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak tampak perkebunan durian dan cengkih yang dikelola kelompok perorangan dan swasta. Ada pula persawahan dan kebun. Pohon-pohon tampak rindang, besar dan menjulang. Di tengah belantara tampak pula pohon nira, kirai dan bambu. Warga setempat mengolah air nira menjadi gula merah dan memanfaatkan daun kirai untuk atap rumah.

Jalan rusak parah menuju Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike
Permukiman penduduk hanya berada di beberapa titik, seperti di wilayah Ciptarasa dan Sirnaresmi. Rumah-rumah warga umumnya menggunakan bahan baku kayu dan bambu serta beratap ijuk atau daun kirai. Hanya sebagian kecil rumah yang permanen.
Hujan di Belantara Hutan
Di tengah hutan belantara itu sempat turun hujan yang cukup lebat. Penumpang mobil double cabin yang berada di bagian belakang langsung menutup tas-tas pakaian dengan terpal. Mereka juga mengenakan jaket hujan. Suhu dingin menusuk tubuh sepanjang perjalanan.
Hujan lebat itu membuat kami khawatir. Batu-batu perkerasan yang ada kemungkinan licin sehingga menghambat laju roda kendaraan. Namun, semua mobil memiliki dua gardan sehingga petualangan kami tidak mengalami hambatan saat hujan deras.

Tiba di Kesepuhan Gelaralam, Sabtu (6/12/2025) . Arsip Jelajah Bike
Menjelang pukul 17.00, kami pun tiba di Kesepuhan Gelar Alam yang berada pada ketinggian 1.200 mdpl. Sore itu kabut mulai menyelimuti sebagian wilayah. Suhu udara mulai dingin. Gelaralam dalam bahasa setempat berarti membentang alam atau terbuka luas terhadap alam. Hal ini mencerminkan filosofi yang menjunjung tinggi keharmonisan dengan alam dalam kehidupan.
Setelah turun dari mobil masing-masing dan melakukan perenggangan tubuh, kami menuju ke Imah Gede atau rumah induk atau rumah utama untuk melapor diri. Rumah tersebut merupakan pusat spiritual dan adat, tempat tinggal pemimpin tertinggi atau ketua adat yakni Abah Ugi.
Imah Gede lumayan besar dan luas. Terbuat dari kayu dan bambu, dinding anyaman bambu serta beratap ijuk. Lantai rumah dibikin sekitar satu meter di atas permukaan tanah, lalu dilapisi bambu yang telah dibilah. Loteng menggunakan anyaman bambu. Material yang semuanya alami membuat suasananya terasa adem.

Cincau bersama peserta lainnya menikmati kopi setelah tiba di Imah Gede, Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike
Pada ruang utama rumah ini terpajang cukup banyak foto aktivitas warga kesepuhan dan para ketua adat selama beberapa generasi sebelumnya. Mereka juga memajangkan sejumlah peralatan yang menjadi simbol-simbol adat. Di tempat itu pula tersedia air hangat, kopi, teh dan gula sebagai sajian selamat datang. Para tamu membuat sendiri minuman sesuai seleranya.
Inap di Rumah Warga
Panitia pun melakukan koordinasi dengan pimpinan kesepuhan untuk pengaturan penginapan peserta. Maklum, di sana tidak tersedia rumah khusus untuk pengunjung. Para tamu biasanya ditempatkan di rumah-rumah warga. Di rumah itu tersedia kamar khusus, dan tamu akan memberikan sejumlah uang sebagai imbalan. Tarifnya tidak besar, sekitar Rp 300.000 per rumah. Sedangkan untuk makan dipusatkan di Imah Gede atau rumah induk.
Menjelang petang, para peserta langsung menuju rumah warga untuk istirahat dan menginap. Ada delapan rumah menjadi penginapan kami. Para pemilik rumah menyediakan tikar, kasur, bantal dan selimut. Air untuk mandi dan kakus pun berlimpah. Warga menerima kami dengan ramah dan suka cita. Komunikasi terjalin dengan sangat baik.
Petang hari, saya bersama om Octovianus Noya, om Joko Kus Sulistyo, dan Yatno Aan bertemu dengan Ketua Adat Kesepuhan Gelaralam Abah Ugi Sugriana Rakasiwi di ruangnya di Imah Gede. Kami bersilaturahim dan menyampaikan niat tim jelajah mengunjungi desa adat tersebut. Abah Ugi yang merupakan generasi ke-11 pemegang tambuk kesepuhan itu menyambut kami dengan senang hati. Dia menyatakan minatnya untuk berdialog dengan semua peserta pada malam itu setelah selesai makan di pendopo.

Bertemu Ketua Adat Kesepuhan Gelaralam Abah Sugriana Rakasiwi (tengah), Sabtu petang. Arsip Jelajah Bike
Kesepuhan Gelaralam termasuk bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul. Ini adalah komunitas masyarakat adat Sunda yang mendiami wilayah Gunung Halimun. Mereka hidup selaras dengan alam dan tradisi leluhur, mengedepankan kearifan lokal dalam mengelola alam, pertanian dan kehidupan sosial. Mereka dipimpin tetua adat dengan aturan yang mengacu pada tradisi Sunda Wiwitan. Komunitas ini tersebar di sekitar 569 perkampungan yang berada di Kabupaten Lebak, Bogor dan Sukabumi.
Tradisi Berpindah Tempat
Dalam bekerja, ketua adat dibantu para rorokan atau kelompok adat yang bertugas menjaga dan mengurusi berbagai aspek kehidupan sosial, budaya dan sumber daya alam. Misalnya, Rorokan Pemakayaan bertugas menjaga kelestarian sumber air dan pertanian. Ada pula rorokan yang memimpin ritual adat seperti selamatan padi. Lalu rorokan yang khusus mengurus Imah Gede, termasuk makanan untuk Abah Ugi dan keluarganya.
Masyarakat adat Gelaralam juga memiliki tradisi ngalalakon atau berpindah tempat pusat pemerintahan. Bahkan, sejak berdiri tahun 1368, kesepuhan ini telah beberapa kali melakukan perpindahan lokasi permukiman. Perpindahan itu tidak semata-mata sebagai upaya kesepuhan untuk kembali ke titik nadir peradaban, namun juga perwujudan permukiman yang lebih baik. Proses ini selalu bermula dengan adanya wangsit (perintah gaib) dari leluhur melalui mimpi yang dialami ketua adat.

Berfoto bersama di depan rumah induk atau Imah Gede Kesepuhan Gelaralam, Sabtu (6/12/2025) sore. Arsip Jelajah Bike
Saat wabah virus Covid-19 melanda dunia, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi pun mendapatkan wangsit (perintah gaib) dari leluhur agar segera bersiap untuk pindah dari lokasi saat itu di Ciptagelar. Serangan wabah itu menjadi pertanda alam bagi kesepuhan untuk melakukan tradisi ngalalakon.
Leluhur juga memberikan petunjuk lokasinya yakni dua kilometer arah tenggara. Maka, usai upacara Seren Taun pada September 2021, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi memerintahkan pembangunan Imah Gede di Gelaralam pada awal Desember 2021 hingga Februari 2022. Hal ini sebagai persiapan. Kapan waktunya akan pindah masih menunggu wangsit leluhur.
Titah Leluhur
Pada 1 Maret 2022 malam, ribuan warga: tua-muda, laki-laki dan perempuan telah berkumpul di alun-alun Kesepuhan Ciptagelar. Mereka mengenakan pakaian adat berwarna hitam dan berikat kepala bagi pria dan selendang khusus Perempuan menunggu titah dari Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, Kepala Adat Kesepuhan Ciptagelar untuk bergerak.

Deretan lumbung pangan di Kesepuhan Gelaralam. Arsip Jelajah Bike
Tepat pukul 22.00 WIB titah pun turun. Saat itulah mereka bergerak serentak dari alun-alun menuju ke arah tenggara. Hujan lebat seakan merestui dan memberikan berkah kegiatan ngalalakon tersebut. Sambil memegang obor, senter dan lampu gawai, warga tetap bergerak maju menapaki jalan tanah dalam arak-arakan yang tertib sejauh lebih dari dua kilometer.
Jalan tanah yang naik dan turun serta telah berlumpur akibat hujan deras tidak menjadi penghalang bagi ribuan warga untuk terus berjalan kaki. Mereka membawa barang-barang yang merupakan komponen penting bagi Kesepuhan Ciptagelar menuju Imah Gede di Gelaralam. “Suasana saat ngalalakon itu sungguh dramatis,” ungkap Ki Sodong.
Berikut daftar Ngalalakon Kasepuhan Ciptagelar:
- Cipatat Urug (1368-1556);
- Pasir Gombong (1556-1729);
- Ciear, Cimanaul, Bongkok, Cibeber, Pasir Talaga, Lebak Larang, Lebak Binong (1729-1797);
- Pasir Talaga (1797-1832);
- Tegal Lumbu (1832-1895);
- Cicadas, Bojongcisono (1895-1937);
- Cicemet, Sirnaresmi (1937-1972);
- Sirnarasa (1972-1980);
- Linggarjati (1980-1984);
- Ciptarasa (1984-2000);
- Ciptagelar (2001-2022);
- Gelar Alam (2022- sampai sekarang (bersambung)
baca juga:
-
Cyling2 tahun agoSeveral of Our Belongings Were Stolen in Iran
-
Perjalanan3 tahun agoCatatan Royke Lumowa (8): Tiba di Bangkok Setelah Sebulan Kayuh dari Jakarta
-
Perjalanan3 tahun agoRoyke Lumowa Gowes Jakarta-Paris demi Bumi Sehat
-
Cyling1 tahun agoTerpanggil Menyusuri Waduk Jatiluhur
-
Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris3 tahun agoRoyke Lumowa, Doktor Gunung Botak
-
Humaniora3 bulan agoJelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi
-
Perjalanan2 tahun agoCatatan Royke Lumowa: Saya Tuntaskan Bersepeda Jakarta-Paris
-
Perjalanan2 tahun agoCatatan Royke Lumowa (14): Pekan Paling Bahagia di Tibet
